"Kita gak mau tahu, pokoknya loe harus cipok tuh anak culun! Sekarang...!" Seru seorang gadis belia seraya menudingkan telunjuknya ke satu arah. Tudingan telunjuk tersebut mengarah tepat ke seorang lelaki muda berperawakan kurus, berkulit sawo matang, rambut disisir ke samping kanan, berkacamata bulat tebal. Orang-orang satu sekolahan memangilnya dengan si Culun. Tapi namanya sebenarnya adalah Maruli. Sementara nama panjangnya adalah Maruli Putra Fajar Sitohang. Di rumah dia dipanggil Uli.
Yang diperintah melihat dengan pandangan mata jijik, tak sampai hitungan menit bakal ada sesuatu yang hendak ia muntahkan keluar, untungnya, dia buru-buru mencengkeram perutnya.
"Ingat Lia loe harus cipok tuh bibir!" Seseorang gadis belia mengingatkan, sementara dua yang lain cengar-cengir seraya menggelengkan kepala. "Mimpi apa loe, Lia!?" Ejek gadis belia yang pertama memerintahnya tadi.
"Please, Pris, gue kerjain yang lain aja, ya. Gimana kalo gue ngerjain semua tugas-tugas sekolah loe pada. Setahun kalo perlu, please!" Mohon si gadis belia yang dipanggil Lia. Sesungguhnya namanya panjangnya adalah Amelia Setiawati. Tapi oleh teman-teman tongkrongannya dia lebih sering dipanggil, Lia. Kalau di rumah, oleh orangtua dan adiknya, dia panggil Amel.
"Ogah!" Mereka menyahut serentak.
"Itu bibir apa bemper!?Huek...!" Lia meringis jijik, tampak mual kemudian, dari ujung kaki sampai ke ujung rambut dia terlihat gemetar tak karuan.
"Siapa suruh ngajak taruhan. Makan tuh taruhan loe." Priska menuding geli.
"Loe bayangin deh, Pris, tuh orang kan barusan ketangkep sama pak Yudi karena ketahuan baca..." Ujar seorang gadis belia yang berdiri di samping kanan Priska, melirik ke teman di samping kiri Priska. "Baca majalah dewasa...!" Mereka menyahut barengan. Priska dan Amelia membelalak kaget. "What's!?"
Kedua gadis belia yang serempak ini sesungguhnya adalah teman sekelas dari lelaki yang sedang mereka tuding-tuding tadi. Maruli Putra Fajar Sitohang. Alias Maruli. Alias Uli.
"Bukannya dia dihukum karena telat masuk kelas?" Tanya Amelia. "Yang telat masuk kelas itu si Boim." Ucap si gadis belia menuding ke arah lelaki gempal yang berdiri berhadap-hadapan dengan si lelaki culun.
Benar, memang kedua lelaki belia ini sedang menjalani hukuman: mereka diminta untuk berdiri berhadap-hadapan, di tengah lapangan sekolah, tepat di depan tiang bendera yang menjulang ke angkasa, dengan kepala yang diwajibkan untuk mendongak ke atas serta sebelah tangan yang bergantian memberi hormat ke arah bendera merah putih yang berkibar perkasa di langit terik. Kedua lelaki belia ini adalah teman sebangku. Bukan cuma teman sebangku tapi teman senasib sepenanggungan.
"Loe tahu kenapa dia telat masuk kelas," ucap si gadis belia mendelik geli ke arah Priska dan Amelia, yang notabene bukan teman sekelas mereka. Kedua gadis belia serempak menggeleng.
"Dia habis beginian di kamar mandi," kata si gadis belia berlagak cabul. "Dia gak kuat nafsu. Iya karena baca majalah dewasa juga," cengir kawan yang berdiri di samping kiri Priska.
Sontak Priska tergelak. "Pas dong kalo begitu. Pucuk dicinta si Culun pun tiba!" Priska berperibahasa. Kedua gadis belia yang lain sekonyong-konyong tertawa cekakan.
"Sekarang, Lia, gue mau sekarang!" Seru Priska penuh nafsu. "Gue juga! Gue juga!" Kedua yang lain tak kalah bernafsu. Amelia menolak dengan bahasa tubuh. Priska tak peduli dengan penolakan tersebut. "Buruan!" Begitupun seorang yang lain. "Iya, buruan, kan loe yang ngomong. Jangan pernah menjilat ludah sendiri! Ingat, nggak!" Satu yang tersisa mengangguk seperti burung pelatuk. Amelia bersikukuh menolak.
Priska tak habis akal, dengan sekuat tenaga ia pun beraksi menarik-narik tubuh si gadis belia agar mendekat ke arah lelaki belia yang tengah menjalani hukuman. Peristiwa itu terjadi saat jam istirahat pertama. Kedua yang lain serentak membantu. Mereka saling bahu-membahu agar Amelia bisa berdiri berhadap-hadapan.
Usaha yang tak sia-sia Amelia berhasil ditarik hingga berdiri berhadap-hadapan dengan si Culun Maruli. Tak berselang sedetik si Gempal di dorong agak menjauh, dua langkah kurang lebih. "Kenapa nih!? Si gempal terlihat kebingungan. Priska memberi isyarat diam.
"Buruan! Buruan!" Seru kedua gadis belia yang lain. Amelia menggeram, sedetik kemudian...
Semestinya itu cuma kecupan ringan, tapi kenapa yang terjadi malah... Bibir tipis merah delima itu kontan tenggelam dalam pesona bibir tebal milik si lelaki culun. Sebentar kemudian seperti ada lidah yang bermain di langit-langit mulutnya, dan kedua ujung lidah itu pun sempat pula saling beradu, meski hanya hitungan detik. "Plak, plak..." Kedua pipi si Culun ditampar bolak-balik. Sontak suasana riuh memenuhi lingkungan sekolah. Ada yang berteriak girang, ada pula bertepuk tangan, bersiul-siul senang tak terhitung banyaknya, tak sedikit pula yang berlagak mencela peristiwa tersebut, padahal dihati berkata sebaliknya.