Arla duduk di balkon apartemen yang gelap, menampilkan kosong menatap malam yang sepi. Hujan turun perlahan, membasahi kaca jendela dengan irama yang merdu, namun jantung terasa jauh lebih berat daripada beban udara yang menetesnya. Di luar, lampu kota menyala redup, namun semuanya terasa jauh, begitu jauh darinya.
Di dalam ruangan, sebuah kursi kosong menanti. Kursi yang biasanya ditempati oleh Jungwoon, suami yang kini lebih sering menghindarinya. Sejak pernikahan mereka dimulai, sesuatu berubah. Ada ketegangan di antara mereka yang tak terucapkan, sesuatu yang meresap perlahan, membuat kedekatan mereka semakin pudar.
Setiap malam, Arla berbaring di tempat tidur itu sendirian, menunggu suara langkah kaki yang tak pernah datang. Dia rindu sentuhan tangan Jungwoon, ciuman yang dulu pernah mereka bagi, namun kini hanya hampa, seperti angin yang menghilang di tengah malam.
Pintu terbuka, dan langkah kaki yang dikenal itu terdengar. Arla menoleh, matanya penuh harapan, namun melihat ekspresi Jungwoon yang dingin, hatinya serasa teriris. Tidak ada senyuman, tidak ada sapaan mesra. Hanya ada jarak di antara mereka, seperti samudra yang tak terjamah.
Jungwoon berjalan mendekat, namun ada ketegangan di tubuhnya, seperti pria yang memeluk dirinya sendiri. "Arla," suaranya serak, seolah menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kata-kata. “Kenapa kamu tidak bicara?”
Arla menatapnya, matanya yang dulu penuh cinta kini hanya dipenuhi kelelahan. "Aku lelah, Jungwoon. Aku lelah berusaha mengerti, berusaha mempertahankan semuanya, sementara kamu... kamu seperti tidak peduli."
Jungwoon memejamkan matanya sejenak, mencoba menahan emosi yang datang begitu dalam. "Kamu tahu aku mencintaimu," katanya pelan, namun ada kepedihan di dalam suaranya, "Tapi ini lebih besar dari kita berdua. Ini bukan hanya tentang kita."
Kepala Arla menunduk, air mata mulai mengalir tanpa bisa ditahan. "Aku tahu, Jungwoon. Aku tahu. Tapi kenapa kita harus menderita seperti ini? Aku hanya ingin kamu di sini, dengan aku."
Ada keheningan sejenak sebelum Jungwoon melangkah mendekat. Tangannya dengan lembut mengusap air mata Arla, kemudian menahan wajahnya, memaksa mata Arla menatapnya. "Aku juga ingin itu," bisiknya, dan untuk sesaat, Arla bisa merasakan kehangatan dalam sentuhannya yang dulu begitu dia rindukan.
Mereka berdua saling mendekat, nafas mereka saling bersatu dalam kenyamanan yang penuh beban. Ciuman itu datang, lembut namun penuh hasrat yang terpendam lama. Seolah-olah setiap ciuman itu adalah permohonan maaf, setiap sentuhan adalah pengakuan atas kesalahan yang tidak terucapkan. Namun, saat mereka terpisah, ada kesepian yang semakin mengisi ruang di antara mereka.
"Aku tidak tahu bagaimana harus melanjutkan ini," Arla berbisik, suaranya pecah di tengah malam. "Aku takut kehilanganmu, Jungwoon."
Jungwoon menggenggam tangan Arla semakin erat, seolah mencoba menyatukan mereka kembali, namun jantungnya juga hancur. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi," jawabnya dengan suara yang hampir tidak terdengar, tapi Arla tahu—tidak ada kata-kata yang bisa benar-benar menyembuhkan luka ini.
Keheningan menggagalkan mereka sekali lagi, dan dalam pelukan itu, ada rasa sakit yang tak bisa diungkapkan—sebuah kisah cinta yang terjalin dengan cara yang begitu rumit, begitu melankolis, namun tetap penuh gairah yang tak terhindarkan.