Pada suatu pagi yang mendung, Elang duduk termenung di tepi jendela rumahnya. Kota yang biasanya sibuk kini tampak sepi, terbungkus kabut tipis yang menutupi setiap sudut. Ia merasa hampa. Ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tak dapat dijelaskan, meskipun di sekelilingnya segala sesuatu tampak berjalan dengan normal.
Elang adalah seorang penulis muda yang terkenal dengan karya-karyanya yang tajam dan penuh makna. Namun, kini ia merasa kehabisan kata-kata, kehilangan semangat untuk menulis, bahkan untuk hidup. Pagi itu, ia memutuskan untuk keluar rumah dan berjalan tanpa tujuan. Sesuatu harus dilakukan, ia merasa terperangkap dalam rutinitas dan kebutuhan untuk terus memenuhi harapan orang lain.
Dengan langkah yang berat, Elang menyusuri jalanan kota yang semakin lengang. Mungkin, pikirnya, ia hanya butuh waktu untuk sesat. Sesatkan diri. Menjauh dari segala yang ia kenal. Membiarkan dirinya terperangkap dalam ketidakpastian. Mungkin di sanalah jawaban itu tersembunyi.
Langkahnya membawa Elang ke sebuah taman kecil yang jarang dikunjungi orang. Di sana, ia duduk di bangku yang terletak di bawah pohon besar, memandangi daun-daun yang gugur perlahan. Angin yang sejuk menyentuh wajahnya, tapi hatinya tetap terasa hampa.
Tiba-tiba, seorang wanita tua duduk di sebelahnya. Elang menoleh dan melihat seorang nenek dengan wajah ramah dan mata yang penuh kebijaksanaan. Tanpa berkata apa-apa, nenek itu menawarkan secangkir teh hangat yang dibawanya. Elang menerimanya tanpa bertanya.
"Kenapa kamu duduk sendirian di sini?" tanya nenek itu setelah beberapa saat hening.
Elang tersenyum pahit. "Aku sedang mencari sesuatu... Mungkin aku sedang mencoba sesatkan diriku."
Nenek itu tertawa pelan. "Sesatkan diri, ya? Kenapa kamu ingin sesat?"
Elang terdiam sejenak. Pertanyaan itu terasa aneh, namun begitu nyata. "Aku merasa terjebak dalam dunia yang aku ciptakan sendiri. Semua yang kulakukan terasa kosong, seolah-olah aku hanya mengikuti jalur yang ditentukan orang lain. Aku ingin merasa bebas. Mungkin dengan sesat, aku bisa menemukan arah yang baru."
Nenek itu menatapnya dalam-dalam, seolah mencoba membaca isi hati Elang. "Anakku," katanya pelan, "sesat bukanlah solusi. Kamu mungkin bisa menjauh dari kenyataan, tapi pada akhirnya, kamu akan kembali lagi ke tempat yang sama. Jalan itu tidak akan menghilang hanya karena kamu bersembunyi darinya."
Elang merasa tertegun dengan kata-kata nenek itu. Ia menyadari bahwa ia sudah lama berusaha menghindari kenyataan yang ada, mencoba lari dari segala yang ia takuti, namun ia belum pernah benar-benar mencari apa yang ia inginkan.
"Sesatkan dirimu hanya akan membuatmu semakin jauh dari dirimu sendiri," lanjut nenek itu. "Kadang, untuk menemukan jawaban, kamu tidak perlu berlari. Cukup berhenti sejenak dan dengarkan hatimu."
Elang mengangguk pelan, menyadari bahwa pencariannya bukanlah tentang melarikan diri, tetapi tentang menerima apa adanya, termasuk ketakutan dan keraguan yang ada dalam dirinya. Ia merasa ada beban yang sedikit terlepas dari pundaknya. Ternyata, kebebasan yang ia cari selama ini bukanlah tentang sesat, tetapi tentang menemukan kedamaian dalam diri sendiri.
Setelah berbicara lebih lama dengan nenek itu, Elang merasa lebih ringan. Ia berterima kasih dan pamit, berjalan kembali menuju rumahnya dengan langkah yang lebih mantap. Ia tahu, kini ia tidak perlu lagi sesatkan diri untuk menemukan jalan. Semua yang ia butuhkan sudah ada di dalam hatinya.