Malam itu, Alia Maya baru saja keluar dari kafe tempatnya bekerja paruh waktu. Hujan mengguyur deras, dan jalanan kota tampak lengang. Ia menarik jaketnya lebih erat, mencoba melindungi diri dari dingin yang menusuk.
Alia tidak menyadari ada sebuah mobil hitam mengkilap berhenti di dekat trotoar tempatnya berjalan. Dari dalam, seorang pria turun—tinggi, tegap, dengan jas mahal yang menonjolkan statusnya. Pria itu adalah Adrian Al-Faleeq.
“Permisi, nona. Kamu tahu di mana alamat ini?” tanya Adrian dengan nada datar, menyodorkan ponselnya yang menampilkan sebuah lokasi.
Alia mendongak, sedikit terkejut dengan sosok pria itu. Wajahnya maskulin, namun dingin, dengan tatapan tajam yang membuat siapa pun merasa kecil di hadapannya. Ia menjawab dengan suara ragu, “Itu di ujung jalan ini. Tapi sekarang sudah malam, tempat itu mungkin sudah tutup.”
Adrian mengangguk singkat, tetapi pandangannya tak lepas dari Alia. Ada sesuatu pada gadis itu yang membuatnya tertarik, meski ia sendiri tak tahu apa. Sebuah kebetulan kecil, namun menjadi awal dari sesuatu yang besar.
“Kamu tinggal di sekitar sini?” tanya Adrian tiba-tiba.
Alia mengerutkan kening, bingung dengan pertanyaannya. “Ya, tapi… kenapa?”
Adrian tidak menjawab. Sebuah pikiran melintas di benaknya. Sebelumnya, ia tengah menghadapi tekanan besar dari keluarganya—tekanan untuk segera menikah dan memiliki penerus. Namun, ia tidak punya waktu atau keinginan untuk menjalin hubungan. Dan malam ini, ia bertemu dengan seorang gadis muda yang terlihat polos, tetapi memiliki sorot mata penuh semangat.
Hujan semakin deras. Adrian melihat Alia yang tampak menggigil. “Naik. Aku antar pulang,” katanya tegas.
“Tidak perlu, saya bisa pulang sendiri,” jawab Alia cepat.
“Aku tidak menawar,” balas Adrian singkat.
Tanpa menunggu jawaban, Adrian membuka pintu mobil untuknya. Alia merasa bingung, tetapi juga tak punya pilihan. Malam sudah larut, dan ia tidak ingin basah kuyup. Dengan ragu, ia masuk ke dalam mobil.
Selama perjalanan, suasana di dalam mobil terasa canggung. Alia tidak tahu harus berkata apa, sementara Adrian sibuk mengamati gadis di sebelahnya dari ekor matanya.
“Kamu kerja di kafe itu setiap malam?” tanyanya, memecah keheningan.
“Ya, untuk bayar kuliah,” jawab Alia singkat, merasa aneh dengan minat Adrian pada hidupnya.
Adrian hanya mengangguk. Ia semakin yakin bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan. Dalam diam, ia memutuskan sesuatu—sesuatu yang akan mengubah hidup Alia untuk selamanya.
Ketika mobil berhenti di depan kos-kosan sederhana Alia, Adrian berkata, “Kita akan bertemu lagi.”
Alia memandangnya bingung. “Kenapa?”
Adrian tersenyum tipis, senyum yang sulit diartikan. “Karena aku sudah memutuskan begitu.”
Tanpa menjelaskan lebih lanjut, Adrian meninggalkan Alia yang masih tertegun. Gadis itu tidak tahu, malam itu adalah awal dari serangkaian kejadian yang akan mengubah hidupnya secara drastis—sebuah pertemuan tak terduga yang membawa Alia ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.