Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang anak bernama Budi. Ia sering duduk di bawah pohon besar di belakang rumahnya, menatap langit biru sambil bertanya-tanya dalam hati, "Mengapa aku ada di dunia ini? Mengapa manusia diciptakan?"
Suatu hari, Budi bertemu dengan Pak Amir, seorang petani tua yang bijaksana. Pak Amir sedang menanam padi di sawah. Budi yang penasaran bertanya, "Pak Amir, mengapa kita diciptakan?"
Pak Amir tersenyum dan menjawab, "Budi, pernahkah kamu melihat seekor lebah?"
Budi mengangguk, "Tentu saja, Pak. Lebah suka terbang dari bunga ke bunga."
"Betul," kata Pak Amir. "Tapi tahukah kamu, lebah tidak hanya mencari makanan untuk dirinya sendiri. Saat ia menghisap nektar, ia membantu bunga berkembang biak. Tanpa lebah, bunga-bunga akan kesulitan tumbuh."
Budi terdiam, mencoba mencerna kata-kata Pak Amir.
"Lalu, apa hubungannya dengan kita, Pak?" tanyanya.
Pak Amir meletakkan cangkulnya dan berkata, "Manusia juga seperti lebah. Kita diciptakan untuk saling membantu, menjaga satu sama lain, dan membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik. Setiap orang memiliki peran. Aku, misalnya, menanam padi untuk memberi makan orang-orang di desa ini. Dan kamu, Budi, suatu hari akan menemukan peranmu sendiri."
Budi merasa hatinya hangat. Ia mulai mengerti bahwa keberadaannya di dunia bukanlah kebetulan. Ia mungkin belum tahu apa tujuan hidupnya sekarang, tetapi ia percaya bahwa suatu saat nanti ia akan menemukan jawabannya.
Sejak hari itu, Budi tidak lagi merasa bingung. Ia mulai membantu orang-orang di desanya, belajar dengan giat, dan terus mencari makna hidup. Ia sadar bahwa meskipun kecil, ia bisa memberikan dampak besar seperti lebah kecil yang membantu bunga-bunga bermekaran.