Pagi itu, langit di kota Jakarta terlihat cerah. Namun, bagi Taufik, hari itu terasa begitu berat. Pekerjaannya di sebuah perusahaan advertising sudah mulai terlihat hambar. Sebagai seorang copywriter, ia merasa ide-idenya terhenti di tengah rutinitas yang monoton. Meski sudah berusaha keras, Taufik merasa terjebak dalam pekerjaan yang tidak memberinya kebahagiaan lagi.
Saat Taufik melangkah ke kantor, ponselnya bergetar. Ada sebuah pesan singkat dari ibunya, “Taufik, ingat, kadang peluang hanya datang sekali. Jangan sia-siakan, ya!” Taufik tersenyum kecil, merasa pesan itu seperti sebuah doa, meski ia tidak terlalu paham maksudnya. Ibu selalu saja mengingatkannya dengan cara yang sederhana, tapi penuh makna.
Setelah beberapa jam menatap layar komputer dan menulis naskah iklan yang terasa hampa, Taufik mendapat telepon dari seorang teman lamanya, Arif. Teman yang sudah lama ia kehilangan kontak, kini tiba-tiba menghubunginya dengan sebuah tawaran yang membuat Taufik terkejut.
“Taufik, aku tahu kamu lagi mencari peluang baru. Ada perusahaan startup yang butuh seseorang seperti kamu. Mereka sedang mengembangkan aplikasi baru, dan butuh seorang kreatif yang bisa membuat konsep iklan yang berbeda. Aku tahu kamu bisa melakukannya. Kamu mau coba?” ujar Arif di ujung telepon.
Taufik terdiam sejenak. Suara Arif membawa kembali kenangan masa lalu ketika mereka bersama-sama merintis mimpinya di dunia kreatif. Namun, ada perasaan ragu yang tiba-tiba muncul. Taufik sudah lama nyaman dengan pekerjaannya saat ini, meski tidak bahagia. Meninggalkan kenyamanan itu untuk mengejar sesuatu yang belum pasti terasa menakutkan.
“Arif, aku... aku nggak tahu. Ini semua terasa cepat,” jawab Taufik, sedikit gamang.
Arif tertawa di seberang sana. “Taufik, hidup itu memang begitu. Terkadang peluang datang di saat yang tak terduga. Kamu nggak akan tahu hasilnya jika nggak mencobanya. Jangan biarkan keraguan menghalangimu. Ini bisa jadi kesempatan yang kamu tunggu-tunggu.”
Taufik menghela napas panjang. Ia menatap layar komputer yang masih menampilkan dokumen iklan yang sama. Tiba-tiba, kalimat ibu kembali terngiang di telinganya. Kadang peluang hanya datang sekali. Taufik merasakan sebuah dorongan dalam dirinya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia ingin mencoba, meski ada ketakutan dalam hatinya.
Setelah mengakhiri telepon dengan Arif, Taufik segera membuka email yang dikirimkan Arif tentang informasi lebih lanjut mengenai perusahaan startup tersebut. Dengan penuh pertimbangan, ia menulis surat lamaran dan mengirimkannya. Meskipun ia tidak tahu apa yang akan terjadi, satu hal yang pasti—Taufik tidak ingin melewatkan peluang ini.
Beberapa minggu kemudian, Taufik menerima kabar bahwa ia diterima di perusahaan baru tersebut. Taufik merasa lega dan bangga. Keputusan untuk mengambil langkah keluar dari zona nyaman ternyata membawa hasil yang lebih baik dari yang ia bayangkan.
Di kantor barunya, Taufik merasa lebih hidup. Setiap ide yang ia lontarkan diterima dengan antusias, dan ia merasa dihargai. Dunia iklan yang dulu terasa membosankan kini menjadi tantangan yang menyenangkan. Taufik tahu, ia telah menemukan kembali semangat yang sempat hilang.
Ia menyadari, kadang hidup memberikan satu peluang yang besar, dan hanya orang-orang yang berani mengambil langkah akan merasakannya. Satu peluang itu mengubah arah hidupnya, dan kini Taufik tahu bahwa kesempatan yang datang dengan penuh keberanian adalah hal yang paling berharga.
Pada suatu malam, setelah pulang kerja, Taufik menulis pesan singkat untuk ibunya. “Ibu, terima kasih sudah selalu mengingatkan aku tentang peluang. Aku akhirnya menemukannya, dan sekarang aku lebih bahagia. Doakan aku, ya.”