Aku heran melihat wanita separuh baya itu, tak henti-hentinya bercerita mengenai suaminya yang sudah dua tahun berselingkuh dan menikah dengan wanita separuh baya sama seperti dia, mungkin lebih muda sedikit darinya. Dia tidaklah buruk rupa. Dia juga bukan istri yang kejam pada suaminya, selalu memasak makanan yang disukai suaminya, memenuhi kebutuhan suaminya apapun itu.
Hal itulah yang sering dia ucapkan untuk membela dirinya yang tidak bersalah dari orang ke orang. Aku sungguh penasaran padanya, apakah dengan bercerita beban di hatinya berkurang.
Dia duduk di teras rumah kami begitu dia sampai. Awalnya dia diam dan tak mengatakan apapun saat itu. Aku juga diam sambil duduk di atas kursi dan mengayunkan ke dua kakiku ke depan dan kebelakang sambil menunggu ceritanya pada ibu.
“Kak, aku tak tahu harus bagaimana,” ucapnya memulai ceritanya.
“Ada apa lagi?” sahut ibuku dengan mimik wajah yang sulit ku ungkapkan.
"Dia sudah jarang pulang sekarang, semua yang ada padaku menurutnya adalah salah.”
“Sudah berapa kali aku katakan padamu, laki-laki memang seperti itu. Dulu kali sudah kukatakan juga, kau harus pandai merawat diri agar tampak awet muda agar suamimu tak berpaling darimu seperti sekarang.”
“Seharusnya dia juga sadar semakin hari seorang manusia semakin tua dan semakin keriput. Bukan manusia yang hanya bisa mencintai disaat masa cantik seseorang. Dia juga tak setampan dulu dan tak sebagai dulu tapi aku tetap mencintainya."
“Sabarlah, suatu saat dia pasti akan kembali padamu.”
Kata terakhir ibuku menjadi sedikit penghibur baginya. Bahwa suatu saat suaminya yang kejam itu akan kembali padanya. Merengkuhnya dalam duka nestapa serta bahagia. Adik ibuku ikut mendengarkan cerita wanita itu di teras rumah kami. Dia mengusirku dari kursi agar dia punya tempat untuk duduk. Aku langsung pergi begitu saja aku duduk dilantai sambil memeluk kaki ibuku yang tergantung di bawah kursi tempat ia duduk.
“Biar saja dia beristri selain Kakak yang penting uang semua ada di tangan Kakak dan juga anak-anak Kakak memihak pada Kakak bukan?"
“Benar uang memang ada padaku, anakku juga membelaku tapi hatiku tidak menerima."
“Jika kakak bersikeras, aku takut dia akan meninggalkanmu."
"Hatinya sudah lama meninggalkanku," jawabnya lemah.
Dia mengajakku ikut ke rumahnya. Aku terus mengikutinya dari belakang. Katanya di sana ada makanan enak yang mungkin aku menyukainya. Begitu masuk pintu rumah itu, rumah itu jauh dari kesan hidup apalagi kenyamanan, begitu sunyi. Anak gadisnya yang beranjak remaja begitu sampai, langsung melihat mata ibunya dan menanyakanan keberadaan ayahnya. Dimana ayahnya. Wajahnya tiba-tiba saja berubah menjadi masam entah karena dia kesal aku makan di rumahnya atau karena ibunya tak menyahuti pertanyaan.
Aku mendengar suara sesenggukan dari kamar gadis remaja itu. Kadang jelas, kadang hampir tak terdengar. Namun suara itu berlahan hilang dan digantikan oleh musik yang membuat hati gembira bahkan memaksa untuk ikut bergoyang mengikuti musik. Kaki yang berada di bawah meja makan sudah bergoyang sesuai nada yang ku dengar, kadang cepat, lambat dan kadang mendayu.
