Langit biru pucat menyambut Alea ketika dia membuka matanya. Tapi ini bukan kamar kosnya yang sempit dengan tumpukan buku di sana-sini. Sebaliknya, dia berada di kamar besar yang penuh dengan ornamen emas dan tirai beludru merah. Alea terdiam, lalu tersentak saat melihat bayangannya di cermin. Itu bukan dirinya!
“Siapa gue sekarang?” bisiknya.
Pintu kamar mendadak terbuka. Seorang pelayan dengan pakaian klasik masuk sambil membungkuk. “Nona Lavinia, waktu Anda hampir habis. Pangeran Alaric menunggu di aula.”
Alea mendengar nama itu dan langsung mengingat novel yang semalam ia baca sebelum tertidur. "Apa?! Gue jadi Lavinia, tunangan antagonis yang akhirnya dihukum gantung gara-gara sikap kasarnya?!" pikirnya. Tapi Alea bukan Lavinia yang asli. Jika Lavinia dikenal sebagai wanita sombong, licik, dan suka merendahkan orang lain, maka Alea adalah kebalikannya.
“Baiklah,” kata Alea dengan tenang, memasang senyum licik di wajahnya. "Kalau ini dunia novel, gue nggak bakal mati bodoh kayak Lavinia. Saatnya merombak cerita ini!"
---
Alea berjalan dengan penuh percaya diri menuju aula, di mana Pangeran Alaric menunggu. Pria itu adalah pria dingin dengan reputasi kejam, yang selalu tersenyum penuh ancaman. Dia adalah karakter yang paling dibenci Alea saat membaca novel ini, tapi juga yang paling bikin penasaran.
“Akhirnya muncul juga,” kata Alaric sambil menatapnya tajam. “Apa kau lupa sopan santun, Lavinia?”
Alea tersenyum kecil. Oke, karakter ini perlu gua atur dari sekarang.
“Bukannya lupa, Yang Mulia. Aku hanya berpikir, apa kau benar-benar pantas menungguku?” Alea menjawab dengan santai, penuh kepercayaan diri.
Alaric menyipitkan matanya, kaget dengan perubahan Lavinia yang biasanya tunduk tapi kejam di belakang. “Apa maksudmu?”
Alea mendekat, menatap mata kelamnya. “Aku maksudkan, hubungan kita ini basi. Kau tahu aku bukan wanita biasa, jadi berhentilah menguji kesabaranku.”
Kerumunan bangsawan yang ada di aula terkejut. Lavinia yang asli tidak pernah berbicara seberani ini. Alaric mendekat, menatap Alea dengan lebih intens. “Kau berani menantangku?”
Alea tertawa kecil. “Tantang? Oh, Yang Mulia, aku hanya memastikan kau tahu bahwa aku bukan boneka. Kalau kau mau bermain permainan kekuasaan, aku pastikan aku akan menang.”
---
Sejak hari itu, Alea mengubah segalanya. Dia tidak lagi menjalani plot sebagai antagonis kejam, tetapi memilih cara baru untuk menghadapi dunia ini. Dia mendekati rakyat biasa, membantu mereka secara diam-diam, sekaligus memperbaiki citranya.
Di sisi lain, Alaric mulai tertarik dengan Lavinia yang baru. Dia bingung, merasa wanita itu kini lebih menarik dan sulit ditebak. Setiap percakapan mereka seperti permainan catur, di mana Alea selalu memimpin langkah.
Namun, di balik semua itu, Alea menyimpan misi besar: menghancurkan rencana licik para bangsawan yang ingin menjatuhkan keluarga kerajaan. Dengan keberanian dan kecerdasannya, dia membuat jaringan rahasia yang membantu rakyat kecil sekaligus menggali rahasia istana.
Sampai suatu malam, Alaric menangkap basah Alea sedang menyusup ke ruang rahasia kerajaan.
“Kau mencoba melawanku?” tanyanya tajam.
Alea tersenyum, memutar belati kecil di tangannya. “Melawanmu? Tidak, Pangeran. Aku menyelamatkanmu dari kehancuran yang bahkan tidak kau sadari.”
Alaric diam, mata dinginnya mulai menunjukkan kekaguman. “Kau bukan Lavinia yang kukenal.”
Alea mendekat, menatapnya dengan percaya diri. “Dan kau harusnya bersyukur. Karena Lavinia yang baru ini adalah sekutumu, bukan musuhmu.”
---
Di dunia yang penuh intrik dan bahaya, Alea membuktikan bahwa meski dia masuk ke tubuh seorang antagonis, dia bisa menjadi karakter utama yang mengubah jalannya cerita. Dan siapa sangka, si pangeran kejam perlahan jatuh hati pada wanita badas yang penuh kejutan itu.