Suara Kendang Rampak menghentak diiringi alunan gamelan berirama Ketuk Tilu, ditabuh sekelompok Nayaga dengan penuh semangat membuat suasana pesta di malam bulan purnama di dalam istana Galuh semakin meriah.
Beberapa gadis manis berparas jelita tampak melenggak-lenggok lemah gemulai memperagakan tarian Ketuk Tilu. Tarian yang cukup terkenal pada masa itu.
Semua orang yang menyaksikan tampak terhanyut dalam alunan gamelan yang menghentakkan jantung dan terbuai oleh keindahan gerakan penarinya. Bahkan sampai ada beberapa orang yang melantai ikut Ngibing bersama penari yang cantik-cantik itu.
Pesta yang diadakan di istana tepatnya di ruangan besar yang bernama Bale Gede sebuah ruangan khusus untuk menjamu para tamu kerajaan dan acara-acara khusus seperti Istrenan atau penobatan termasuk juga pesta semacam ini.
Ruangan ini tidak berdinding maupun sekat, hanya ada atap yang berbentuk indah terbuat dari kayu yang ditopang tiang-tiang berjumlah banyak di setiap sisi dan sebagian di tengah ruangan yang juga terbuat dari kayu besar seperti kayu jati.
Ini adalah pesta yang diadakan oleh raja sekaligus pendiri kerajaan Galuh, Prabu Wretikandayun. Sebagai rasa syukur atas kemajuan yang telah dicapai kerajaan Galuh yang baru beberapa tahun berdiri.
Selain untuk para pejabat dalam istana dan kerabat keluarga istana, Prabu Wretikandayun juga mengundang seluruh raja-raja bawahan kekuasaan Galuh dengan maksud agar mereka pun ikut merasakan kesenangan itu.
Prabu Wretikandayun juga memiliki sifat yang rendah hati, tidak membeda-bedakan siapapun dimatanya. Tampak sang prabu dengan pakaian kebesaran raja yang penuh wibawa, ikut berbaur bersama raja-raja bawahannya menikmati suasana yang meriah ini, bahkan tampak sesekali dia bercanda ria, menganggap semua orang seperti teman sepermainannya.
Sehingga para raja bawahan merasa lebih dekat, tidak merasa sungkan yang berlebihan, dan menjadi lebih hormat serta setia kepada Sang Maha Raja yang kedudukannya paling tinggi di Galuh. Hal ini membuat tali persaudaraan di antara mereka semakin erat.
***
Di antara semua orang yang tampak larut dalam kegembiraan, ada satu orang yang sepertinya tidak merasakan hal itu.
Seorang lelaki muda berwajah tampan dan gagah yang di keningnya melingkar sebuah mahkota kecil yang duduknya agak terpisah dari yang lainnya, matanya selalu memandang kearah barisan tempat duduk permaisuri beserta para putri keraton.
Dialah Raden Amara putra bungsu sekaligus calon pewaris tahta Galuh. Sang Putra Mahkota.
Dia tidak tertarik oleh gemulainya para penari, dia tidak tergoda oleh nikmatnya makanan yang dihidangkan, dia juga tidak tergiur oleh manis dan segarnya buah-buahan dan aneka minuman.
Dia lebih tertarik dan memperhatikan seseorang yang duduk disebelah ibundanya yang berada di barisan tempat duduknya para putri keraton. Seorang perempuan yang cantik rupawan berkulit kuning langsat telah memesonakan sang Yuwa Raja, membuat kedua matanya seolah tak mau berkedip, jantung berdetak kencang dan perasaannya tak menentu.
Seorang perempuan yang dijumpainya ketika dalam sebuah perjalanan. Seorang gadis yang kecantikannya bagai bidadari. Membuatnya tak mampu menolak kasmaran yang seketika tumbuh di benaknya. Sehingga dia mabuk kepayang.
