Naga Basuki adalah naga air yang ada di Bali dan menjadi asal usul selat Bali. Naga Basuki digambarkan berwarna kuning dengan mahkota emas dengan berlian diatasnya naga basuki juga dikenal sebagai jelmaan dalam agama hindu bali dan sebagai ular milik dewa siwa.
Dalam cerita rakyat khususnya bali Naga Basuki swjalan dengan cerita selat bali yang dimana Sidi Mantra menemui naga tersebut di gunung agung untuk meminta perhiasan berlian dari sisiknya yang disebut nagamani.
Di suatu daerah pada pulau dewata terdapat gua yang bernama gua luwuh yang berwujud seoerti gua namun dipercayai sebagai tempat persemayam naga basuki. Gua Lawah pun punya korelasi dengan pura Lawah yang terletak di kaki gunung agung tempat naga basuki diceritakan dalam cerita rakyat bali. Pura Lawah sendiri merupakan pura yang menjadi pusat atau ibu pura dari semua pura yang ada dibali.
Seperti yang digambarkan yang dilontarkan prakempa gunung agung, Kawah Gua Lawah digambarkan sebagai kepala Naga Basuki dan Pura Lawah disepanjang kompleksnya adalah ekornya.
Mitos menunjukkan tak hanya itu, prosesi berlanjut pada upacara ngaben dan para pengurus pura mengatakan setelah upacara para umat hindu bersembahyang di gua Lawah dan dilanjutkan bersembahyang di Pura Lawah sebagai bentuk rasa syukur atas terlaksana nya upacara ngaben.
Selat Bali, Manik Angkeran dan Naga Basuki
Dahulu kala di Jawa Timur, hidup seorang Brahmana yang sangat sakti bernama Sidi Mantra. Brahmana tersebut memiliki seorang anak laki-laki bernama Manik Angkeran, namun anaknya tersebut sangat gemar berjudi. Kegemarannya yang buruk itu tentunya tidak membuahkan hasil yang ada hanyalah kerugian, hingga ia selalu kalah berjudi dan dikejar-kejar penagih hutang. Sidi Mantra pun kasihan melihat putranya terlebih itu ia sangat menyayanginya, Sidi Mantra pun bertapa ke Gunung Agung untuk meminta bantuan kepada Naga Besakih yang tinggal di Gunung Agung.
Ia memukul-mukul genta yang dibawanya sambil membaca mantra-mantra hingga sang Naga keluar dari sarangnya. Ketika sang naga telah keluar, Sidi Mantra menceritakan kondisi anaknya dan meminta bantuan pada sang Naga. Naga Besakih pun merasa iba pada Sidi Mantra, ia pun bersedia membantunya dengan memberikan emas dan intan dari sisik-sisik di yang terdapat di ekornya. Namun ia berpesan kepada Sidi Mantra untuk menasihati anaknya agar berhenti berjudi.
Sesampainya di rumah, Sidi Mantra pun memberikan semua emas dan intan pada Manik Angkeran semua untuk membayar hutang – hutangnya sambil menasehatinya untuk tidak berjudi lagi. Namun, nasehat tersebut tidak di dengarkan, Manik Angkeran kembali berjudi dan terlilit hutang yang besar. Manik Angkera kembali meminta bantuan pada ayahnya, karena kecewa sang ayah menolak permintaan anaknya tersebut. Manik Angkeran pun putus asa, yang akhirnya ia nekat mengambil genta Sidi Mantra dan pergi ke Gunung Agung, setelah mengetahui tentang Naga yang tinggal di gunung tersebut.
Sesampainya di Gunung Agung, ia pun langsung memukul-mukul genta hingga sang Naga keluar. Manik Angkeran terkejut melihat sosok naga yang sangat besar di hadapannya. Naga Besakih yang langsung mengenali Manik Angkeran pun marah karena mengetahui ia mencuri genta ayahnya. Namun hatinya luluh saat mendengar cerita Manik Angkeran, dan karena masih memandang persahabatannya dengan Sidi Mantra, Naga Besakih akhirnya bersedia membantu Manik Angkeran. Naga Besakih kembali ke sarangnya untuk mengambil emas dan intan untuk diberikan padanya. Saat berbalik ke sarang, Manik Angkeran melihat bagian ekor Naga Besakih yang dipenuhi dengan emas dan intan. Ia pun tergiur hingga buta oleh rasa tamak, ia pun melakukan hal licik dengan memotong ekor Naga Besakih dengan cepat dan segera melarikan diri. Naga Besakih yang kesakitan dan marah pun mengejar Manik Angkeran. Naga Besakih pun kemudian menyemburkan api ke arah dimana Manik Angkeran melarikan diri, api itu pun kemudian ikut membakar tubuh Manik Angkeran hingga menjadi abu.
Sidi Mantra menyadari anaknya hilang kemudian mencarinya hingga akhirnya ia menemukan genta miliknya di depan sarang Naga Besakih. Ketika sang ayah mengetahui anaknya telah menjadi abu, ia pun memohon kepada Naga Besakih agar anaknya bisa dihidupkan kembali. Naga Besakih bersedia menghidupkan kembali anaknya, namun dengan syarat, Sidi Mantra harus bisa menyambungkan kembali ekornya yang terputus. Sidi Mantra pun menyanggupi syarat tersebut. Dengan kesaktiannya, Sidi Mantra berhasil menyambungkan ekor sang naga, dan Naga Besakih pun menghidupkan kembali Manik Angkeran. Manik Angkeran berjanji untuk bertobat dan mengubah dirinya menjadi lebih baik.
Meski telah dihidupkan kembali namun, Sidi Mantra merasa bahwa Manik Angkeran dan dirinya tidak bisa lagi tinggal bersama. Ia pun menyuruh Manik Angkeran untuk tetap tinggal dan mengabdi di Gunung Agung. Pada saat perjalanan pulang, Sidi Mantra pun menancapkan tongkatnya dan membaca mantra yang membuat air naik dan memenuhi daerah tersebut hingga akhirnya terbentuk selat Bali yang memisahkan antara pulau Bali dan pulau Jawa.