Aurora membuka matanya perlahan. Udara di sekitarnya terasa hangat, tetapi berbeda dari kehangatan Solara Sanctum. Angin menerpa lembut rambut putihnya, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Inilah dunia manusia—tempat yang selama ini ia tunggu-tunggu.
Dia berdiri di tengah taman kecil dengan pepohonan rindang dan bunga liar yang tumbuh tak beraturan. Gemerisik daun terdengar saat beberapa anak kecil berlarian sambil tertawa riang. Aurora menatap mereka dengan penuh rasa ingin tahu.
"Apa ini kehidupan manusia?" gumamnya, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Sebagai Agathos, Aurora sudah diajarkan banyak tentang manusia—emosi mereka yang rumit, harapan yang mudah goyah, dan bagaimana mereka sering terjebak di antara cahaya dan bayangan. Namun, berada di sini, menyaksikan manusia langsung, terasa jauh lebih hidup daripada apa yang pernah ia pelajari.
Aurora melangkah keluar dari taman, mencoba membiasakan diri dengan lingkungan barunya. Jalanan penuh dengan orang-orang yang sibuk, kendaraan yang melaju cepat, dan suara-suara bising yang asing. Ia merasa seperti butiran cahaya kecil di tengah lautan kehidupan yang bergerak tanpa henti.
Udara di dunia manusia terasa berbeda. Tidak ada aroma lembut bunga Solara, melainkan bau asap dan debu yang bercampur dengan wangi makanan dari berbagai kios di pinggir jalan. Aurora mendongak, berharap melihat langit yang cerah seperti di Agathos, tetapi hanya mendapati awan mendung yang melingkupi kota.
Namun, Aurora tidak membiarkan rasa asing itu menguasai dirinya. Dengan tekad yang kuat, dia mulai berjalan menyusuri trotoar, menyerap semua yang dilihatnya. Sekali lagi ia terpesona oleh keberagaman manusia—orang-orang dengan warna kulit, bahasa, dan ekspresi yang berbeda. Di sisi lain, ia juga melihat wajah-wajah lelah dan penuh kecemasan, sesuatu yang jarang ia temui sebelumnya.
Langkahnya terhenti di depan seorang wanita tua yang duduk di bangku taman, memeluk kantong belanjaan kecil dengan pandangan kosong. Aurora merasakan dorongan kuat untuk membantu.
"Permisi," sapa Aurora dengan lembut.
Wanita itu menoleh, tampak sedikit terkejut. “Ya?”
Aurora tersenyum dan mencoba berbicara dengan penuh kehangatan. “Apakah Anda baik-baik saja?”
Wanita itu terdiam sejenak, kemudian mengangguk pelan. “Ya, aku baik-baik saja, Nak. Hanya... dunia ini semakin berat untukku.”
Aurora merasakan sesuatu yang dalam di hatinya. Inilah mengapa dia ada di sini—untuk membawa cahaya. "Tidak apa-apa," kata Aurora sambil meraih tangan wanita itu dengan lembut. “Setiap beban akan menemukan jalannya untuk berkurang. Anda lebih kuat dari yang Anda pikirkan.”
Wanita itu terdiam sejenak, kemudian matanya mulai berbinar. Senyum kecil muncul di wajahnya, dan Aurora merasakan cahaya dalam dirinya menyala lebih terang. Ia merasa berhasil. Namun, perasaan itu tidak berlangsung lama.
Saat meninggalkan taman, Aurora mulai menyadari bahwa tugasnya di dunia manusia tidak semudah yang ia bayangkan. Membantu satu orang membuatnya bahagia, tetapi ia tidak bisa mengabaikan kenyataan pahit di sekitarnya. Di setiap sudut jalan, ada masalah yang tampak tak terhitung: seorang pria yang duduk di trotoar dengan tangan menengadah, anak-anak kecil berlarian dengan pakaian compang-camping, dan pasangan yang saling berteriak di sisi jalan.
"Bagaimana bisa mereka hidup seperti ini?" gumam Aurora, matanya menyapu pemandangan dengan perasaan campur aduk.
Dia mencoba membantu yang lain—seorang pemuda yang kehilangan pekerjaan, seorang gadis kecil yang menangis mencari ibunya. Tapi semakin banyak ia membantu, semakin ia merasa kecil. Cahaya di dalam dirinya seolah tak cukup untuk menerangi kegelapan yang begitu luas.
Namun, Aurora tidak menyerah. Meski tubuhnya lelah dan kekuatannya terasa menurun, ia percaya bahwa setiap tindakan kecil memiliki dampak.
Tetapi tidak semuanya berjalan mulus. Ketika malam tiba, Aurora menemukan dirinya berada di lingkungan yang lebih gelap dan suram. Ia menyadari ada sisi dunia manusia yang lebih sulit dipahami—tempat di mana bayangan terasa lebih pekat. Dan di sanalah, di sebuah gang sempit dengan lampu remang-remang, Aurora bertemu dengan seorang pria muda yang berdiri di tengah kegelapan.
Mata pria itu bersinar samar, penuh dengan aura misterius yang memancarkan bahaya dan daya tarik yang sulit dijelaskan. Aurora merasakan jantungnya berdebar keras saat pria itu tersenyum kecil.
“Kau bukan dari sini, kan?” suara pria itu dalam dan...penuh teka-teki.
Aurora, yang biasanya percaya diri, justru kehilangan kata-kata. Untuk pertama kalinya, ia merasakan kehadiran yang berbeda. Dan dalam sekejap, ia tahu bahwa pria ini bukan manusia biasa.