Bayangan di Balik Jendela
Hujan turun deras malam itu, merendam desa kecil yang dikelilingi hutan. Di ujung desa, berdiri sebuah rumah tua yang hampir dilupakan. Catnya mengelupas, jendelanya buram, seperti mata yang mengintip dari balik kegelapan. Penduduk desa menghindarinya, menyebutnya “Rumah Bayangan.”
Ayu, gadis 14 tahun yang baru pindah ke desa bersama keluarganya, merasa janggal. Malam sebelumnya, dari jendela kamarnya yang menghadap ke rumah itu, ia melihat sesuatu. Bayangan anak kecil, berdiri diam di lantai dua, menatap lurus ke arah kamarnya. Wajahnya kabur, tetapi tubuhnya tak salah lagi—ia ada di sana.
“Ayah, rumah itu ada penghuninya?” tanya Ayu saat sarapan.
Ayahnya meletakkan koran, menatapnya sebentar, lalu menggeleng. “Itu rumah kosong. Jangan dekati, ya? Orang-orang bilang…” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan. “…rumah itu tidak aman.”
Namun, rasa ingin tahu Ayu sudah terlanjur terusik. Larangan hanya membuatnya semakin penasaran. Malam berikutnya, saat keluarganya terlelap, ia menyelinap keluar, membawa senter kecil.
Hujan sudah reda, menyisakan bau tanah basah yang pekat. Ayu berjalan menyusuri jalan berbatu, berhenti di depan pagar besi rumah tua itu. Pagar itu terkunci rapat dengan rantai berkarat, tetapi pintu gerbang kecil di sampingnya terbuka sedikit, seolah mengundangnya masuk.
Di halaman, daun-daun kering dan ranting berserakan. Rumah itu terlihat lebih besar dari dekat, tetapi entah bagaimana, terasa seperti membungkuk ke arahnya, berat dan menekan. Ia melangkah mendekati pintu utama. Anehnya, pintu itu sedikit terbuka, seperti menunggu.
Ketika ia masuk, udara di dalam terasa lembap dan dingin, menusuk tulang. Ruangan itu gelap, hanya diterangi sinar senter Ayu yang bergerak gelisah. Perabotan tua berdebu memenuhi ruangan, dan di dinding tergantung cermin besar yang retak. Dalam keheningan, suara gemerisik kecil terdengar dari atas.
“Siapa di sana?” Ayu berseru, tetapi hanya keheningan yang menjawab. Ia melangkah naik, menaiki tangga kayu yang berderit. Di puncak tangga, ia melihat pintu kamar terbuka sedikit. Ia menyorotkan senternya, dan di dalam, ia melihat seorang anak kecil.
Anak itu duduk di lantai, membelakanginya. Rambutnya hitam, basah, menempel di kulit pucatnya. Baju putihnya tampak kotor, penuh noda.
“Kenapa kau datang?” suara anak itu lembut, hampir seperti bisikan.
Ayu menggigit bibir, mencoba menenangkan debar jantungnya. “Aku melihatmu dari jendela. Kau tinggal di sini?”
Anak itu perlahan menoleh. Wajahnya terlihat sempurna, seperti boneka porselen yang retak di beberapa bagian. Senyumnya samar, tetapi matanya kosong, seperti jurang yang tak berdasar.
“Mereka selalu datang… lalu mereka tidak pernah pergi,” katanya.
Kata-kata itu membuat tengkuk Ayu meremang. Ia mundur selangkah, tetapi anak itu kini berdiri, meskipun kakinya tidak menyentuh lantai.
“Aku hanya ingin bermain,” katanya lagi, suaranya kini terdengar seperti dua suara sekaligus, satu tinggi, satu rendah.
Ayu berbalik, mencoba melarikan diri, tetapi pintu yang tadi terbuka kini tertutup rapat. Ia menarik gagangnya, memukul-mukulnya, tetapi sia-sia. Di belakangnya, suara langkah kecil mendekat.
“Aku tidak ingin sendirian,” bisik anak itu di telinganya.
Ketika Ayu menoleh, wajah anak itu berubah. Matanya kini hitam legam, dan senyumnya melebar hingga ke telinga, memperlihatkan deretan gigi yang tajam. Ayu berteriak, tetapi suaranya tenggelam dalam kegelapan yang tiba-tiba menyelimuti ruangan.
Esok paginya, penduduk desa menemukan senter kecil di halaman rumah tua itu, tetapi Ayu tidak pernah kembali. Sebulan kemudian, seorang anak lain bersumpah melihat dua bayangan berdiri di jendela lantai dua rumah itu. Dua sosok kecil, menatap diam ke luar, tak bergerak, tak bernyawa.