Malam telah jatuh, membawa serta kabut tebal yang meliputi desa kecil di kaki Lembah Gelap. Tempat itu selalu menjadi bahan cerita penduduk desa, kisah tentang hilangnya orang-orang tanpa jejak, suara-suara aneh di malam hari, dan bayangan hitam yang sering melintas di ujung pandang.
Mina, seorang jurnalis muda, tiba di desa itu setelah mendengar rumor mengenai penduduk yang hilang secara misterius. Dengan kamera dan buku catatan, ia bertekad mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan oleh kabut lembah tersebut. Warga desa menyambutnya dingin, menolak pertanyaannya, dan hanya berbicara dengan bisikan. Namun, satu nama selalu disebut berulang-ulang—Pak Darmo, penjaga hutan yang dikenal sebagai "penjaga rahasia lembah."
Mina berhasil bertemu dengan Pak Darmo setelah berhari-hari mencoba mengumpulkan keberanian untuk mendekati rumah tua yang terletak di pinggir hutan. Pria itu bertubuh jangkung, dengan janggut abu-abu yang menjuntai hingga dada. Matanya tajam, seolah mampu melihat menembus kabut. Namun yang paling mencolok adalah sebuah kalung batu hitam yang menggantung di lehernya.
“Jika kau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, kau harus mendengar suara lembah,” ujar Pak Darmo saat Mina memaksakan pertanyaan.
Malam itu, Mina memutuskan untuk pergi sendiri ke Lembah Gelap meskipun telah diperingatkan. Berbekal senter dan peta, ia melangkah melewati pepohonan tinggi yang seolah membentuk dinding hidup di kedua sisinya. Semakin jauh ia melangkah, udara semakin berat, seperti ada sesuatu yang tak kasat mata menyelimuti tubuhnya.
Ketika sampai di pusat lembah, suara-suara aneh mulai terdengar. Bukan suara binatang malam, melainkan bisikan halus yang berbicara dalam bahasa yang tak dipahaminya. "Menjauh... atau kau tak akan kembali..." Mina gemetar. Ia menyalakan senter dan melihat ukiran batu besar di depannya, berbentuk seperti wajah yang terdistorsi oleh rasa sakit.
Tiba-tiba, batu di tangannya menyala—bukan, itu bukan lampu senter. Cahaya itu berasal dari tanah, membentuk lingkaran aneh di sekelilingnya. Dari balik kabut, muncul sosok bayangan. Makhluk itu memiliki wujud setengah manusia, setengah bayangan, dengan mata yang berkilat merah.
"Kau datang untuk membuka rahasia?" Suara makhluk itu dingin, menyeruak ke dalam pikiran Mina. "Rahasia ini bukan untuk manusia."
Namun, sebelum Mina sempat merespons, sebuah suara lain datang—suara Pak Darmo.
"Mundur!" teriak pria tua itu yang entah dari mana telah berada di sana. Ia melangkah dengan batu hitam di tangannya yang kini memancarkan cahaya terang. Makhluk itu menggeram, kabut semakin tebal, namun pada akhirnya ia memudar bersama suara isakan yang mengerikan.
Pak Darmo menarik Mina menjauh dari lingkaran dan memaksanya meninggalkan tempat itu. Dalam perjalanan kembali, Mina mencoba bertanya, namun pria tua itu hanya bergumam, “Semakin kau tahu, semakin besar bahaya yang kau tarik. Pergilah, dan jangan pernah kembali.”
Pagi itu, Mina meninggalkan desa tanpa sepatah kata. Namun misteri itu terus menghantui pikirannya. Ia tak pernah tahu siapa atau apa yang tinggal di Lembah Gelap. Satu hal yang pasti, apa pun yang ada di sana bukanlah sesuatu yang siap dihadapi manusia.
Tamat.