Hari itu, Nayla dan teman sekelasnya pergi ke sebuah tempat yang jauh dari polusi. Udara yang sejuk dan terdengar air mengalir dari sungai. Disana Nayla menemukan ketenangan hati dan pikiran.
"Ayo kita foto bersama." Ucap Nayla.
Di tempat itu, Nayla dan teman-temannya bercanda tawa juga mengabadikan foto kenangan.
Tak terasa sudah seharian Nayla dan teman-temannya di tempat tersebut. Nayla dan sebagai temannya bergegas pulang lebih dulu, karena sebagian temannya yang lain masih ingin berada di sana.
Di perjalanan pulang, Nayla dan temanya berjalan kaki menuju gerbang loket karena tidak ada kendaraan. Di sepanjang jalan yang di kelilingi pohon tinggi. Membuat suasana menjadi seram.
Baru seperempat jalan mereka sudah dihadang oleh seekor ular kecil. Membuat Nayla dan teman perempuannya ketakutan.
Akhirnya Faris dan Naufal melempar batu ke arah ular itu. Setelah beberapa kali melempar batu, ular itu mati. Dan Faris mengambil ranting pohon yang terjatuh kemudian mengambil ular kemudian ia buang ke semak-semak.
Nayla dan teman-temannya pun melanjutkan perjalanan. Dengan perasaan bahagia mereka akhirnya mereka berjalan di kelilingi oleh kebun teh. Membuat mereka istirahat sebentar juga membeli minum di warung yang ada di sana.
"Teman-teman bagaimana kalau kita lewat jalan pintas?" Ujar Celia.
"Emang ada?" Nayla bertanya.
"Ada, tuh lihat ada orang yang baru saja keluar dari jalan itu." Jawab Celia.
"Yaudah ayok!" Ucap Faris.
"Tapi sebelum jalan, lebih baik kita tanya benar atau tidak ada jalan itu adalah jalan pintas." Ucap Naufal
Akhirnya mereka menanyakannya ke penjaga warung. Dan benar jalan itu jalan pintas.
Mereka pun melewati jalan pintas, dimana mereka memasuki perkebunan teh. Pemandangan yang sangat indah itu membuat mereka takjub, tak lupa mengabadikan foto.
Di tengah perjalanan pohon teh itu semakin tinggi begitupun dengan rumput liarnya. Mereka terus berjalan mengikuti arah jalan, tapi tiba-tiba ada dua jalan yang membuat mereka bingung.
"Kita harus lewat yang mana, lurus atau belok kanan?" Tanya Syifa yang jalan di depan.
"Sepertinya belok ke kanan," Jawab Faris. "Biarkan aku jalan lebih dulu." Lanjutnya.
Faris pun jalan lebih dulu dan memilih belok kanan di ikuti Syifa, Celia, Nayla, Risna, dan Naufal. Tapi ternyata jalan itu jalan buntu. Yang akhirnya membuat mereka balik ke tempat tadi dan memilih jalan luru.
Tapi karena jalan yang tertutup rumput liar yang tinggi membuat perempuannya ketakutan bahkan Syifa menangis. Karna ia mendengar suara orang yang meminta tolong. Dan ternyata yang mendengar suara itu hanya Syifa dan Naufal saja yang lainnya tidak mendengar. Membuat Syifa semakin ketakutan.
"Semuanya tenang, kita pasti menemukan jalan keluar kok." Ujar Nayla menenangkan.
Nayla dan teman-temannya pun melanjutkan perjalanan. Disana poho teh benar-benar tinggi bahkan lebih tinggi dari mereka, membuat mereka tidak bisa melihat sekitar.
Mereka jalan dengan tergesa-gesa karena hari juga semakin sore. Beruntung mereka menemukan seorang petani yang sedang panen, dan bertanya apakah ada jalan keluar. Petani itu pun mengarahkan untuk terus jalan lurus.
Akhirnya Nayla dan teman-temannya menemukan jalan keluar. Begitu sampai nya di jalan raya mereka terkejut dengan keberadaan teman-teman yang lainnya sudah ada lebih dulu di sana, padahal mereka pulang lebih lama dari Nayla.