Hujan baru saja reda saat Kayla memasuki kelasnya. Aroma tanah basah masih tercium samar dari jendela yang setengah terbuka. Ia melangkah pelan ke bangkunya di dekat jendela, meletakkan tas, lalu menarik napas panjang. Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, matanya mencari sosok yang selalu menarik perhatiannya.
Arka.
Cowok itu duduk di barisan tengah, sedang berbicara dengan teman-temannya. Suaranya yang berat tapi lembut terdengar samar di telinga Kayla. Ia bukan tipe cowok yang mencolok, tapi bagi Kayla, keberadaannya seperti poros yang membuatnya betah di sekolah.
“Masih suka curi-curi pandang, ya?” bisik Rina, sahabatnya, sambil menyenggol lengan Kayla.
Kayla tersentak, pipinya memanas. “Apaan sih.”
Rina terkekeh, lalu menopang dagu. “Kenapa nggak ngobrol langsung?”
Kayla mendesah. “Dia nggak pernah benar-benar sadar aku ada.”
“Yakin?” Rina menaikkan sebelah alisnya.
Kayla mengangguk pelan. Baginya, Arka seperti bintang—terlihat terang tapi terlalu jauh untuk digapai.
Hari itu, hujan turun saat jam pelajaran terakhir selesai. Kayla berdiri di depan gerbang sekolah, menunggu hujan reda sambil memeluk buku di dadanya. Ia tidak membawa payung, dan jelas tidak ingin pulang dalam keadaan basah kuyup.
“Tunggu hujan reda?”
Kayla menoleh. Jantungnya hampir melompat dari tempatnya saat melihat Arka berdiri di sebelahnya, dengan satu tangan menyelipkan payung di tasnya.
“I-iya,” jawabnya gugup.
Arka mengangguk, lalu membuka payungnya. “Kamu lewat jalan mana?”
Kayla berkedip, bingung. “Eh?”
“Biar aku antar,” katanya santai.
Kayla menelan ludah. Hatinya berdebar kencang. “Aku... aku lewat gang belakang.”
Arka tersenyum kecil, lalu melangkah ke arahnya. “Ayo.”
Dengan langkah ragu, Kayla berjalan di sampingnya. Hujan menetes di sekitar mereka, tapi di bawah payung itu, dunia terasa lebih kecil, lebih hangat.
Untuk pertama kalinya, ia merasa Arka benar-benar melihatnya.
Setelah hari itu, Kayla merasa hubungannya dengan Arka berubah. Mereka tidak langsung menjadi dekat, tapi ada sesuatu di antara mereka yang tidak bisa dijelaskan.
Arka mulai menyapanya saat bertemu di lorong. Kadang, saat pelajaran berlangsung, Kayla bisa merasakan tatapan Arka yang tertuju padanya.
Dan ketika suatu sore ia menemukan selembar kertas terselip di dalam bukunya, dadanya langsung berdebar.
"Aku sadar sejak lama, tapi aku lebih suka melihatmu diam-diam, sama seperti caramu melihatku."
Kayla menggigit bibir, menahan senyum yang hampir tak bisa ia sembunyikan.
Mungkin, Arka bukanlah bintang yang terlalu jauh. Mungkin, ia hanya perlu menyadari bahwa mereka sebenarnya telah saling mencari selama ini.