Aku tidak percaya dengan yang namanya "cinta pada pandangan pertama". Menurutku, cinta itu butuh waktu. Harus ada momen, interaksi, dan mungkin sedikit drama sebelum akhirnya kita benar-benar jatuh. Akan tetapi, semua pemikiranku itu berubah sejak aku duduk di bangku pojok kelas XI IPA 2.
Hari pertama masuk sekolah setelah liburan panjang, aku datang terlambat. Hanya tersisa satu bangku kosong—di pojok belakang, dekat jendela. Aku tidak keberatan. Aku justru menyukainya. Dari sini, aku bisa melihat pohon mangga di luar yang daunnya selalu bergoyang tertiup angin. Namun, ternyata bangku ini sudah "berpenghuni". Bukan, bukan setan atau legenda urban yang sering dibicarakan. Tapi seseorang yang selama ini tidak pernah menarik perhatianku: Raka.
Raka adalah tipikal cowok yang jarang bicara, suka baca buku, dan selalu datang ke sekolah dengan rambut berantakan. Bukan tipe yang biasanya menarik perhatian anak-anak cewek di sekolah, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku ingin tahu lebih banyak.
Awalnya, kami hanya berbagi bangku dengan canggung. Dia membaca bukunya, aku sibuk menulis jurnal. Kami hampir tidak pernah berbicara, kecuali saat pelajaran kelompok. Tapi lama-lama, aku menyadari satu hal: Raka punya kebiasaan unik.
Setiap kali pelajaran membosankan, dia akan mencoret-coret sesuatu di sudut bukunya. Kadang berupa doodle, kadang lirik lagu, kadang puisi pendek. Dan yang lebih mengejutkan, sejak aku duduk di sini, namaku sering muncul di antara coretan-coretannya.
"Apa ini?" tanyaku suatu hari, menunjuk salah satu puisi yang tertulis di bukunya.
Dia terlihat kaget, lalu buru-buru menutup bukunya. "Nggak ada apa-apa."
Aku tertawa. "Serius, Raka? Ini kan namaku."
Dia menghela napas. "Ya… mungkin aku cuma suka menulis sesuatu yang berhubungan dengan apa yang kulihat."
Aku pura-pura berpikir. "Jadi… kamu sering lihat aku?"
Wajahnya memerah, dan saat itu aku tahu—aku salah. Cinta ternyata tidak selalu butuh waktu. Kadang, ia hanya butuh satu bangku pojok, jendela yang terbuka, dan seseorang yang diam-diam memperhatikanmu lebih dari yang kamu kira. Dan aku? Aku mulai menyukai perasaan ini.