Malam itu, angin kencang menghantam jiwa saya yang rapuh. Saya duduk di halte bus, pikiran masih kalut karena masalah hari itu. Saya menunduk, menatap tanah, tubuh bergetar menahan tangis. Jalanan masih ramai, orang berlalu-lalang tak peduli dengan kesedihan saya.
Tiba-tiba, suara lembut memanggil saya. "Ay," kata Frian pelan.
Saya mendongak, bingung melihat Frian berdiri di hadapan saya dengan raut wajah khawatir. "Iya, Ka Frian?" jawab saya bingung, masih menatapnya heran.
"Tidak, hanya manggil." Kata Frian acuh.
Saya tahu itu bukan sekedar memanggil, tapi saya juga tidak mau GR.
Dan semenjak malam itu, dia selalu menolong saya. Walaupun sifat dia yang super cuek nyatanya tidak, kita nyambung. Dan semenjak malam itu juga saya mulai ada rasa, rasa mengagumi, rasa suka dan tanpa bisa saya miliki. Karena Frian terlalu populer, prestasi yang dia dapat, pencapaian tinggi yang ia miliki. Membuat saya semakin jauh dari langkah dia, semakin saya melangkah, semakin jauh pula dia berlari.
Dan saya hanya bisa berdiri dibelakang dia, sambil mengikuti jejak-jejak dia. Karena bisa memiliki nyatanya itu hanya mimpi, ke-tidak mungkinan.
Dan lambat laut, saya masih berdiam ditempat. Sambil menikmati kabar angin yang selalu menyayat hati, kabar angin si Frian dekat dengan A, dekat dengan B. Dan saya hanya bisa berdiam, karena mencintai seseorang tidak bisa memiliki cukup jadi support transparan. Itu sudah cukup.
Tapi... Suatu ketika, saya sudah benar-benar lelah mendengar kabar ini dan itu. Dia datang dengan sendirinya, hal pertama yang dia ucapkan "Apa kamu baik-baik saja sekarang?"
Dan ntah keberanian dari mana, saya langsung jawab "Saya tidak baik-baik saja, saya suka sama Kaka. Tapi__saya selalu insecure, sadar diri akan semua hal."
"Sadar diri, hanya untuk orang yang lemah! yang tidak tahu seberharga apa dirinya." Kata Frian memandang saya dengan intens.
Dan semenjak saat itu saya atau pun Frian, kita semakin dekat, yah anggaplah pacaran sembunyi-sembunyi. Karena saya menghargai profesi dia, dan dia menghargai saya yang masih pemula.
Ntah masa depan seperti apa yang akan kita lalui nantinya, kita hanya melihat nanti sambil berproses dengan hubungan ini.
Tamat.