Rania tak pernah lupa senja di kafe pinggir pantai itu. Warna oranye yang menyapu cakrawala adalah saksi saat seorang pria asing mendekatinya dengan senyum penuh percaya diri. "Boleh duduk di sini?" katanya sambil menunjuk kursi di seberangnya.
Ia adalah Arka, seorang pengusaha muda yang singgah di kota kecil Rania untuk mencari kedamaian. Bagi Rania, yang saat itu hanya seorang pelayan sederhana, Arka bagaikan badai yang membawa warna baru dalam hidupnya. Kehadiran pria itu mengubah hari-harinya yang sunyi menjadi penuh tawa, mimpi, dan harapan.
Namun, badai itu juga membawa kehancuran. Tanpa peringatan, Arka menghilang dari hidup Rania. Tak ada pesan, tak ada alasan. Hanya keheningan yang menyisakan luka. Seminggu setelah kepergiannya, seorang wanita asing datang ke kafe tempat Rania bekerja. Wanita itu menyerahkan amplop berisi foto-foto Arka tengah menggandeng wanita lain di sebuah pesta mewah.
"Dia tidak pernah serius," ucap wanita itu, nadanya tajam namun puas.
Hati Rania yang sebelumnya hancur berubah menjadi bara. Ia bersumpah tak akan membiarkan dirinya menjadi korban selamanya.
Tiga Tahun Kemudian
Langit senja masih menjadi favorit Rania, tapi ia bukan lagi perempuan yang sama. Kini, ia adalah pemilik jaringan kafe terkenal yang mendominasi kota-kota besar. Kehidupannya berubah drastis, bukan karena kemewahan, tetapi karena kekuatan yang ia temukan dalam dirinya setelah pengkhianatan itu.
Di sebuah acara peluncuran bisnis, Rania bertemu lagi dengan Arka. Pria itu tampak berbeda—wajahnya tak lagi penuh percaya diri seperti dulu. Ketika matanya bertemu dengan Rania, ia berjalan mendekat.
"Rania... aku hampir tak mengenalmu," katanya dengan nada terkejut. "Kamu berubah."
Rania tersenyum tipis. "Semua orang berubah, Arka. Hanya saja, tidak semua perubahan menyenangkan."
Arka mencoba menjelaskan. Ia bercerita tentang perjodohan yang dipaksakan oleh keluarganya, tentang alasan mengapa ia meninggalkan Rania tanpa penjelasan. "Aku menyesal," ucapnya dengan suara bergetar. "Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
Rania menatapnya tanpa emosi. "Kamu pikir setelah semua yang terjadi, aku masih punya ruang untuk memaafkan?"
Namun, Arka tidak menyerah. Ia mencoba membuktikan kesungguhannya—membantu proyek Rania, mendekati keluarganya, dan meminta maaf dengan cara yang tak pernah ia lakukan pada siapa pun sebelumnya. Lambat laun, Rania mulai merasakan retakan kecil di benteng yang ia bangun selama bertahun-tahun.
Panggung Balas Dendam
Di sebuah malam peluncuran kafe barunya, Rania berdiri di atas panggung, mengenakan gaun hitam elegan. Di hadapan para tamu undangan, ia berbicara dengan tenang.
"Hidup saya berubah drastis beberapa tahun terakhir. Ada seseorang yang tanpa sadar membantu saya menemukan kekuatan terbesar dalam diri saya. Seseorang yang mengajarkan saya bahwa sakit hati bukan akhir dari segalanya."
Ia berhenti sejenak, menatap Arka yang berdiri di tengah kerumunan. "Pria itu ada di sini malam ini. Arka, terima kasih atas pelajaran berhargamu."
Ruangan hening. Wajah Arka memucat. Semua mata tertuju padanya, dan Rania melanjutkan, "Tapi, pelajaran itu juga membuat saya sadar. Saya tidak butuh orang seperti kamu di hidup saya lagi."
Setelah mengucapkan kalimat terakhir itu, Rania turun dari panggung dengan langkah mantap, meninggalkan Arka yang terpaku.
Akhir yang Melegakan
Di tepi pantai tempat segalanya dimulai, Rania berdiri menatap senja. Angin laut menyapu rambutnya, membawa rasa lega yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia menyadari, dendam itu bukan untuk menghancurkan orang lain, tetapi untuk membebaskan dirinya sendiri.
Kini, ia bukan lagi Rania yang patah hati, melainkan Rania yang menemukan kekuatan sejatinya.