Senja berwarna merah darah menyelimuti pemakaman ketika jenazah Pak Darma dikebumikan. Hujan rintik-rintik menambah suasana muram di sekitar liang lahat. Pak Darma adalah seorang kaya raya yang semasa hidupnya dikenal kikir dan kejam. Ia tak pernah sekalipun bersedekah, bahkan sering merampas hak para pekerjanya. Warga desa hanya menghadiri pemakamannya karena rasa hormat, bukan karena cinta.
Ketika tanah terakhir ditaburkan, suara gemuruh terdengar dari kejauhan. Warga saling berpandangan, merasa ada sesuatu yang tidak beres, tapi mereka memilih untuk segera pulang sebelum malam tiba.
Di alam barzakh, Pak Darma terbangun dalam kegelapan pekat. Ia bingung. Tubuhnya terasa dingin dan berat, seolah ada ribuan batu menghimpitnya. Ia meraba-raba sekitarnya, hanya untuk menemukan dirinya terkubur dalam tanah. Jantungnya berdegup kencang, dan ia mulai menjerit, "Tolong! Ada orang di sini!"
Namun, jeritannya tidak menghasilkan apa-apa kecuali gema sunyi yang mengerikan. Tiba-tiba, sebuah suara berat menggema, seperti gemuruh petir yang datang dari segala arah.
"Pak Darma... Kau tahu kenapa kau ada di sini?"
Pak Darma terdiam, tubuhnya gemetar. "Si... siapa itu?" tanyanya terbata-bata.
Dua sosok besar muncul di hadapannya. Tubuh mereka hitam legam, dengan mata bersinar merah seperti bara api. Sayap besar menjuntai di belakang mereka, dan di tangan mereka tergenggam gada besar berujung tajam. Mereka adalah Malaikat Munkar dan Nakir.
"Kami datang untuk bertanya," salah satu dari mereka berbicara, suaranya bergema di seluruh liang lahat. "Siapa Tuhanmu?"
Pak Darma mencoba menjawab, tapi suaranya terhenti. Lidahnya terasa kaku, seperti ada batu besar yang menghimpit mulutnya. Ia hanya mampu tergagap, "Aku... aku tidak tahu..."
"Apa agamamu?" tanya malaikat yang lain, mendekatkan wajahnya yang menyeramkan.
Pak Darma berkeringat dingin. "Islam," jawabnya lemah. Tapi kedua malaikat itu tertawa keras, tawa yang membuat tanah bergetar.
"Kau mengaku Islam? Tapi hidupmu penuh dosa. Kau tidak pernah salat, tidak pernah zakat. Kau hidup dengan menindas orang lain. Harta harammu menjadi saksi atas keburukanmu!"
Tiba-tiba, tanah di bawah Pak Darma terbelah. Ia jatuh ke dalam kegelapan yang lebih dalam. Di sana, ia melihat tubuh-tubuh yang terbakar api, tangan-tangan berdarah yang mencakar dinding tanah, dan jeritan kesakitan yang memekakkan telinga.
Pak Darma berusaha memanjat, tapi tangan-tangan itu menariknya lebih dalam. Tubuhnya terasa terbakar meski api belum menyentuhnya. Dari kejauhan, ia melihat sosok-sosok menyeramkan berjalan mendekat. Tubuh mereka cacat, dengan wajah yang menganga seperti tengkorak.
"Ini adalah dosa-dosamu," bisik salah satu makhluk itu sambil mendekatkan wajahnya. "Setiap orang yang kau sakiti, setiap hak yang kau rampas, mereka semua ada di sini untuk menagih balasan."
Pak Darma menjerit sekuat tenaga, tetapi suaranya hilang ditelan jeritan lain yang lebih nyaring. Tubuhnya terus disiksa, dicakar, dan dilempar ke dalam api yang menyala-nyala. Ia memohon ampunan, tapi hanya suara tawa menyeramkan yang menjawab.
Sementara itu, di dunia, makam Pak Darma terlihat tenang di siang hari. Namun, ketika malam tiba, penduduk sekitar mendengar suara jeritan dan tangisan yang keluar dari dalam tanah. Beberapa orang mengaku melihat bayangan hitam melayang di atas makam itu, seolah menandakan ada sesuatu yang tidak bisa pergi.
Desa itu pun menjadi terkenal sebagai tempat yang angker, dan tak ada yang berani melewati makam Pak Darma setelah gelap. Namun, bagi Pak Darma sendiri, siksaan itu baru saja dimulai. Dan ia tahu, penderitaannya di liang lahat hanya awal dari azab yang lebih besar.
Cerita ini mengajarkan kita bahwa:.. kita harus senantiasa berbuat baik karena kita tidak tahu sampai kapan bisa hidup di dunia ini nanti menyesal jika kematian menjemput dan belum bertobat 🙏
Kalau mau di lanjutkan ke episode selanjutnya mohon beritahu saya 🙏