Di sebuah sekolah menengah yang penuh dengan kisah remaja, ada seorang gadis bernama Victoria. Rambutnya panjang berkilau seperti sinar mentari pagi, dan senyumnya selalu membuat siapapun yang melihatnya merasa hangat. Ia dikenal sebagai salah satu siswi paling cerdas dan ramah di sekolah, yang dengan mudah membuat semua orang menyukainya.
Di sisi lain, ada Alveno, seorang siswa pendiam yang lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan dibandingkan di kantin atau lapangan basket. Alveno bukan tipe anak populer, tapi dia punya hati yang besar dan kecerdasan yang luar biasa. Meski begitu, hanya satu hal yang terus mengganggu pikirannya akhir-akhir ini—Victoria.
Sudah sejak awal tahun ajaran Alveno diam-diam menyukai Victoria. Bukan hanya karena penampilannya, tetapi karena kepribadiannya yang ceria dan perhatian pada semua orang. Namun, setiap kali Victoria lewat di dekatnya, Alveno hanya mampu menundukkan kepala, berusaha menutupi rasa gugup yang meluap di dadanya.
Suatu hari, Alveno sedang duduk di bangku taman belakang sekolah, membaca novel favoritnya. Tiba-tiba, suara lembut menyapanya.
"Alveno, ya?"
Ia mendongak dan terkejut melihat Victoria berdiri di hadapannya. Jantungnya langsung berdegup kencang.
"Iya... Ada apa?" jawab Alveno dengan suara bergetar.
"Aku lihat kamu sering di sini. Aku penasaran, kamu lagi baca apa?" Victoria menunjuk buku di tangan Alveno.
"Oh, ini... cuma novel biasa," jawabnya sambil menunjukkan sampul bukunya.
Victoria tersenyum. "Aku juga suka baca. Tapi jarang ada waktu. Kamu punya rekomendasi?"
Percakapan kecil itu menjadi awal dari pertemanan mereka. Meski Alveno masih merasa canggung, dia mulai menikmati waktu-waktunya bersama Victoria. Setiap kali mereka berbicara, ia merasa dunia menjadi lebih cerah.
Namun, Alveno tahu perasaannya hanya bisa ia simpan sendiri. Victoria terlalu sempurna baginya, sementara ia hanyalah seorang siswa biasa yang nyaris tak terlihat.
Pada suatu hari, sekolah mengadakan festival seni. Alveno memutuskan untuk ikut dalam pameran menulis puisi, meski ia ragu. Di malam terakhir sebelum festival, ia menulis sebuah puisi tentang seorang gadis yang ia kagumi diam-diam, menggambarkan senyumnya yang seperti pelangi dan semangatnya yang seperti api kecil yang hangat.
Puisi itu memenangkan penghargaan, dan saat nama Alveno diumumkan, ia berjalan ke panggung dengan gugup. Tepuk tangan riuh terdengar, termasuk dari Victoria, yang terlihat lebih bersemangat daripada siapapun di ruangan itu.
Setelah acara selesai, Victoria menghampirinya.
"Puisi itu... tentang aku, ya?" tanyanya dengan senyum yang lembut.
Alveno tertegun, wajahnya memerah. "Aku... maaf kalau itu membuatmu tidak nyaman."
Victoria menggeleng. "Tidak, aku suka. Dan aku senang akhirnya kamu berani menunjukkan perasaanmu."
Hari itu, untuk pertama kalinya, Alveno merasa dunia berpihak padanya. Victoria tidak hanya menghargai keberaniannya, tapi juga menganggapnya sebagai seseorang yang istimewa.
Dan sejak saat itu, lorong sekolah tidak lagi terasa sunyi bagi Alveno. Sebab, ada Victoria yang selalu menyapanya dengan senyum hangat, membuat hari-harinya lebih berwarna.