Tahun 2016, entah kenapa terasa begitu jelas dalam ingatanku. Waktu itu, aku masih duduk di kelas 11, dengan hari-hari yang berjalan seperti biasa. Teman-teman sekelasku sibuk dengan urusan mereka sendiri, sementara aku lebih banyak diam. Bukan tipe orang yang suka banyak bicara, lebih suka menyendiri, menatap kosong ke luar jendela kelas, atau sekadar sibuk dengan pikiran sendiri. Rasanya, dunia ini nggak terlalu peduli sama aku.
Segalanya berubah saat dia datang.
Sarah, siswi baru yang pindah ke sekolah kami.
Hari pertama dia masuk masih jelas dalam ingatan. Semua orang langsung menoleh ke arahnya. Dia masuk dengan langkah tenang, rambut panjangnya yang tertutup jilbab putih, dan wajahnya yang... yah, cantik banget. Satu-satunya yang bisa kulakukan saat itu cuma menatapnya dari jauh. Teman-teman sekelasku biasa aja, nggak ada yang terlalu heboh. Namun, kehadirannya membuatku merasa canggung dan malu.
Sarah duduk di bangku yang kosong di dekat jendela. Aku cuma bisa mengamatinya dari jauh, merasa canggung dan nggak tahu harus ngomong apa. Teman-teman sekelas ngobrol tentang hal-hal biasa, sementara aku hanya diam. Nggak ada yang spesial, selain perasaan aneh yang muncul setiap kali melihat dia.
Hari-hari berlalu, dan aku masih merasa takut untuk mendekatinya. Setiap kali melihatnya, aku cuma bisa diam, terdiam dalam kekaguman. Aku tahu dia bukan tipe orang yang mudah didekati, apalagi dengan jilbabnya yang menambah kesan anggun dan penuh wibawa. Aku merasa canggung, takut kalau aku mengganggunya.
Suatu hari, saat jam istirahat, aku melihat Sarah duduk sendirian di luar kelas, asyik dengan ponselnya. Melihatnya dari jauh, hatiku berdebar. Ingin sekali aku mendekatinya, tapi aku tahu diriku bukan orang yang berani. Aku cuma bisa diam, mengamati dari jauh, berharap ada kesempatan lain.
Malamnya, aku nggak bisa tidur. Pikiranku terus dipenuhi oleh sosok Sarah. Aku merasa harus mencari cara untuk mengenalnya lebih jauh. Jadi, aku mulai mencari nama lengkapnya di media sosial. Setelah beberapa lama, akhirnya aku menemukannya. Akun-akun media sosialnya, semuanya ada.
Aku pun memberanikan diri untuk mengirim pesan pertama ke dia, cuma dengan kata "Hai." Rasanya canggung banget, tapi aku pikir itu langkah pertama.
Dua jam kemudian, dia membalas pesanku. Cuma "Hai" juga, tapi itu sudah cukup membuatku tersenyum. Percakapan itu nggak terasa canggung, meskipun aku tetap merasa sedikit grogi. Kami mulai ngobrol tentang hal-hal biasa—tentang sekolah, tentang kegiatan di kelas. Tanpa kusadari, percakapan itu jadi makin nyambung, dan aku merasa semakin dekat dengan Sarah.