Di suatu pagi yang cerah, Kancil sedang berjalan di tepi sungai untuk mencari buah-buahan. Tiba-tiba, ia mendengar suara gemericik air yang aneh. Ketika mendekat, ia melihat Buaya besar dengan tubuh terjepit di antara dua batu besar.
“Wahai Kancil, tolong aku! Aku terjebak di sini dan tidak bisa keluar,” rengek Buaya dengan nada memelas.
Kancil, yang terkenal cerdik, berpikir sejenak. "Kalau aku menolong Buaya, mungkin dia akan memakanku," gumamnya dalam hati. Namun, ia pura-pura tersenyum dan berkata, "Baiklah, aku akan membantumu, tapi kamu harus berjanji tidak akan memakan aku."
Buaya mengangguk cepat. "Aku janji, Kancil. Tolonglah aku!"
Kancil mengangkat kayu panjang dan memanfaatkan kekuatannya untuk menyingkirkan batu-batu yang menjepit Buaya. Setelah beberapa saat, Buaya pun bebas.
Namun, begitu ia bebas, Buaya menyeringai. “Terima kasih, Kancil. Tapi aku lapar, dan kamu terlihat sangat lezat!”
Kancil mundur dengan cepat. “Tunggu dulu, Buaya! Sebelum kamu memakan aku, bukankah kita harus bertanya pada makhluk lain apakah itu adil? Lagipula, aku baru saja menyelamatkanmu!”
Buaya berpikir. “Baiklah, kita akan bertanya.”
Kancil membawa Buaya ke seekor Burung Elang yang sedang bertengger di pohon. Kancil menjelaskan situasinya. “Menurutmu, apakah Buaya seharusnya memakan aku setelah aku menyelamatkannya?”
Elang berpikir sebentar, lalu berkata, “Aku tidak yakin. Bisakah kalian menunjukkan bagaimana keadaannya sebelum Kancil menolongmu? Aku ingin melihat sendiri.”
Tanpa berpikir panjang, Buaya kembali ke posisi semula di antara batu-batu besar. Ketika ia sudah terjepit lagi, Elang berkicau, “Sekarang, Kancil, pergilah sebelum Buaya bebas lagi!”
Kancil tertawa kecil dan melarikan diri ke dalam hutan. “Terima kasih, Elang! Inilah pelajaran untukmu, Buaya. Jangan pernah mengkhianati kebaikan!” katanya sebelum menghilang.
Buaya hanya bisa menggeram kesal, terjebak di sana sampai waktu yang lama.
---
Pesan moral: Jangan mengkhianati kebaikan orang lain, atau keburukan itu akan kembali kepadamu.