"Ruri. Pake 'i' bukan 'y'." Dia menjulurkan tangan. Juluran tangan itupun bersambut meski terkesan agak ogah-ogahan. "Lia."
"Sepertinya kita..." Ruri menudingkan telunjuknya. "Sorry gue sibuk," si wanita berkata dengan acuh tak acuh, jabat tangan ia sudahi. Dia pun berbalik badan jelas dia ingin menyudahi percakapan.
Ruri sekonyong-konyong menahan, bergegas menangkap pergelangan tangan si wanita. "Ternyata kamu gak berubah ya," Ruri tersenyum kecil sesudahnya.
"Maksud loe!?" Si wanita menatap galak.
"Amelia si jutek. Anak 3IPA 1. Satu dari tiga Kembang sekolah Asisi II." Ucap Ruri sumringah.
Si wanita yang tak ada lain bernama Amelia Setiawati menatap kawan bicaranya. Menatap dengan sorot mata yang menyelidik. Dia lirik itu orang, dari atas ke bawah-bawah ke atas, berkali.
"Ingat saya kan," Ruri menunjuk ke dirinya. Lia menarik bibirnya, menggeleng kemudian.
"Iya, salam masak iya kamu lupa sama cowok seganteng aku!? Aku! Ruri!" Ruri berucap dengan agak meninggikan intonasi suaranya.
"Ruri! Ruri! Siapa sih!?" Sontak Lia kesal, berontak ingin lepas.
Tak ada angin tak ada hujan, Ruri sekonyong-konyong menempelkan bibirnya ke bibir Lia. Bibir ranum merah delima tertelan begitu rupa ke dalam bibir tebal berwarna merah buram milik Ruri. Bak disambar petir Lia terkaget, terdiam beberapa jenak, sadar, sebuah tamparan mendarat keras sekonyong-konyong, mendarat ke pipi si kawan bicara, dua kali bolak balik.
"Aduh," Ruri mengaduh kesakitan. Lia kembali bereaksi, sebuah tonjokan bersiap dilabuhkan, untungnya, seseorang buru-buru menahan, dari arah belakang. Lia menoleh, itu orang hendak didampratnya juga, tapi hal tersebut urung ia lakukan. "Maaf, Pak."
"Kenapa!?" Tanya orang tersebut melirik antara Ruri dan Lia. "Dia..." Lia mengusap bibirnya, sungkan melanjutkan. Orang tersebut terlihat bingung. " Kenapa Rur!?" Tanya orang tersebut. Ruri nyengir tengil. "Bapak ingat cewek yang pernah saya ceritakan dulu," Ruri menudingkan telunjuknya. Orang yang melerai menggeleng bingung.
"Cewek yang ah...Yang saya bilang kalau suatu hari kelak saya akan menuliskan kisah tentang..." Ruri menudingkan telunjuknya bergantian ke arah Lia dan dirinya.
"Oooo...." Orang yang melerai mengangguk paham. "Ini. Ini... Ini orangnya!" Ucap Ruri berapi-api. "Maksud loe apa sih!?" Lia mendengus.
"Kamu gak ingat sama Ruri!?" Tanya orang yang melerai tersebut. Lia menggeleng. Orang yang melerai terheran. "Maruli. Maruli Putra Fajar Sitohang." Ucap orang yang melerai.
"Loe!? Maruli!?" Lia tersentak kaget. "Alah, bapak, kenapa pake ucap nama lengkap segala, malu saya. Ruri mendengus. "Panggil saja, Ruri. Ruri. Sesuai dengan nama pena saya. Paham."
"Loe benaran Maruli!?" Lia masih gak percaya. "Akhirnya dendam saya terbalaskan. Setelah sekian purnama. Hahaha..." Ruri tergelak bangga.
"Bukannya loe...!?"
"Mati!? Di telan buaya-buaya sungai Muara itu. Begitukan kata orang-orang disekolahan!? Begitukan!?" Ruri mendelik.
"Gue minta maaf!? Itu semua..." Lia tak berani melanjutkan ucapannya. "Iya siapa sih yang berani menolak perintah sang primadona. Apalagi seorang Dito. Dito Purnomo cowok yang tergila-gila dengan pesona sang primadona.Si cowok goliath yang gak kenal rasa bersalah. Iyakan!?" Ucap Ruri. "Ngomong-ngomong kenapa kamu menyuruh Dito menghabisi saya."
"Iya, karena..." Lia menelan ludah. "Bukannya kamu yang duluan mencium bibir saya." Tuding Ruri. "Iya itu karena gue kalah taruhan. Gue harus menuruti perintah yang mereka suruh." Ketus Lia. "Terus saya harus bilang 'wow' gitu!?" Dengus Ruri.
"Karena loe melumat bibir gue. Loe menikmati. Padahal gue cuma..."
"Itu namanya rezeki nomplok. Orang tolol mana yang menolak rezeki nomplok." Ucap Ruri lantang.
"Gue hanya disuruh mengecup, tapi loe..." Lia hendak menjelaskan tapi Ruri keburu menyela. "Sudah kubilang itu yang namanya rezeki nomplok. Cewek primadona mencium bibir saya. Mana pula aku sia-siakan! Iya kan, Pak!?"
"Mana ketehe," ucap orang yang melerai. "Kamu tahu tidak sejak peristiwa itu saya jadi sering mimpi basah!" Seru Ruri. Lia kaget alang kepalang.
"Kamu membuat saya dewasa sebelum waktunya." Terang Ruri tanpa sungkan. Lia mengusap dada.
"Untungnya saya masih ingat kalau saya masih punya Tuhan, punya mamak, adik perempuan, kalau tidak, bisa-bisa.... Setiap saya memikirkan kamu!? Kamu sadar gak kalau apa yang kamu lakukan kepada saya itu membahayakan." Ucap Ruri lugas.
"Gue minta maaf kalau Dito berbuat yang berbelebihan ke elo. Gue cuma minta loe diberi pelajaran, dikit." Lia merendah.
"Gue ingat Tuhan bukan karena pelajaran yang Dito beri. Tapi kamu, kamu, rasa yang kamu beri ketika kita saling... Saya merasakan perasaan itu." Terang Ruri.
"Rasa!? Rasa!? Perasaan maksud loe!?" Tanya Lia. "Hasrat apalagi!?" Kata Ruri.
Mendengar kalimat itu Lia sekonyong-konyong menarik mundur bahunya.
"Kita menjadi dewasa sebelum waktunya. Kamu paham gak. Hahahaha.... Hahahaha.... Dewasa sebelum waktunya. Hahahaha..." Ucap Ruri tergelak, yang berselang kemudian berbalik badan, meninggalkan Lia yang terlihat malu, dan si pelerai yang masih saja terlihat kebingungan.