Di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh sawah hijau dan perbukitan, hiduplah seorang wanita bernama Siti. Siti adalah seorang ibu yang penuh kasih, yang selalu mengutamakan keluarga di atas segalanya. Suaminya, Agus, seorang petani, sering bekerja keras di ladang, sementara Siti mengurus rumah dan anak-anak mereka dengan penuh perhatian.
Di tengah kesibukan itu, Siti memiliki seorang anak perempuan bernama Nisa, yang baru berusia tujuh tahun. Nisa adalah anak yang ceria dan penuh rasa ingin tahu. Setiap hari, Nisa selalu menanyakan berbagai hal tentang dunia, dari bagaimana tanaman tumbuh hingga mengapa langit berwarna biru. Siti selalu menjawab dengan sabar, mengajarkan Nisa tentang kehidupan yang penuh dengan keajaiban sederhana.
Namun, suatu hari, Nisa merasa ada yang berbeda dengan Bundanya. Siti yang biasanya selalu ceria dan penuh energi, kini tampak lelah dan terdiam lebih lama. Bahkan, ketika Nisa bertanya, jawaban Siti sering kali terdengar terburu-buru dan tidak sepenuh hati.
"Nanti Bunda cerita lagi, ya, sayang. Bunda capek," kata Siti dengan suara pelan, saat Nisa bertanya tentang kisah bunga yang tumbuh di taman.
Nisa merasa bingung dan cemas. Ia tahu ibunya tidak pernah seperti ini sebelumnya. Akhirnya, di suatu malam yang sunyi, Nisa memutuskan untuk mendekati ibunya yang sedang duduk di beranda rumah, menatap langit yang gelap.
"Bunda, kenapa Bunda kelihatan sedih?" tanya Nisa dengan suara lembut, sambil duduk di samping Siti.
Siti terdiam sejenak. Ia memandang wajah Nisa yang polos, wajah yang penuh harapan. Perlahan, Siti menarik napas panjang, mencoba mengontrol perasaannya. "Bunda hanya lelah, Nisa. Ada banyak pekerjaan yang harus Bunda selesaikan, dan kadang Bunda merasa tidak mampu."
Nisa meraih tangan Bundanya, menggenggamnya erat. "Bunda, Nisa nggak mau Bunda sedih. Nisa akan bantu, kok."
Siti menatap mata Nisa yang penuh ketulusan. Terkadang, ia lupa betapa besar kekuatan cinta anaknya. "Sayang, Bunda hanya merasa bahwa kadang Bunda tidak cukup bisa memberikan yang terbaik untuk kalian. Aku ingin semuanya berjalan dengan baik, tapi kadang aku merasa terlalu banyak yang harus kulakukan."
Nisa memeluk ibunya dengan erat. "Bunda, kamu sudah yang terbaik. Nisa suka banget dengan Bunda. Nisa tahu Bunda selalu berusaha untuk kami."
Air mata mulai menggenang di mata Siti. Ia tak tahu mengapa kata-kata Nisa begitu mengena di hatinya. Dalam pelukan itu, Siti merasa ada kedamaian yang kembali mengisi hatinya yang penuh kekhawatiran. "Terima kasih, sayang," bisiknya.
Sejak malam itu, Siti mulai berusaha lebih membuka diri kepada Nisa. Ia mulai berbagi cerita, tidak hanya tentang pekerjaan dan kewajiban, tetapi juga tentang harapan dan impian yang terkadang terkubur dalam kesibukannya. Nisa pun semakin mengerti bahwa meskipun Bundanya selalu tampak kuat, Siti juga membutuhkan dukungan dan cinta dari orang-orang terdekatnya.
Bunda adalah tempat yang tak ternilai bagi seorang anak. Tempat untuk kembali pulang, tempat untuk merasa dicintai, tempat di mana segala beban bisa sedikit terangkat hanya dengan hadirnya pelukan dan kata-kata sederhana yang penuh kasih. Siti menyadari, meskipun hidup tak selalu mudah, ia tidak pernah benar-benar sendirian, karena Nisa selalu ada di sisinya, memberikan kekuatan dalam setiap detik kehidupan mereka.