Hujan turun deras di luar kafe kecil di sudut kota. Aroma kopi dan suara rintik hujan menjadi perpaduan sempurna bagi mereka yang mencari kehangatan di tengah dinginnya sore. Nadia menyesap cappuccino-nya perlahan, matanya sibuk menelusuri halaman demi halaman novel yang ia bawa. Ia selalu menemukan ketenangan dalam membaca, seperti dunia di dalam buku adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa benar-benar bersembunyi.
“Hujan deras, ya?” Sebuah suara bariton mengusik perhatiannya.
Nadia mendongak. Seorang pria dengan jas abu-abu yang sedikit basah berdiri di hadapannya. Rambutnya hitam pekat, sedikit berantakan, dan ada senyum tipis di bibirnya.
“Iya,” jawab Nadia singkat, padahal ia yakin pertanyaan itu tidak butuh jawaban. Hanya sekadar basa-basi.
“Maaf, semua meja penuh. Boleh aku duduk di sini?” tanyanya sopan.
Nadia ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk. Pria itu duduk, melepaskan jasnya, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia tidak banyak bicara, hanya memesan secangkir Americano, lalu menatap ke luar jendela.
“Biasanya hujan membawa kenangan dan sebagian menyedihkan bagi banyak orang, tapi aku justru merasa tenang,” katanya tiba-tiba.
Nadia menutup bukunya, menatap pria itu. “Mungkin karena hujan memberi kita waktu untuk berpikir.”
Pria itu menoleh, lalu tersenyum. “Kau benar. Aku Adrian.”
“Nadia.”
Dan begitulah, tanpa Nadia sadari, pertemuan sederhana itu menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar.
Sejak hari itu, Adrian sering muncul di kafe yang sama. Ia selalu datang saat hujan turun, seolah hujanlah yang mengantarnya ke sana. Mereka mulai mengobrol lebih banyak, dari buku favorit, kopi yang mereka suka, hingga hal-hal kecil seperti hujan pertama yang mereka ingat.
“Jadi, kau suka membaca?” tanya Adrian suatu hari.
Nadia mengangguk. “Membaca memberiku tempat untuk lari dari kenyataan.”
Adrian tertawa kecil. “Lucu. Aku justru suka menulis untuk menghadapi kenyataan.”
Mata Nadia berbinar. “Kau seorang penulis?”
Adrian mengangguk. “Bukan penulis terkenal. Hanya menulis untuk diriku sendiri.”
Percakapan mereka semakin dalam. Nadia merasa nyaman dengan Adrian, meski mereka hanya bertemu di kafe, tanpa pernah bertukar nomor atau media sosial. Semua terjadi begitu alami, seolah hubungan mereka hanya boleh ada di dunia kecil itu, di antara aroma kopi dan suara hujan.
Namun, perlahan, Nadia menyadari sesuatu. Ia mulai menunggu hujan, bukan lagi karena ia menyukai suasananya, tapi karena itu berarti ia bisa melihat Adrian.
Musim berganti, hujan mulai jarang turun. Dan tanpa hujan, Adrian pun menghilang.
Nadia menunggu, hari demi hari, tapi pria itu tidak pernah datang lagi. Ia tidak memiliki cara untuk menghubunginya. Yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu di kafe yang sama, di kursi yang sama.
Suatu sore, saat ia mulai menyerah, seorang barista datang menghampirinya.
“Ada titipan untuk Anda, Mbak Nadia.”
Nadia mengernyit. “Dari siapa?”
Barista itu hanya tersenyum dan menyerahkan sebuah buku bersampul cokelat dengan pita merah.
Dengan jantung berdebar, Nadia membuka buku itu. Di halaman pertama, ada tulisan tangan yang sangat dikenalnya.
"Untuk Nadia. Aku tidak pernah menghilang. Aku hanya ingin tahu apakah kau akan tetap menungguku, bahkan tanpa hujan."
Tangan Nadia gemetar saat membaca kata-kata itu. Dan di sana, di antara halaman-halaman buku itu, terselip sebuah alamat.
Tanpa ragu, Nadia mengambil payungnya dan bergegas ke luar.
Alamat itu membawanya ke sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Hatinya berdebar saat ia mengetuk pintu.
Butuh beberapa saat sebelum pintu terbuka, dan di sana, Adrian berdiri. Ia terlihat terkejut, tapi senyumnya perlahan muncul.
“Kau datang,” katanya pelan.
Nadia mengangguk. “Aku menunggu.”
Adrian menghela napas, lalu mengundangnya masuk. Rumahnya sederhana, penuh dengan buku dan catatan yang berserakan di mana-mana.
“Aku tidak datang karena hujan. Aku datang karena aku ingin melihatmu,” kata Nadia jujur.
Adrian menatapnya lama sebelum berkata, “Aku pergi karena aku ingin tahu apakah kau akan mencariku.”
Ada jeda yang panjang.
“Dan?” tanya Nadia.
Adrian tersenyum kecil. “Kau di sini.”
Hening, tapi tidak ada yang perlu dikatakan lagi. Mereka saling menatap, memahami sesuatu yang bahkan kata-kata tidak bisa ungkapkan.
Di luar, hujan mulai turun lagi. Tapi kali ini, mereka tidak membutuhkannya untuk bertemu.