Hawa dingin menyusup dari celah pintu yang sedikit terbuka. Dini duduk di tepi ranjang, menatap layar ponselnya yang masih menampilkan percakapan terakhir dengan seseorang yang dulu ia panggil suami.
"Maaf."
Hanya satu kata. Singkat. Dingin.
Dini tertawa pahit. Lima tahun pernikahan mereka berakhir dengan satu kata yang bahkan tak pantas disebut alasan.
Lima tahun bukan waktu yang sebentar. Ia mengingat betul bagaimana mereka memulai semuanya dari nol. Dari kontrakan sempit di pinggir kota, dari motor butut yang sering mogok, dari malam-malam penuh impian yang mereka susun bersama.
Dulu, Arman bukan siapa-siapa. Tapi Dini percaya pada mimpi suaminya. Ia menemani Arman meniti karier, berhemat setiap bulan demi tabungan masa depan, dan mengorbankan mimpinya sendiri agar mereka bisa hidup lebih baik.
Namun, rupanya tidak semua perjalanan berakhir di tempat yang sama.
Sejak Arman mendapatkan promosi dan pekerjaannya mulai stabil, ada sesuatu yang berubah. Pulang malam dengan alasan lembur, ponsel yang tiba-tiba dikunci dengan kata sandi, dan sikapnya yang makin jauh meski mereka tidur di ranjang yang sama.
Dini mencoba menyangkal kecurigaannya. Ia ingin percaya bahwa Arman hanya lelah, bahwa semua ini hanya fase yang akan berlalu.
Sampai akhirnya, Dini tidak sengaja melihat notifikasi di smartwatch Arman yang tertinggal di meja makan. Sebuah pesan dari kontak bernama R muncul di layar:
"Kamu udah bilang ke istrimu? Aku nggak mau terus-terusan jadi bayangan."
Tangan Dini gemetar saat ia membuka chat itu. Percakapan panjang terpampang jelas di sana—janji-janji, kata-kata manis, hingga rencana perjalanan yang mereka susun bersama.
Matanya panas. Bukan hanya karena pengkhianatan itu sendiri, tapi karena betapa mudahnya semua yang ia bangun selama ini dihancurkan dengan beberapa ketikan di layar ponsel.
Malam itu, Arman pulang seperti biasa. Tapi Dini tidak lagi menyambutnya dengan senyuman. Ia hanya menyerahkan smartwatch itu ke tangan suaminya, lalu berbalik pergi.
Arman tidak berkata apa-apa. Tidak ada alasan, tidak ada janji untuk berubah. Hanya satu kata "maaf" yang dikirimnya lewat WhatsApp.
Kini, di kamarnya yang terasa lebih sepi dari sebelumnya, Dini menatap jendela yang selalu ia buka setiap pagi. Tapi hari ini, ia tidak ingin melihat ke luar.
Rumah ini tidak lagi sama. Cinta yang dulu memenuhi dinding-dindingnya telah retak, dan yang tersisa hanya kenangan pahit yang sulit dihapus.
Dini menarik napas panjang. Mungkin ini saatnya ia pergi. Mungkin ini saatnya ia membangun rumah baru—tanpa kebohongan, tanpa pengkhianatan.
Dan mungkin, kali ini, ia akan memastikan ada jendela yang selalu terbuka. Agar ia tidak pernah terjebak dalam kegelapan yang sama lagi.