Pagi itu, mentari bersinar cerah, menyinari ruang kelas 1 SD Pelita Harapan. Kelas itu kecil, dengan dinding penuh gambar bunga dan burung buatan tangan anak-anak. Namun, yang paling menarik perhatian adalah jendela besar di sisi kiri ruangan. Jendela itu memiliki tirai biru muda yang selalu diikat, sehingga cahaya matahari masuk dengan leluasa.
Rena, seorang murid baru, duduk di bangku dekat jendela. Ia memandangi pohon mangga tua yang menjulang di halaman sekolah. Daun-daunnya bergoyang lembut ditiup angin, dan burung-burung kecil sering bertengger di dahan. Di balik jendela itu, dunia terasa berbeda, penuh keindahan dan misteri.
“Rena, kamu kenapa melamun lagi?” tanya Bu Laila, guru kelas 1 yang ramah.
Rena tersentak dan tersenyum malu. “Maaf, Bu. Saya cuma melihat pohon mangga. Burungnya lucu sekali,” jawabnya.
Bu Laila tersenyum. “Pohon itu memang istimewa. Tapi, coba sekarang fokus ke pelajaran, ya.”
Rena mengangguk, tapi matanya tetap sesekali melirik ke jendela.
Setiap hari, Rena selalu menemukan sesuatu yang baru dari jendela itu. Kadang-kadang ada kupu-kupu warna-warni, atau kucing liar yang melintas perlahan. Namun, suatu hari, ia melihat seorang anak laki-laki berdiri di luar jendela.
Anak itu tampak seusianya, dengan rambut berantakan dan tas kecil di punggung. Ia menatap ke dalam kelas dengan penuh rasa ingin tahu. Tetapi, begitu menyadari Rena memandangnya, ia berlari pergi.
Rena penasaran. “Bu, siapa anak yang tadi di luar jendela?” tanyanya saat istirahat.
Bu Laila mengernyitkan dahi. “Anak? Tidak ada yang tinggal di sekitar sini, Rena. Mungkin kamu hanya salah lihat.”
Namun, keesokan harinya, anak itu muncul lagi. Kali ini, ia melambai kecil ke arah Rena sebelum kembali menghilang. Rena memutuskan untuk menyelidikinya.
Saat jam istirahat, ia berlari ke luar kelas menuju pohon mangga. Namun, anak itu tidak ada di sana. Yang ia temukan hanyalah secarik kertas kecil terselip di antara akar pohon. Di kertas itu tertulis, Aku ingin sekolah seperti kamu.
Hati Rena berdebar. Ia menceritakan temuannya kepada Bu Laila. Sang guru terdiam sesaat, lalu berkata, “Mungkin dia butuh bantuan. Besok, coba ajak dia bicara, ya.”
Hari berikutnya, Rena menunggu dengan sabar di dekat jendela. Ketika anak itu muncul lagi, ia tersenyum dan berkata, “Hai, siapa namamu?”
Anak itu ragu sejenak, lalu menjawab pelan, “Aku Danu.”
“Danu, kenapa kamu tidak masuk ke sekolah?” tanya Rena.
“Aku tidak punya seragam. Ibuku bilang aku harus membantu di rumah,” jawabnya dengan mata tertunduk.
Rena merasa iba. Ia menceritakan semuanya kepada Bu Laila. Ternyata, Danu adalah anak dari keluarga kurang mampu yang tinggal di dekat sekolah. Bu Laila bersama para guru memutuskan untuk membantu.
Beberapa hari kemudian, Danu akhirnya masuk sekolah. Dengan seragam baru dan senyuman malu-malu, ia duduk di bangku yang biasanya kosong. Dari jendela kelas 1, Rena melambai padanya.
Kini, jendela kelas 1 bukan hanya tempat Rena memandangi dunia luar, tapi juga tempat cerita persahabatan dimulai. Pohon mangga tua itu tetap berdiri kokoh, menjadi saksi cerita anak-anak yang terus belajar dan berbagi.