Sampai-sampai dia menemani dan mengantarkan si gadis pulang ke rumahnya yang ternyata putri seorang resi. Dyah Pohaci Rababu, nama gadis itu. Bahkan Raden Amara tinggal beberapa hari di sana sebelum melanjutkan perjalanan.
Tapi kenyataan berkata lain, ternyata Pohaci Rababu malah dinikahkan oleh ayahandanya dengan kakak pertamanya Rahyang Sempakwaja.
***
Raden Amara belum juga menolehkan pandangannya. Dia seperti menyelami dalam-dalam kecantikan Pohaci Rababu dari jauh. Seperti tidak ingin melepasnya walaupun dia tahu sekarang gadis anggun yang dijumpai di sungai dulu telah menjadi istri kakaknya. Tapi rasa cintanya kepada Rababu belum hilang.
Sejak pernikahan Rababu dengan kakaknya itu, Raden Amara tidak pernah lagi melihat perempuan pujaan hatinya karena Rababu diboyong oleh suaminya ke tempat tinggalnya yaitu sebuah padepokan sederhana di daerah gunung Galunggung.
Karena Rahyang Sempakwaja, suami Rababu, lebih memilih hidup sebagai seorang Pandhita atau Resi ketimbang mengurusi tugas kenegaraan. Jadi, Rahyang Sempakwaja beserta Pohaci Rababu tidak tinggal di istana.
Akan tetapi rasa cinta Raden Amara yang semakin menggebu-gebu terhadap Rababu membuat dia tidak bisa melupakannya begitu saja. Setiap saat yang ada dalam pikirannya hanyalah Rababu, wajah perempuan rupawan itu selalu terbayang.
Semakin hari semakin bertambah berat rasa rindunya kepada Rababu. Dan dia pun hampir gila. Untung saja dia mendapat akal bagaimana caranya agar dia bisa berjumpa lagi dengan Rababu.
Dalam sebuah pasewakan rutin antara raja dengan para pejabat istana di ruangan yang bernama Bale Mangu. Raden Amara menyampaikan sebuah usul yang sebenarnya hanyalah akal-akalan saja agar dia bisa berjumpa dengan Rababu.
“Ayahanda Prabu,” ucap Raden Amara sambil menjura hormat kepada Prabu Wretikandayun yang duduk di kursi kebesaran raja dengan sikap penuh wibawa. “Bolehkah ananda mengajukan sebuah usul?”
“Apa yang ada di benakmu, Ananda?” balik tanya sang Prabu sambil terenyum. “Sebuah usul, apa itu?”
“Begini ayahanda…” Raden Amara menarik napas sejenak. “Semenjak Galuh memisahkan diri dan berdaulat penuh dari Tarumanagara yang kini berganti nama Sunda. Kerajaan ini mengalami kemajuan yang sangat pesat, bahkan mungkin lebih maju dibandingkan dengan Sunda…” Raden Amara berhenti sejenak untuk menarik napas.
“Lanjutkan, Ananda,” sela Prabu Wretikandayun seraya menyapukan pandangan ke semua orang yang hadir.
“Ada baiknya Ayahanda Prabu serta kita semua yang ada di istana mengadakan acara pesta sebagai rasa syukur kepada Hyang Widi atas kemajuan yang telah kita capai…”
“Oh, bagus, bagus, teruskan Ananda!” ujar sang Prabu. Pejabat yang lain tampak mengangguk-anggukan kepala.
“Kita undang para kerabat yang tinggal di luar istana, juga semua raja-raja bawahan Galuh untuk ikut merayakannya.” lanjut Raden Amara.
Prabu Wretikandayun angguk-angguk.
“Hamba setuju, Gusti Prabu!” ujar salah seorang patih yang bernama Wirantaka. “Usulan Raden Amara sangat bagus untuk mempererat tali persaudaraan antara Gusti Prabu sebagai penguasa dengan raja-raja bawahan. Tentunya agar mereka lebih setia lagi kepada gusti prabu.”
“Baiklah aku juga setuju, Ananda!”
Akhirnya keputusan sang Prabu juga menyetujui usulan putra bungsunya.
