Di sudut kamar kecil, waktu seakan berhenti. Cahaya matahari sore menebus jendela berkisi. Aroma kertas-kertas kuning kecoklatan yang telah memeluk waktu beradu dengan harum melati yang dibawa angin dari luar.
Seorang gadis muda duduk di lantai kayu kamarnya, di samping jendela berkisi yang berkarat. Di sekitarnya penuh dengan buku bacaan yang bahkan ada yang sudah renta umurnya. Jemarinya menyentuh pada sebuah buku usang berjudul "Melodi Keberanian". Mata hitam gelapnya menelusuri setiap kata yang tertulis di buku itu. Senandung kecil keluar dari bibirnya, nyaris seperti rahasia yang disampaikan hanya kepada angin.
Namun, sebuah suara dari luar memecah keheningan. Ia menghentikan senandungnya dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Sebuah mobil sedan tua melintas perlahan, dengan pengeras suara terpasang di atapnya. Di dalam mobil itu, Pak Kades, pria paruh baya yang dikenal semua warga desa, berbicara dengan suara lantang:
"Lomba menyanyi desa, ayo temukan suaramu! Tanggal 2 Oktober, jangan sampai terlewat!"
Di dalam hati kecilnya mulai tumbuh sebuah mimpi. Beberapa saat merenung, Bening kembali pada bukunya. Buku yang mengisahkan tentang seorang gadis muda yang menaklukkan rasa takutnya melalui lagu. Dibacanya buku itu dengan semangat, merasa setiap halaman berbicara langsung padanya.
"Aku ingin menjadi seperti gadis di buku ini." Pikirnya.
Dalam buku itu, sang penyanyi menemukan kekuatan lirik yang mampu menyuarakan jiwanya. Dengan gerakan cepat namun hati-hati, ia menutup buku itu seolah menyimpan rahasia besar. Langkahnya mengarah ke meja rotan tua yang warnanya telah memudar dimakan usia. Ia mengambil selembar kertas kuning kecokelatan dan pensil dengan ujung yang hampir tumpul.
Kembali ke tempat duduknya di samping jendela kisi yang membiarkan angin masuk, ia menarik napas dalam-dalam. Pensilnya mulai menari di atas kertas, menciptakan baris demi baris lirik yang seolah memeluk perasaannya yang mendalam. Menjelang sore hari, sebuah lagu ciptaan Bening sudah jadi. Dilihatnya kertas berisi lirik lagu buatannya itu dengan senyuman yang mulai merekah.
Hari perlombaan akhirnya tiba. Matahari pagi menyinari jalan desa yang dipenuhi bendera kecil dan poster acara lomba menyanyi. Riuh rendah terdengar dari warga desa yang berusaha mendukung setiap peserta lomba. Semua orang bertepuk tangan riuh saat Bening melangkah naik ke atas panggung. Di tangannya, selembar kertas berisi lirik lagu yang sudah akrab di hatinya. Namun, setelah menatap kertas itu sejenak, ia melipatnya dengan tenang dan menyelipkannya ke dalam saku celananya. Ia tahu, kertas itu tak lagi dibutuhkan. Kini, saatnya suara hatinya berbicara. Nada pertama terdengar dengan sedikit getar, tapi perlahan, suara Bening mengalir lembut dan penuh keyakinan. Kepercayaan dirinya tumbuh seiring dengan tiap bait yang ia lantunkan, hingga seluruh ruangan tersihir oleh keindahan suaranya. Bait terkahir mengalun pelan dan lembut. Kemudian, penampilannya disambut tepuk tangan meriah dari warga desa.
Pak kades, yang bertindak sebagai salah satu jurinya, naik ke atas panggung dengan mikrofon di tangannya.
"Bening, kamu sudah menampilkan yang terbaik. Kamu sudah menunjukkan keberanian yang luar biasa hari ini."
Pak kades mengumumkan Bening lah sebagai pemenangnya. Bening merasa ia telah menemukan sesuatu yang lebih berharga, bukan hanya sebuah kemenangan, melainkan keberanian dan mendengarkan dan menyuarakan isi hatinya.
Malamnya, Bening duduk di samping jendela berkisi di kamarnya itu. Dipandangnya langit malam yang gelap dan penuh bintang. Lalu, ia tersenyum melihat buku berjudul "Melodi Keberanian" yang telah mengubah hidupnya tergeletak di atas meja rotan.
Bening tahu itu hanyalah awal. Suaranya adalah melodi yang akan terus mengalun. Dan buku adalah penuntun jalanya untuk melanjutkan kisah-kisah baru yang akan selalu dikenangnya.