Langit sore itu begitu merah, tanda matahari segera menghilang di balik cakrawala. Di sebuah taman kota, di bangku yang sama seperti hari-hari sebelumnya, Lisa duduk sambil memandang jauh ke depan. Matanya yang bening penuh dengan raut cemas. Sudah beberapa hari ini, perasaan itu terus mengusiknya—perasaan yang tak tahu harus disembunyikan ke mana.
Sejak pertama kali bertemu dengan Dito di acara reuni sekolah, Lisa merasa ada sesuatu yang berbeda. Dito, dengan senyum manisnya, bukan hanya mengingatkan Lisa pada masa-masa indah saat mereka masih bersekolah, tetapi juga membawa kembali kenangan-kenangan yang belum pernah ia rasakan lagi. Perasaan itu, perasaan yang sudah lama terkubur, perlahan muncul kembali.
Namun, ada satu hal yang mengganjal di dalam hatinya. Dito sudah memiliki pacar. Meskipun Lisa tahu itu, dia tak bisa menghindari perasaan yang terus tumbuh. Setiap kali bertemu, mereka berbincang dengan begitu nyaman, seolah tak ada jarak yang memisahkan. Tapi setiap kali Lisa menatap Dito, ia merasakan ada sesuatu yang lebih dari sekadar pertemanan.
Pada suatu hari, Lisa bertemu Dito lagi di taman itu. Dito baru saja selesai berolahraga dan tampak segar dengan kaus olahraga yang sedikit basah karena keringat. Lisa berdiri dan menyapanya dengan senyum canggung. Dito membalas senyum itu, tapi ada tatapan yang berbeda di matanya.
"Lisa, aku... ada yang ingin kubicarakan," kata Dito, agak ragu.
Lisa menatap Dito dengan penuh perhatian. Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara burung yang mulai kembali ke sarangnya.
“Ada apa, Dito?” tanya Lisa pelan.
Dito menarik napas panjang. Ia mengalihkan pandangan, seakan mencari kata-kata yang tepat. “Aku tahu kamu mungkin sudah merasa aneh dengan sikapku belakangan ini. Aku ingin bilang... aku merasa ada sesuatu yang spesial dengan kamu.”
Jantung Lisa berdegup lebih cepat. Apa yang Dito katakan seolah membuat dunia berhenti sejenak. Namun, seiring dengan perasaan bahagia itu, ketakutan pun muncul. "Tapi, kamu sudah punya pacar, kan?" tanya Lisa dengan suara yang hampir berbisik.
Dito menunduk, tampak bingung. “Aku tahu, Lisa. Aku memang punya pacar, dan aku nggak ingin menyakitinya. Tapi perasaan ini... sulit aku bendung. Aku merasa seperti terjebak dalam kebingunganku sendiri.”
Lisa terdiam. Perasaan itu, yang sudah lama ia pendam, kini seperti sebuah ledakan yang tidak bisa ditahan. Namun, ia tahu bahwa hati yang salah arah hanya akan membawa pada kesedihan.
“Aku... aku nggak tahu harus bilang apa, Dito,” kata Lisa dengan suara pelan. “Aku cuma takut, kalau perasaan ini hanya akan menyakiti kita berdua.”
Dito menatap Lisa, dan di sana ada kejujuran yang sangat jelas terlihat. “Aku nggak ingin membuat keputusan yang salah, Lisa. Tapi aku juga nggak ingin kehilangan kesempatan untuk mengejar perasaan ini. Apa yang harus aku lakukan?”
Lisa menundukkan kepala, mencoba mengontrol perasaannya. Rasanya seperti ada dua dunia yang saling bertentangan—satu yang ingin mengikuti kata hati dan satu lagi yang mengingatkan untuk tidak mengabaikan kebenaran. “Mungkin, kita harus memberi waktu pada diri kita sendiri untuk merenung, Dito. Aku nggak ingin jadi alasan kamu membuat keputusan yang bisa merusak hidupmu. Asmara itu bukan sesuatu yang bisa dipaksakan.”
Dito terdiam, seakan menyadari bahwa meskipun asmara itu indah, kadang perlu waktu dan ruang untuk menemukan jalan yang tepat. Dia mengangguk pelan. "Kamu benar, Lisa. Mungkin, aku harus lebih banyak berpikir dan menyelesaikan apa yang seharusnya."
Mereka terdiam, duduk berdampingan di bangku taman itu, meresapi suasana senja yang mulai meredup. Di antara mereka, ada sebuah jarak yang tidak mudah dijelaskan, sebuah perasaan yang tak terungkapkan namun tetap ada. Mungkin, ini adalah waktu yang tepat untuk berhenti sejenak dan memberi ruang bagi hati masing-masing.
Di dalam kesunyian itu, Lisa akhirnya bisa merasakan kelegaan. Mungkin, asmara itu memang tak selalu harus diikuti. Terkadang, yang terbaik adalah memberi ruang bagi perasaan untuk berkembang secara alami, tanpa terburu-buru.
"Oh, asmara," bisik Lisa dalam hati, "kau datang tanpa diduga, namun aku belajar bahwa kadang, yang terbaik adalah melepaskanmu agar kita bisa tumbuh lebih baik."