Angin sore itu berhembus pelan di sepanjang jalanan kota kecil, menyapu dedaunan kering yang berserakan di trotoar. Di sebuah kafe yang tak jauh dari taman, Ari dan Dinda duduk berhadap-hadapan, duduk dalam kesunyian yang membiarkan detak jantung mereka terdengar lebih jelas daripada suara percakapan di sekitar.
Ari memandang Dinda dengan penuh perhatian. Ada kerutan di dahi Dinda yang seolah menyimpan sejuta pertanyaan. Sebuah kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan, meskipun ia berusaha tersenyum.
“Ari, kenapa sih kita seperti ini?” tanya Dinda tiba-tiba, suaranya pelan namun penuh makna.
Ari menatap Dinda, merasa kata-kata itu menusuk langsung ke dalam hati. Mereka berdua sudah cukup lama saling mengenal, tapi rasanya, belakangan ini, ada jarak yang tumbuh di antara mereka—sebuah jarak yang tak pernah ada sebelumnya. Dinda yang dulu selalu ceria, kini terlihat lebih sering melamun, seakan memikirkan sesuatu yang berat. Sementara Ari, meskipun tak bisa berkata banyak, merasa ada sesuatu yang hilang dari hubungan mereka.
“Apa maksudmu?” Ari akhirnya bertanya, berusaha memecah keheningan yang mulai mengikat mereka.
Dinda menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang hampir tumpah. “Ari, aku merasa seperti... aku bukan prioritas lagi buat kamu. Seperti ada yang berubah, tapi kita tidak pernah membicarakannya.”
Ari terdiam. Kata-kata Dinda seperti sebuah cermin yang memantulkan kenyataan pahit yang selama ini ia coba hindari. Ia merasa ada benar-benar sesuatu yang berbeda di antara mereka. Namun, entah kenapa, ia tak pernah punya cukup keberanian untuk mengungkapkan rasa cemasnya. Ia takut, takut kalau itu akan merusak segalanya.
“Tapi Dinda... kita masih sering ngobrol, masih sering ketemu. Apa kamu nggak merasa itu cukup?” tanya Ari, berusaha mencari alasan.
Dinda menggeleng perlahan. "Itu tidak cukup, Ari. Aku merasa kamu semakin jauh. Kamu lebih sering sibuk dengan pekerjaanmu, dengan teman-temanmu, bahkan dengan... dia."
Dinda menatap Ari dengan tatapan yang penuh makna. Ari bisa merasakan betapa kuatnya perasaan yang terpendam di balik kalimat itu. "Dia"—teman dekat Ari yang sejak beberapa bulan terakhir tampaknya selalu ada di dekat mereka, seolah menjadi bagian dari kehidupan Ari yang tak lagi bisa dipisahkan. Ari merasa seperti ada dua dunia yang kini berdampingan: dunia yang dulu hanya miliknya dan Dinda, dan dunia yang baru saja mulai memasuki kehidupan mereka, dunia yang tak bisa dihindari meskipun ia merasa terjebak di tengah-tengahnya.
Ari merasa seperti di persimpangan jalan, di antara dua pilihan yang sulit. Di satu sisi, ada Dinda, yang selama ini menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Di sisi lain, ada dia, sosok yang hadir dengan cara yang tak terduga, yang semakin lama semakin sulit untuk ia abaikan.
“Aku nggak tahu harus gimana, Dinda,” kata Ari akhirnya, suaranya serak. “Aku merasa terjebak di antara kalian. Aku nggak ingin kehilangan kamu, tapi di sisi lain, aku juga nggak bisa menahan perasaan yang berkembang di antara aku dan dia.”
Dinda terdiam, mematung mendengar pengakuan itu. Air matanya menetes perlahan, menandakan betapa luka itu sudah terlalu dalam. Ia tidak menyalahkan Ari, karena ia tahu, kadang perasaan datang tanpa bisa dikendalikan. Namun, yang paling ia takutkan adalah, apakah perasaan itu akan membuat mereka berdua semakin jauh?
“Ari,” kata Dinda dengan suara gemetar. “Aku nggak bisa terus seperti ini. Aku ingin kamu membuat pilihan. Aku nggak bisa menjadi orang yang selalu menunggu dan berharap tanpa tahu akhirnya. Aku butuh kepastian.”
Ari menunduk, menahan perasaan yang bergolak dalam dadanya. Ia ingin sekali mengatakan bahwa Dinda adalah segalanya baginya, tapi kenyataan berkata lain. Di tengah kebingungannya, ia tahu ada satu hal yang harus ia pilih.
“I’m sorry, Dinda,” kata Ari pelan. “Aku butuh waktu. Aku butuh waktu untuk menemukan jawabannya, untuk menemukan apa yang benar-benar aku inginkan.”
Dinda mengangguk, meskipun hatinya terasa hancur. Ia tahu, tidak ada yang lebih berat daripada menunggu seseorang yang tak tahu apa yang diinginkannya. “Kalau begitu, aku akan pergi. Aku akan memberi kamu waktu.”
Dinda berdiri, melangkah pergi meninggalkan Ari yang terdiam di kursinya. Di antara mereka, hanya ada kesunyian yang semakin menguat. Ari tahu, bahwa dengan keputusan ini, ia mungkin kehilangan Dinda untuk selamanya. Namun, kadang, memilih di antara dua orang yang kita sayangi adalah keputusan yang paling sulit.
Di luar, hujan mulai turun, menyirami kota kecil itu dengan air mata yang seolah mencerminkan kesedihan yang tak terungkapkan. Ari tetap duduk di tempatnya, termenung, menyadari bahwa keputusan yang ia buat akan menentukan arah hidupnya selamanya.