Lama aku menunggu gadis itu keluar kamar untuk makan bersama kami. Namun dia tidak juga muncul bahkan tangannya pun tidak pernah ku dengar menyentuh gagang pintu. Aku penasaran kapan dia keluar. Aku duduk di teras rumah mereka di atas bangku bambu yang indah menurutku.
Aku lelah menunggu anak gadis itu, aku pulang dengan perasaan kacau. Sungguh aku ingin kembali esok melihat dia keluar dari kamar dan tersenyum padaku dengan ramah seperti biasanya. Menurutku dia gadis yang manis seharusnya, rambutnya panjang dan hitam.
Dia juga biasanya sering tersenyum saat aku menunjukakan senyum manisku padanya. Sekarang bahkan dia enggan menatapku dengan senyum yang tipis.
Hari berubah namun cerita wanita paruh baya itu tetap sama. Kali ini aku berjumpa dengannya di warung tempat biasa ibuku menyuruhku membeli garam, cabe, bahkan jarum jahit. Kali ini aku melihatnya menangis sambil bercerita tentang hal yang sama. Aku baru tahu belakangan bahwa suaminya berselingkuh dengan ibu dari teman anak gadisnya yang menangis kemarin.
Aku terlalu ingin tahu pada wanita paruh baya ini, aku selalu mencuri kesempatan mencuri cerita darinya yang amat menyayat hati, bukan hanya hati pendengarnya namun juga hatinya sekaligus.
Aku merasa semakin dia bercerita semakin besar sayatan yang di hatinya, tapi mungkin dia merasa dengan bercerita semakin banyak orang yang peduli padanya. Ibuku bahkan sudah lupa dengan ceritanya saat dia melangkah sepuluh langkah dari teras rumah. Aku takut mendengar cerita yang sama darinya saat bulan telah berganti menjadi Januari dan tahun telah berubah angkanya menjadi 2019. Aku takut wanita itu menderita terlalu lama. Aku merenungi apa yang akan kukatakan jika bercerita padaku suatu saat nanti.
“Apa kau tahu bahwa pamanmu telah berselingkuh dengan perempuan lain?“
“Iya Bi, aku tahu. Karena aku selalu ada saat Bibi bercerita tentang dia dengan siapa pun.”
“Tidak ada yang berubah padaku, aku selalu dan sangat mennyayangi pamanmu dari dulu dan sekarang.”
"Maaf, Bi. Aku tidak tahu harus bicara apa sekarang."
Aku terbangun dari lamunanku yang panjang ketika kuku kucing menggores kulit kakiku dan sekarang aku melihatnya berjalan ke arahku sambil tersenyum sangat tipis bahkan terkesan dipaksakan. Dia duduk di teras rumah aku di kanan dan dia disebelah kiriku.
Dia tidak bercerita apapun dan aku merasa lega, aku tak mendengar satu katapun dari mulutnya yang sering bercerita. Aku bersyukur dia tak bercerita padaku, aku takut dia bercerita juga pada anak seusiaku. Aku tersadar bahwa keadaannya masih cukup baik tak seterpuruk yang kubayangkan sebab dia tak bercerita padaku. Beberapa menit aku sedikit riang melihatnya yang sekarang tanpa cerita tentang suaminya yang berselingkuh, satu menit kemudian dia bangkit dari duduknya dan berkata.
“Apa kau tahu pamanmu berselingkuh dengan wanita lain?”
Aku tak bisa berkata-kata, aku menarik semua perkataanku yang mengatakan dia cukup baik keadaannya sekarang. Dia sakit, sakit jiwanya, hati dan badannya. Aku sedih melihat keadaan bibiku yang bercerita tentang perselingkuhan suaminya pada anak kelas lima SD berumur 12 tahun, pada diriku.
Diam-diam aku menangis untuknya hari itu dan memutuskan untuk tidak mendengar ceritanya lagi. Sungguh aku takut dia akan menjelma seperti ayam jantan yang selalu memberitakan hal yang sama setiap hari saat mentari menyapa bumi dan tidak terbatas waktunya.