Dan acara pesta itu kini sedang berlangsung meriah. Rencana sang Putra Mahkota berjalan dengan lancar apalagi kesempatannya untuk mendekati Rababu semakin terbuka lebar karena Rababu datang sendirian.
Rahyang Sempakwaja dikabarkan sedang sakit jadi tidak bisa menghadiri acara ini. Jadi Rababu datang untuk mewakili suaminya.
Saat malam telah larut, pesta pun usai. Semua orang telah kembali ke peraduannya masing-masing. Untuk para tamu undangan sudah dipersiapkan asrama khusus yang tempatnya di ruangan Puragabaya yaitu yang pada hari-hari biasa menjadi tempat istirahatnya para perwira kerajaan.
Termasuk Kamar untuk istirahat Pohaci Rababu berada di Kaputren yang tempatnya menyatu dengan Bale Bubut yaitu tempat beristirahatnya keluarga raja.
Bale Bubut letaknya di belakang Bale Gede yang dipisahkan oleh Buruan (=halaman) yang menghubungkannya adalah jalan setapak yang lebarnya kurang dari satu tombak terbuat dari batu-batu pipih tersusun rapi dan di pinggirnya tertanam tanaman-tanaman hias berbunga indah sepanjang jalan. Bale Bubut juga berada di tengah-tengah antara Puragabaya dan Istal.
Saat malam yang sepi itulah Raden Amara yang sudah berganti pakaian dengan sebuah jubah pendek tipis berwarna putih menutupi bagian atas tubuhnya, tampak bergerak mengendap-endap menuju kamar Rababu.
Sebelumnya dia memastikan bahwa keadaan cukup aman. Begitu sampai di depan pintu kamar dia melihat damar di dalam kamar masih menyala pertanda bahwa orang di dalamnya belum tidur. Lantas dia langsung mengetuk pintu pelan-pelan namun cukup terdengar oleh orang di dalamnya.
“Siapa?” tanya Rababu dari dalam pelan.
“Aku, Nyai!” jawab Raden Amara.
Begitu mengenali suaranya Rababu membuka pintu. Raden Amara langsung masuk ke dalam dan menutup pintu kembali dengan cepat. Begitu di dalam kedua orang ini saling pandang beberapa saat lamanya.
Seperti mencurahkan kerinduan yang terpendam tanpa kata-kata. Tampak Rababu sudah berganti pakaianya berupa jubah tipis putih panjang menutupi seluruh badannya.
Namun, karena tipis, lekuk tubuhnya dari balik jubah jadi terlihat tembus pandang. Mereka saling manatap lekat penuh makna, dalam hati masing-masing terasa bergejolak besar.
Suasana di kamar itu jadi hening, hanya dua pasang mata saja yang berbicara.
“Kanda Amara.” ucap lirih Rababu membuka percakapan. Ada perasaan takut ada juga senang berjumpa lagi dengan sang pujaan hati.
“Nyai…” balas Raden Amara juga lirih masih menatap lekat kakak iparnya. Bibirnya mendadak kelu untuk bicara. Mungkin belum bisa karena perasaannya bercampur aduk antara rindu dan senang. Sesaat suasana jadi hening lagi.
“Bagaimana kabarmu, Nyai?” tanya Raden Amara setelah bisa menguasai perasaannya. Masih menatap wajah cantiknya Rababu.
“Baik, Kanda…” jawab Rababu juga menatap pemilik wajah tampan itu. Mungkin rasa rindunya belum habis.
”Aku sudah lama merindukan hal ini, Nyai..”
“Begitu juga aku Kanda, ini sangat kebetulan sekali, Kanda Sempakwaja juga sedang sakit..”
“Dengar, Nyai. Sebenarnya aku sudah tahu kalau Kanda sakit, dan acara pesta ini adalah atas usulku kepada Ayahanda Prabu..”
“Apa!” Rababu terkejut tapi perasaannya itu segera hilang begitu melihat Raden Amara tersenyum, sebuah senyum yang memikat karena keluar dari wajah Putra Mahkota yang begitu tampan dan mempesona.
