Di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh hutan lebat, hiduplah seorang gadis bernama Mimi. Mimi adalah anak tunggal yang gemar bermain sendiri. Suatu hari, saat ia sedang bermain di tepi hutan, ia menemukan sebuah boneka tua yang tergeletak di bawah pohon besar.
Boneka itu terlihat usang, dengan rambut hitam kusut dan mata kaca yang tampak seperti memandang lurus ke arahnya. “Siapa yang membuang boneka ini?” gumam Mimi sambil mengangkat boneka itu. Meskipun menyeramkan, ada sesuatu yang membuat Mimi tidak bisa melepaskannya. Ia memutuskan untuk membawa boneka itu pulang.
Boneka itu ia namai Lila. Awalnya, semuanya terasa biasa saja. Mimi bahkan merasa memiliki teman baru untuk diajak bicara. Namun, malam pertama setelah boneka itu masuk ke rumah, Mimi terbangun karena mendengar suara langkah kecil di kamarnya. “Mungkin tikus,” pikir Mimi, mencoba menenangkan dirinya. Tapi, keesokan harinya, ia menemukan sesuatu yang aneh.
Lila, yang sebelumnya ia letakkan di meja, kini duduk di kursi sebelah tempat tidurnya. “Aku lupa memindahkannya tadi malam,” gumam Mimi, meskipun ia merasa yakin tidak pernah melakukannya. Hari-hari berikutnya, hal-hal aneh mulai terjadi. Piring di dapur jatuh sendiri, lampu kamar sering berkedip, dan setiap malam Mimi mendengar suara bisikan pelan yang memanggil namanya. “Miii... Miii...” Suara itu terdengar dari arah Lila. Ketakutan, Mimi mencoba membuang boneka itu ke luar rumah. Ia meletakkannya di tumpukan sampah di halaman belakang.
Namun, pagi harinya, Lila kembali berada di atas tempat tidurnya. Boneka itu kini terlihat berbeda. Bibirnya yang awalnya tersenyum kini melengkung seperti seringai, dan mata kacanya tampak berkilat seperti mata manusia. Mimi menceritakan semua ini kepada ibunya, tetapi sang ibu hanya tertawa. “Ah, itu hanya imajinasimu saja. Boneka tidak bisa hidup,” katanya sambil mengacak rambut Mimi. Namun, malam itu, saat Mimi tidur, ia bermimpi buruk. Dalam mimpinya, Lila berdiri di ujung tempat tidurnya, tertawa kecil dengan suara melengking. Boneka itu merangkak perlahan, mendekati wajahnya sambil berkata, “Kau tidak bisa lari dariku, Mimi. Kita akan bersama selamanya.” Mimi terbangun dengan keringat dingin, dan Lila berada di atas dadanya.
Ia berteriak sekuat tenaga, membuat ibunya berlari ke kamar. Tapi saat ibunya masuk, Lila sudah kembali seperti biasa, duduk di pojok kamar. Ketakutan yang memuncak membuat Mimi akhirnya mencari bantuan dari seorang kakek tua di desa yang dikenal sebagai dukun. Kakek itu melihat boneka Lila dengan tatapan serius. “Boneka ini terkutuk. Ia digunakan dalam ritual lama untuk memanggil roh jahat. Seseorang telah membuangnya ke hutan, tapi sekarang ia menemukan tuannya yang baru.
“Apa yang harus aku lakukan, Kek?” tanya Mimi dengan suara gemetar. “Bawalah boneka ini kembali ke tempat kau menemukannya. Letakkan di bawah pohon itu dan tinggalkan tanpa menoleh ke belakang. Jika kau menoleh, ia akan mengikutimu selamanya.” Dengan rasa takut yang tak terkira, Mimi melakukan apa yang dikatakan kakek itu. Ia berjalan ke hutan di sore hari, meletakkan Lila di bawah pohon tempat ia menemukannya, dan berlari tanpa menoleh. Saat sampai di rumah, Mimi merasa sedikit lega. Namun, malam itu, saat ia hendak tidur, ia mendengar suara bisikan yang sudah tidak asing lagi. “Miii... aku pulang...” Mimi menoleh ke arah meja, dan di sana, Lila duduk dengan seringai menyeramkan, seolah tidak pernah pergi.