Di sebuah desa yang terletak di kaki gunung, ada seorang gadis bernama Ayu. Dia tinggal bersama kedua orang tuanya yang sederhana, menjalani hari-hari dengan penuh rutinitas di ladang dan rumah. Ayu memang bukan tipe gadis yang menarik perhatian banyak orang, namun di hatinya, ia selalu menyimpan mimpi-mimpi yang besar.
Suatu hari, di awal musim panas, datanglah seorang pemuda bernama Danu. Danu adalah anak seorang teman ayah Ayu yang baru saja pulang dari kota setelah lama menuntut ilmu di luar negeri. Dengan rambut hitam berkilau dan mata yang tajam, Danu tampak seperti sosok yang jauh berbeda dari orang-orang yang biasa Ayu temui. Di matanya, Ayu merasa ada sesuatu yang berbeda—sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Pada awalnya, Ayu hanya bisa mengagumi Danu dari jauh. Namun, entah mengapa, setiap kali Danu datang berkunjung ke rumahnya, Ayu merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Dia merasa canggung dan tak tahu harus berkata apa. Tetapi, Danu selalu ramah dan menyapanya dengan senyuman hangat, membuat Ayu merasa semakin kagum.
Suatu sore, ketika Ayu sedang duduk di teras rumah, Danu datang menghampiri. Ia membawa secarik kertas dengan gambar sebuah bunga yang ia gambar sendiri. "Ayu, ini buat kamu," katanya dengan suara lembut.
Ayu terkejut, namun dengan ragu ia menerima kertas tersebut. "Kenapa kamu memberikannya pada aku?" tanya Ayu, masih merasa canggung.
Danu tersenyum, lalu menjawab, "Karena menurutku, kamu seperti bunga yang tumbuh di tengah-tengah ladang, sederhana, namun penuh keindahan yang tak terungkapkan."
Kalimat itu membuat Ayu terdiam. Ia merasa ada sesuatu yang hangat menyelubungi hatinya. Tanpa disadari, hari-hari Ayu menjadi lebih berwarna sejak Danu datang. Mereka sering berbicara, berbagi cerita tentang kehidupan mereka, hingga tanpa sadar Ayu mulai jatuh hati.
Namun, di dalam hatinya, Ayu merasa ragu. Apakah Danu benar-benar menyukainya, atau hanya bersikap baik karena mereka kenal? Ayu tak berani mengungkapkan perasaannya, takut jika ternyata Danu hanya menganggapnya sebagai teman biasa.
Suatu malam, di bawah langit penuh bintang, Danu mengajak Ayu berjalan-jalan di ladang. Di sana, di bawah sinar rembulan, Danu berhenti dan menatap Ayu dengan penuh perhatian. "Ayu," katanya perlahan, "Aku suka padamu. Aku tahu ini mungkin terdengar terburu-buru, tapi aku merasa seperti sudah lama mengenalmu, bahkan sebelum kita bertemu."
Ayu terkejut, jantungnya berdegup kencang. "Kamu... kamu serius?"
Danu mengangguk, "Ya, aku serius. Cinta pertama selalu datang dengan cara yang tak terduga, kan?"
Ayu terdiam, mencoba menyerap semua yang baru saja Danu katakan. Dalam hati, ia merasa lega dan bahagia. Cinta pertamanya ternyata bukan hanya angan-angan belaka. Cinta pertama datang dengan cara yang penuh kejutan dan kehangatan.
Malam itu, mereka berdua duduk di bawah bintang-bintang, menikmati kebersamaan yang baru saja mereka temui, dan Ayu tahu, ini adalah awal dari sebuah cerita indah yang akan terus dikenangnya sepanjang hidup.
Tamat.