Cantik tapi masih standarlah bila disandingkan dengan kegantenganku. Namun yang membuat kecantikannya seolah tampak maksimal adalah karena keberaninanya tampil apa adanya. ketomboyannya pun melukiskan pesona pada ribuan pasang mata laki laki yang melihatnya.
Sri Lestari, begitu orang orang memanggilnya, seorang putri jawa yang merantau di ibu kota, meski sebenarnya aku dan Sri berasal dari desa tapi Sri seolah tidak menunjukan jati dirinya sebagai seorang yang berasal dari desa, dari dialeknyapun tak terlihat sama sekali logat jawanya.
Katanya sih “sudah dilatih biar tidak terlihat ndeso,masa bertahun-tahun tinggal di Jakarta tapi logat daerahnya masih terlihat” .
dialek jawanya yang khas tak terlihat pada Sri bukan berarti karena lama sudah dia merantau akan tetapi karena memang Sri ingin terlihat seperti anak kota umumnya yang terkesan lebih gaul.
“memang kenapa kita mesti malu kalau dialek kita sangat kentara logat daerahnya?” kataku
“bukannya malu...tapi kita harus menyesuaikan dimana kita tinggal khan biar terlihat gaul gitu...” sri beragumen.
Itulah Sri Lestari, tomboy, terlihat supel dengan teman-teman prianya sedangkan aku tampil sederhana apa adanya,Sri yang boros dengan uang hasil kerjanya sedangkan aku yang amat jauh berbeda dengan Sri
“Sri sebaiknya kamu..tu lebih banyak bergaul sama perempuan sekerjamu gitu..”kataku
“males gua gaul ame kl ama cewek,apa-apa gampang dimasukin hati, kerjaanya pada ngegosip melulu” begitu kayanya.
“khan kalau kamu begini terus orang akan menilai kamu yang terus negatif "kataku.
“bodo amat...orang lain memang hanya menilai Sri dari luarnya aja”diucapkannya dengan kesal
Sri yang tomboy yang lebih banyak menghabiskan waktu bergaul dengan cowok ketimbang dengan sesama kaumnya sendiri, karena itulah banyak perempuan yang mengatakan bahwa Sri cewek Play girl,cewek Tomboy dan sebagainya.akupun tak menyalahkan mereka sebab mereka menilai apa yang terlihat oleh mata tanpa dipastikan secara pasti keadaan sesungguhnya, memang mereka berhak menilai begitu tapi rasanya bagiku amat terlalu jauh bila aku berasumsi sama dengan mereka tentang sisi Sri.
memang secara faktanya dilapang banyak cowok yang menjadi korban perasaan karena seolah cowok itu dikasih harapan padahal Sri hanya menganggapnya sebagai teman saja.
BODO AMAT itulah kalimat yang selalu ia ucapakannya seolah Sri enggan menerima nasehat meskipun itu dari temannya sendiri,memang Sri tomboy bukan karena tanpa sebab,Sri hanyan ingin mengekspresikan kekesalannya dimasa lalu.ya semacam bales dendam karena masa lalu Sri yang penuh kekangan banyak aturan ini dan itu.
Sri Sendiri lahir sebagai orang Desa disalah satu kabupaten di Jawa Tengah,ia hidup dikampung yang masih menjunjung adat dan istiadat jawa yang masih kental dan tentu aturan dan tatakrama menjadi suatu hal yang wajib ditaati.Sri hidup dari kalangan ekonomi menengah kebawah,Ibunya hanyalah seorang Ibu rumah tangga biasa sedang Ayahnya bekerja diluar kota sebagai Perdagang Kaki Lima tapi Sri mestinya tetap bersyukur kareana Ibunya sadar akan pendidikan.Sri Sendiri disekolahnya Selalu mendapat Prestasi yang bagus tak heran bila ia selalu dapat peringkat Rangking 10 besar.
SD sampai SMP dilaluinya dengan Prestasi yang bagus,Sri punya cita-cita melanjutkan Ke SMA Favorit di Kota kecilnya,sayang keinginan itu bertentangan dengan orang tuanya,singkatnya Sri terpaksa dengan berat hati is melanjutkan ke Madrasah Aliyah sambil mengenyam pendidikan di Pesantren.dengan kekangan dan paksaan orang tua,Sri melewati hari-harnya di Pesantren sampai tak terasa 3 tahun pun berlalu.
Sekarang di Tahun 2011 Sri Kuliah di Kampus Swasta di Jakarta,meski Ayahnya tinggal di Jakarta tapi Sri tidak mau tinggal bareng dengan Ayahnya,Sri ngekost dekat kampusnya di daerah Jakarta Selatan,ia kuliah sembari bekerja.mencari uang untuk kebutuhan sendiri dan untuk kuliahnya tentu hal itu ia lakukan bukan karena ingin meringankan beban orang tua tapi kareana Sri ingin menunjukan bahwa ia bisa bertahan tanpa bantuan siapapun jadi Mereka tak bisa saja mengatur terlalu jauh tentang hidup Sri.
Sri Sekarang merasa bebas,bisa hidup sendiri tanpa bantuan siapapun dan hidup tanpa aturan,kini tiapa malam minggu ia bisa main ketempat manapun tanpa khawatir apakah waktu sudah larut malam atau tidak?ia kini bisa memilih baju apapun yang ia suka terlepas apakah baju tertutup atau baju sexy...ia berani kareana toh dibenaknya “terserah gua,baju yang beli pake duit gue ini,ngapain orang lain larang”.kini ia hidup bebas bak kuda yang baru lepas dari kandangnya.aku pun sering menasehatinya untuk bersikap dan bertingkah laku layaknya alumni Pesantren umumnya karena amat sayang bila Sri bersikap Tomboy dan titik-titik padahal Sri mempunya suara yang merdu loh bila ia membaca Al –Qur’an.
Pada saat terakhir kali aku berjumpa dengannya, ia menuturkan bahwa saat itu ia ingin menjalani hari-harinya seperti biasa sembari mencari Makna Kebahagiaan yang ia cari.
Sri Sadar bahwa dibalik Kebebasanya yang ia dapatkan ternyata tak mampu menemukan kedamaian yang ia dambakan. lantas bagaimana kebahagiaan itu bisa didapatkan? ini yang masih Sri cari.
aku pun dan Sri kini terhalang Jarak dan waktu dan tak tau kabar Sri sekarang seperti apa dan bagaimana karena semua yang berhubungan dengan Sri Hilang baik No HP,Facebooknya pun tidak aktif lagi,kuharap Sri sekarang bisa menjadi apa yang orang tuanya harapkan tentunya kembali menjadi feminim lagi seperti layaknya dulu ketika ia melewati hari-harinya dikampung.
Notes: tulisan lama saya,awal belajar.