Di sebuah kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk dunia modern, ada seorang perempuan bernama Aria. Dia selalu menghabiskan sore di taman dekat rumahnya, duduk di bangku yang sama sambil membaca buku favoritnya. Suatu hari, ketika langit mulai berubah jingga, seorang pria asing duduk di bangku sebelahnya. Wajahnya terlihat asing, namun entah kenapa, Aria merasa seperti sudah mengenalnya sejak lama.
Tanpa sepatah kata, pria itu mengeluarkan sebuah buku yang persis sama dengan yang sedang dibaca Aria. Mereka saling bertukar pandang, dan di antara senyuman kecil, waktu seakan berhenti.
Aria merasa ada sesuatu yang istimewa dalam pertemuan itu Yaitu nyaman ,Arai merasa nyaman dan tenang saat melihat senyuman kecil itu,membutnya mengingat seorang anak laki laki yang dulu selalu menemaninya .
Suatu hari anak laki laki itu tiba tiba pergi entah kemana bersama orang tuanya tanpa memberi tau Aria.Sampai sekarang Aria selalu menungu anak laki laki itu di bangku taman,sambil berharap anak laki laki itu kembali dan menemuinya.
Tak terasa setetes cairan bening mengalir dari pelupuk mata indah Aria saat mengingat tentang sosok anak laki laki itu.
Pria itu melihat tetesan air mata Aria dan tanpa berkata-kata, dia menyodorkan saputangan kecil. "Kau baik-baik saja?" tanyanya lembut, meskipun ia tampak ragu-ragu. Suaranya membuat Aria tersentak, hati kecilnya bergetar, suara itu begitu familiar, seperti suara dari masa kecil yang telah lama hilang.
Aria menatap pria itu dengan lebih seksama, dan perlahan, kenangan masa lalunya mengabur dengan kenyataan di depan mata. "Kau..." bisiknya, dengan suara yang hampir tak terdengar. Pria itu tersenyum lagi, senyum yang dulu selalu membuatnya merasa aman.
"Aria, aku kembali," ucap pria itu lembut, sambil memegang buku di tangannya.
Tanpa berkata apa apa lagi,Aria langsung memeluk pria itu dengan erat seolah olah tidak ada lagi hari esok untuk memeluknya lagi, pria itu pun membalas tak kalah lebih erat .
Nyaman dan hangat itulah yang dirasakan Aria dan pria itu,setelah puas berpelukan Aria pun melepaskan pelukan itu,lalu Aria mendongak dan bertemu dengan tatapan mata tajam yang sedang menatapnya dengan dalam dan lembut,seolah olah sedang mengatakan aku sangat sangat merindukanmu.
Aria tidak bisa menahan diri untuk tersenyum tipis saat melihat tatapan lembut pria itu. Hatinya berdebar, namun ada ketenangan yang menyelimuti dirinya. "Aku... tidak pernah berhenti menunggumu," bisik Aria dengan suara pelan.
Pria itu, yang kini jelas adalah sahabat masa kecilnya, tersenyum lebih lebar. "Aku pun begitu, Aria. Tidak ada satu hari pun aku berhenti memikirkanmu," jawabnya lembut. Dia meraih tangan Aria dengan hati-hati, menggenggamnya erat seolah memastikan bahwa pertemuan ini nyata, bukan sekadar mimpi.
Saat senja semakin memudar, mereka hanya duduk dalam keheningan, saling berbagi momen yang telah lama hilang, seolah waktu tidak pernah memisahkan mereka.