Matahari sore menyelinap ke dalam kamar melalui sela tirai yang setengah terbuka. Nina menatap bayangannya di cermin dengan wajah lelah. Kerutan halus mulai tampak di sudut matanya, tanda perjalanan waktu yang penuh luka dan perjuangan. Bukan hanya tubuhnya yang lelah, hatinya juga.
Sudah tiga tahun berlalu sejak ia memutuskan untuk meninggalkan Arman, pria yang pernah ia kira akan menjadi pelindungnya. Namun, kenyataannya berbeda. Arman adalah badai dalam hidupnya, dengan kata-kata yang memukul lebih keras dari tinju, dan tindakan yang melukai lebih dalam dari pisau. Luka-luka itu tak terlihat, tapi Nina merasakannya setiap kali ia mencoba tersenyum.
"Nina, kamu cantik sekali kalau tertawa," ucap seorang pria yang berdiri di ambang pintu.
Nina tertegun, lalu menoleh. Itu adalah Rendra, seorang teman lama yang sejak setahun terakhir sering mampir membantu Nina. Ia adalah tetangga yang ramah, pria yang datang tanpa pretensi, tanpa tuntutan, hanya membawa kehangatan yang sederhana.
"Rendra, kamu bisa masuk tanpa perlu memuji," balas Nina, mencoba menyembunyikan kegugupannya.
"Aku serius. Tapi kamu jarang sekali tersenyum belakangan ini."
Nina hanya mengangguk kecil dan kembali memalingkan wajahnya ke cermin. Di sana, ia melihat dirinya seperti seorang asing.
"Nina," suara Rendra lebih lembut, "aku tahu aku mungkin lancang, tapi... pernahkah terpikir untuk memberi dirimu kesempatan lagi? Tidak harus denganku, tapi untuk bahagia."
Nina tertawa hambar. "Bahagia? Rendra, aku bahkan lupa rasanya bagaimana itu. Setiap kali aku mencoba membuka hati, bayangan Arman selalu datang. Kata-katanya, amarahnya, caranya merendahkanku... Aku tak bisa. Cinta itu seperti belati bagiku sekarang."
Rendra terdiam. Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi di depan Nina. "Aku mengerti rasa takutmu, Nina. Luka-luka itu nyata, dan butuh waktu untuk sembuh. Tapi bukan berarti kamu harus memenjarakan dirimu di dalam bayangan masa lalu. Kadang, membiarkan diri sendiri percaya lagi adalah langkah pertama menuju kesembuhan."
Air mata Nina menggenang di pelupuk matanya. Ia ingin berteriak, mengatakan bahwa ia sudah cukup bahagia hanya dengan dirinya sendiri dan anak semata wayangnya, Hana. Tapi ada bagian kecil di hatinya yang menggema dengan kata-kata Rendra.
"Aku tidak tahu, Ren. Aku takut."
"Tak apa takut," jawab Rendra sambil tersenyum. "Aku hanya ingin kamu tahu bahwa tidak semua cinta itu melukai. Ada yang menyembuhkan. Aku tidak memaksamu, Nina. Aku hanya di sini, kapan pun kamu butuh seseorang yang mendengarkan."
Setelah Rendra pergi, Nina duduk termenung di kamar. Kata-katanya terus terngiang di kepala. Mungkinkah ia terlalu lama mengurung diri dalam trauma? Mungkinkah ada kesempatan untuk dirinya merasakan cinta yang tidak lagi melukai?
Malam itu, Nina berdiri di depan cermin, menatap bayangan dirinya dengan tatapan yang berbeda. Ia tahu, perjalanan menuju kepercayaan adalah jalan yang panjang. Tapi mungkin, hanya mungkin, ia bisa mulai melangkah. Tidak untuk orang lain, tapi untuk dirinya sendiri.
Di sela keremangan malam, Nina menarik napas panjang. Masa lalu mungkin telah menorehkan luka, tapi ia berhak menentukan apakah lukanya akan terus berdarah, atau akhirnya sembuh.