Di sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota, hidup seorang anak laki-laki bernama Rafi. Usianya baru menginjak sepuluh tahun, namun kehidupan yang harus dijalaninya sudah jauh dari kesenangan. Ibunya, Ibu Maya, bekerja keras setiap hari sebagai penjaga toko kelontong, sementara ayahnya, Pak Joko, telah tiada sejak Rafi masih balita.
Sejak kecil, Rafi selalu mendengar cerita-cerita tentang ayahnya. Ibu Maya sering menceritakan bagaimana dulu Pak Joko adalah seorang pria yang baik hati, pekerja keras, dan sangat mencintai keluarganya. Namun, takdir berkata lain. Pak Joko meninggal karena sebuah kecelakaan yang tak terduga. Rafi hanya memiliki potret ayahnya yang tergantung di dinding ruang tamu sebagai kenangan satu-satunya.
Suatu hari, ketika ia sedang duduk di beranda rumah, Rafi bertanya kepada ibunya, "Ibu, jika dunia tanpa ayah, apa yang akan terjadi?"
Ibu Maya terdiam sejenak. Pandangannya jauh, seperti sedang mengingat kenangan yang telah lama terkubur. "Rafi, dunia tanpa ayah adalah dunia yang penuh dengan kehilangan. Tetapi meskipun begitu, kita tetap harus berjalan. Kita tetap harus berjuang."
Rafi merenung. Ia tahu, meskipun ibu selalu berusaha memberi yang terbaik, ada banyak hal yang ia rasakan hilang dalam hidupnya. Setiap kali ada anak-anak di sekolah yang pulang dijemput ayah mereka, Rafi merasa ada ruang kosong yang tak bisa diisi oleh siapapun. Ia merasa bahwa dunia ini lebih cerah bagi mereka yang memiliki ayah, sementara dirinya hanya memiliki ibu yang penuh kasih sayang, namun ia merindukan kehadiran sosok yang lebih kuat, yang bisa memberinya rasa aman dan perlindungan.
Pada suatu sore, saat hujan turun dengan lebat, Rafi melihat teman-temannya bermain bola di halaman sekolah. Mereka tampak ceria, sementara Rafi hanya bisa memandang dari kejauhan. Di tengah-tengah permainan, salah satu temannya, Dito, jatuh dan terluka. Ayah Dito yang kebetulan berada di dekat sekolah segera berlari menuju anaknya. Dengan sigap, ia menggendong Dito ke rumah sakit.
Melihat kejadian itu, hati Rafi terasa perih. Ia ingin sekali ada yang menggendongnya seperti itu, membawa pergi ke tempat yang aman, tempat di mana tak ada yang perlu ia takutkan. Rafi bertanya-tanya dalam hati, "Apa jadinya jika dunia ini tanpa ayah? Mungkinkah aku akan merasa lebih kuat?"
Setelah kejadian itu, Rafi semakin sering bertanya-tanya tentang ayahnya. Ia merindukan kehadirannya, meskipun tak pernah benar-benar mengenalnya. Ia pun mulai lebih dekat dengan ibu, mencari kenyamanan dalam pelukan dan kata-kata ibunya yang selalu menenangkan.
Suatu hari, saat ibu sedang sibuk bekerja di toko kelontong, Rafi berjalan-jalan di sekitar desa. Ia melihat seorang lelaki tua yang sedang duduk di bangku taman, seorang kakek yang selalu menyapa anak-anak di sekitar desa dengan senyum ramah. Rafi mendekat dan mulai berbicara dengannya.
"Kakek, kenapa kamu selalu duduk di sini?" tanya Rafi.
Kakek itu tersenyum. "Aku menunggu anak-anakku, cucu-cucuku. Mereka datang setiap sore untuk berbicara denganku. Mereka semua sibuk, tetapi aku selalu berusaha untuk ada di sini, agar mereka tahu aku masih peduli."
Rafi terdiam, mengingatkan dirinya pada ayah yang tak pernah bisa ia rasakan. "Apa kakek pernah merasa sendirian?" tanya Rafi, matanya berkaca-kaca.
Kakek itu mengangguk pelan. "Tentu saja. Tapi hidup ini seperti itu, Rafi. Kadang kita merasa sendirian, tetapi kita bisa memilih untuk tetap berdiri, untuk tetap memberi kasih sayang kepada orang lain. Jika dunia terasa berat tanpa seorang ayah, cobalah untuk menjadi sosok yang kuat bagi dirimu sendiri. Kamu akan terkejut melihat betapa banyak cinta yang ada di sekitar kamu."
Kata-kata kakek itu menyentuh hati Rafi. Ia sadar bahwa meskipun dunia tanpa ayah terasa sepi, ia masih memiliki banyak hal yang patut disyukuri. Ibunya yang penuh kasih, teman-teman yang selalu ada, dan lingkungan yang mendukung.
Hari-hari berlalu, dan Rafi tumbuh menjadi anak yang lebih kuat. Ia tidak lagi merasa terlalu kesepian meskipun tanpa ayah di sisinya. Setiap kali ia merasa rindu, ia mengingat kata-kata kakek yang bijak: "Jadilah sosok yang kuat, karena cinta ada di mana-mana, hanya perlu kita temukan."
Suatu hari, saat Rafi beranjak remaja, ia menemui ibunya dengan mata berbinar. "Ibu," katanya, "aku tahu apa yang aku inginkan sekarang. Aku ingin jadi seperti ayah dalam cerita-cerita yang ibu ceritakan. Aku ingin menjadi orang yang bisa melindungi, mengasihi, dan memberikan yang terbaik untuk orang yang aku cintai."
Ibu Maya tersenyum penuh haru, "Kamu sudah menjadi seperti ayahmu, Rafi. Kamu sudah lebih dari cukup."
Dan Rafi pun tahu, meskipun dunia tanpa ayah terasa berat, ia bisa menjadi versi terbaik dari dirinya, dan dengan begitu, ia bisa membawa cinta dan kebahagiaan ke dunia ini, sama seperti yang dilakukan ayahnya dulu.