“Jadi Kanda sengaja mengatur semua ini?”
“Ya, hanya untuk bertemu Nyai, aku begitu sangat merindukanmu Nyai..”
“Tapi aku adalah istri kakakmu..”
“Tapi aku tahu isi hatimu Nyai..” suara Raden Amara memelan sambil mendesah dan mendekatkan wajahnya ke wajah Rababu, dekat sekali.
Lalu berbisik lirih. “Lupakan dulu tentang keadaan yang menghalangi kita untuk sementara ini, aku tahu semua ini tabu bagi kita. Adat di negeri kita melarangnya.”
“Maafkan aku,”
“Kenapa harus minta maaf, Nyai?”
“Ketika aku mendapat kabar dari ayahku, bahwa Prabu Wretikandayun akan menjodohkan salah seorang putranya denganku, aku mengira itu adalah Kanda Amara, tapi ternyata…” Rababu tak bisa melanjutkan karena tak kuat menahan isak tangisnya.
Raden Amara mengerti maksud ucapan Rababu, lalu dia menimpali. “Aku juga yang salah, aku terlambat memberitahukan kepada Ayahanda, seandainya…” dia tak melanjutkan ucapannya.
Menarik napas sejenak. Menahan perasaan menyesal yang sangat dalam.
“Seandainya waktu itu aku pulang lebih cepat…” Raden Amara terdiam sejenak. “Seandainya setelah bertemu Nyai di sungai dulu aku tidak melanjutkan perjalanan tapi memberitahu Ayahanda lebih dahulu, seandainya…”
Raden Amara tak bisa melanjutkan perkataanya karena Rababu tiba-tiba menghambur ke dalam pelukannya sambil terisak-isak.
Memeluk erat seperti ingin melepaskan beban berat yang membelenggunya. Ya, rasa cinta kepada raden Amara adalah penderitaannya karena dia sudah bersuami.
Dibandingkan dengan Rahyang Sempakwaja suaminya, jelas Raden Amara lebih gagah dan tampan, karena suaminya hanyalah seorang yang mempunyai cacat di badannya.
Raden Amara tak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia memeluk erat-erat tubuh mulus Rababu. Bukankah ini yang diinginkan dari rencananya mengadakan pesta? Bukankah ini yang sangat diharapkannya, bisa berdekatan dengan sang pujaan hatinya walau sudah menjadi milik orang?
Cinta memang bisa membuat buta segalanya, termasuk buta adat dan aturan, mereka telah lupa bahwa hal itu adalah tabu untuk dilakukan.
Semakin lupa lagi karena nafsunya yang membara, Raden Amara memeluk Rababu erat karena kecintaanya yang sudah melekat lama, dia begitu sangat bernafsu menginginkan kakak iparnya ini, kalaupun tidak bisa memilikinya secara utuh setidaknya untuk malam ini sajalah dia bisa memilikinya.
Begitupun Rababu, dia tidak peduli lagi bahwa dia telah bersuami, semua ini karena perasaan cintanya kepada Raden Amara, pemuda yang datang lebih dulu sebelum dia di jodohkan dengan suaminya sekarang. Dan dia semakin pasrah menikmati keindahan yang sangat tercela ini.
Keindahan tabu!
Bagi Rababu, saat-saat seperti ini tentu sangat dibutuhkannya. Menghabiskan waktu bersama kekasih hatinya. Seseorang yang telah mencuri hatinya pada saat pandangan pertama. Satu hal yang banyak merasuki hati perempuan adalah mengingat, mengenang, membanggakan, bahkan mengharapkan kembali cinta pertamanya.
Dan, dikamar yang temaram itu mereka telah dilanda mabuk asmara terlarang. Tiada seorang pun di istana Galuh yang tahu bahkan sampai prajurit jaga yang setiap malam selalu berkeliling menjaga kemanan juga tidak tahu.
Keterangan : Nirca = Skandal.