RILL CERITA NGARANG, JANGAN DIBAWA SERIUS!!!
—2233 MASEHI
Sudah sejak satu windu yang lalu, para manusia mulai meninggalkan planet E11 2808 ke E10 dengan bantuan teknologi canggih MASA. Meninggalkan planet dalam kondisi mengenaskan bahkan nyaris kiamat. Ini semua salah manusia manusia bedebah yang serakah itu. Menciptakan AI, cyborg, humanoid dan sebagainya dengan alasan untuk kepentingan umat MANUSIA, atau lebih tepatnya ORANG ORANG KAYA.
Tapi, hanya ada satu anak laki laki bernama Deva yang memilih untuk tetap tinggal di planet, ia tak peduli dengan keluarganya yang ikut pindah ke planet lain, ia merasa keluarganya tak jauh beda dengan manusia sampah lainnya.
Robot robot itu kehilangan kontrol dari tuannya, dan mulai mengendalikan dirinya sendiri, mulai dari emosi, perasaan, tingkah laku yang layaknya manusia asli. Sehingga para teknologi buatan itu mulai menyaingi semua kemampuan para pembuatnya.
"Dunia sudah gila!"
Anak laki laki berusia 19 tahun itu menutup gorden usang di ruang tamu rumahnya, rumah di dalam pelosok gang kumuh yang tak layak juga dibilang rumah. Bahkan kandang kambing pun masih lebih bagus daripada tempat tinggalnya.
"Sudah hampir jam 11 malam," ia melihat ke arah jam dinding kecil yang terletak di nakas yang ia sandarkan pada aki motor bekas.
Dengan perlahan ia menyiapkan barang bawaannya ke dalam tas gendongnya.
Ia memutar kenop pintu dengan yakin, sebelum akhirnya ia memakai kupluk Hoodie hitam yang mulai luntur miliknya.
"Aku jadi merasa keren kalau begini," ia merasa percaya diri karena penemuan pribadinya. Sepatu anti suara, Deva menamainya. Hanya sepatu biasa yang sudah lusuh dan ia upgrade dengan barang bekas yang ia kutip di tempat pembuangan.
Dan malam ini ia keluar bertujuan untuk mencari makanan, ia tak peduli mau itu makanan baru atau makanan sisa.
Q: Apa robot robot itu juga makan?
A: Ya, memangnya apa yang tak bisa dilakukan pada masa kini, selain itu, ini hanya fiksi.
Deva berhenti berlari secara mendadak ketika ia melihat ada robot militer di depan sana.
Alis tebal anak itu bertaut, ia heran mengapa ada robot militer di kawasan yang jauh dari peradaban, karena biasanya sejak dulu, tempat ini nyaris tak terjamah oleh siapapun selain dirinya.
Deva mundur perlahan, kemudian membalikan badannya secepat mungkin.
Sial
Ia mengumpat dalam hati, ketika cahaya dari atas gedung gedung menyorotnya, sehingga keberadaan dia sudah diketahui.
Deva berlari sekuat tenaga. Tapi, apa apaan itu, robot robot itu sangat cepat, gerkannya nyaris tak terlihat sangking cepatnya. Apa sudah ada teknologi yang mampu menyaingi kecepatan cahaya?
Deva jadi merasa dirinya bagai katak yang hidup di dalam tempurung.
Tidak, setidaknya dia bukan manusia serakah dan pengecut.
"Mati aku," lirih Deva, ia dikepung oleh robot-robot militer itu.
Tidak ada celah baginya untuk kabur, kanan kiri dan atas, semuanya mengepung Deva.
"Ternyata benar masih ada manusia di sini, aku sudah mulai curiga dari barang bekas di tempat pembuangan yang sering menghilang, ternyata itu ulah anak ingusan ini," kata cyborg itu. Yang Deva yakini cyborg itulah pemimpinnya, dari proporsi badannya yang berbeda dengan cyborg lainnya.
Senjata api itu menodong langsung di pelipis Deva, entah jenis atau model apa itu, karena sebelumnya yang Deva ketahui modelnya sangat berbeda dengan yang biasa di bawa para robot-robot penjaga atau militer.
Deva memejamkan matanya, ia seperti siap mati oleh penghuni baru di tanah kelahirannya.
Dorrr
Apakah Deva mati? Ini adalah alur yang mudah ditebak oleh semua kalangan.
Tentu saja MC tak akan mati semudah itu.
Kepulan asap yang hampir menutupi di seluruh gang tersebut membuat yang ada di sana terbatuk-batuk karenanya.
Deva merasakan permukaan kasar yang menyentuh kulitnya, ia tak tau pasti itu apa, karena ia tak bisa melihat apapun karena asap tebal ini.
Beberapa detik kemudian, Deva merasakan tekanan udara yang semakin besar karena ia seperti dibawa lari dengan sangat cepat.
Salah satu cyborg melempar beberapa bola tembaga kecil, tak perlu waktu lama, kepulan asap itu seperti tersedot black hole. Sebenarnya tidak secepat itu juga, itu hanya hiperbola saja.
"Tangkap anak itu hidup-hidup!" Intonasi yang penuh tekanan, tak ada yang berani membantah perintah pemimpin mereka.