Hah...!!! Apa!? Masak sih!? Gak salah dengar, aku!? Apa iyah!? Ngaco bin ngaco!!! Aku kini menjadi sebuah kenangan. Kupikir itu gak kan pernah, ternyata aku salah. Tapi apa hebatnya!? Perihal yang sama sempat juga aku pertanyakan, yang pasti bukan bertanya kepada diri sendiri, melainkan kepada seseorang. Seseorang yang semasa hidupnya pernah bertekad, ingat bertekad, bukan sekedar bercita-cita, tapi bertekad ingin dikenang suatu hari kelak. Dikenang oleh siapa!? Iya, tentu saja anak cucu, masak iya anak Bagong!?
Saking itu orang bertekadnya, saban hari itu muka yang sebelas dua belas sama papan penggilasan nampang di media-media, aksi-aksian mulai dari: sumbang sini-sumbang sana, koar sini-koar sana, lagak sini-lagak sana. Sing penting itu orang-orang ingat sama itu muka yang aku bilang sebelas dua belas sama papan penggilasan.
Benar saja, tiba waktu itu orang koit!! Benar-benar Koit!!! Koit sekoit-koitnya orang!! Wassalam...!
Itu orang ditemukan telah terbujur kaku di satu kamar hotel kelas melati di pinggiran kota. Dia diketemukan dengan posisi tubuh rebah telentang di peraduan, polos tanpa sehelai benang pun yang tersangkut di tubuh, plus sisa obat kuat yang tergeletak di atas meja kecil.
Dan sialnya peristiwa itu lekat benar dikenangan setiap orang. Sampai beberapa tahun sesudahnya. Iya, ternyata dengan cara itulah ia dikenang. Benar-benar dengan cara itulah dia dikenang.
Rupa-rupanya seorang tokoh hebat hanya bisa dikenang dengan satu peristiwa yang kayak begitu itu, menggelikan sekaligus menyedihkan.
Lalu bagaimana dengan aku!? Kenapa ada seseorang orang yang mengenangku!? Memangnya ketololan macam apa yang sudah aku perbuat hingga aku pantas dikenang!? Bahkan oleh seseorang!? Sial benar aku, begitu pikirku, awalnya, sampai...
Katanya, kalau dia pernah mendapatkan pertolongan dari diriku, saat dia benar-benar kesusahan. Katanya lagi, kalau aku telah memberikan satu-satunya harta yang paling berharga yang aku miliki untuk dia miliki.
Harta yang paling berharga yang aku miliki untuk dia miliki!? Emangnya apa harta yang paling berharga yang aku miliki yang telah aku serahkan ke orang lain untuk dimiliki!? Deposito di bank Swiss sana!? Rumah segede istana para raja!? Berpeti-peti emas dan harta karun!? Berhektar-hektar tanah!? Apa jutaan lembar saham!? Mana aku punya yang kayak begitu itu!! Yang pasti sampai aku koit kayak begini ini yang namanya biji mata, jantung, ginjal dan liver masih melekat di badanku. Terus kalau begitu apa yang sudah aku beri!? Berlebihan ini orang...
Dan sialnya kalimat itu terhenti disitu. Benar-benar berhenti sampai disitu. "Dia telah memberikan satu-satunya harta yang paling berharga yang pernah aku miliki untuk dia miliki!"
Sesudah omong begitu dengan seenak jidatnya itu orang balik kanan, tanpa peduli dengan rasa penasaran orang lain. Terutama dari para penuduh yang telah menuduh kalau selama hidup aku tidak ada manfaatnya bagi orang lain-- dari arah belakang hanya isak tangis dan bahu terguncang yang bisa para penuduh nikmati setelahnya.
Tapi buatku itu tak penting!!
Sedari hidup sampai koit begini, menjadi sebuah kenangan itu gak penting!! Gak penting! Lagipun aku gak pernah bercita-cita atau bertekad untuk menjadikan hidupku ini sebuah kenangan buat orang lain, apalagi anak cucu. Peduli setan dengan begitu itu!!
Bagaimana dengan kalian!? Jangan bersependapat, tak baik bila jadi orang yang mem-beo!! Jadilah dirimu sendiri!