Aku pernah berada di suatu masa, di sebuah lingkaran yang ingin sekali dihindari, namun ternyata belum bisa dihindari. Suatu masa yang harus dilalui kembali.
Malam ini kembali di kamar 409 gedung A rumah sakit ini. Kembali aku menandatangani segala berkas,terpampang gambar postur tubuh manusia yang sudah ditandai untuk dilakukan tindakan operasi. Bau sabun mandi persiapan operasi yang tak kusuka kembali dicium hidung ini.
Berderet nasehat kudengar, Firman Tuhan yang didaraskan dan yang kubaca menahan kaki ini untuk berlari kabur dari lingkaran ini, walau mulut ini yang setajam pisau membelah hati melalui setiap kata yang ku ucap.
Karena kata-kata yang bisa jadi peluruku karena aku merasa sakit, aku ingin membalas sakit ini, aku ingin orang memahami bahwa aku sakit dan menyesal.
Rumah Singgah kadang kuanggap sebagai tempat retreat lama kelamaan terasa seperti di padang gurun, aku sebenarnya ingin tidak seperti umat Israel zaman Nabi Musa. Sejujurnya tiang api dan tiang awanNya Tuhan selalu terasa. Berkata Penyertaan aku rasa di rumah Singgah.
Pertemuan dengan beberapa keluarga yang sangat menorehkan pengalaman dan perasaan yang mendalam menyadarkan aku bahwa pertemuan di saat sukar akan lebih bermakna dibanding saat bahagia, harapan kami saat berpisah kami akan bertemu dengan kisah yang lebih bahagia
Lalu salahnya di mana? Salahnya di hati ini, di diri ini, aku rasa penat aku lebih membandingkan diri dengan semua teman-temanku. Kenapa aku tidak seperti mereka. Akhirnya jatuh ke perasaan menyalahkan.
Aku menyalahkan diri, mengapa dulu mau masuk dalam lingkaran ini. Banyak yang sudah memberi nasehat, aku berkata siap namun ternyata saat jalani air mata ini tak berhenti.
Aku sadar tak bisa seperti ini, bila terus seperti ini, aku akan gila.
Setiap pagi saat bangun tidur ku hirup udara dalam-dalam, dengan sejuta harapan bahwa akan ada saat aku bisa keluar dari lingkaran ini. Doa pagi di hati sebab aku masih percaya kuasa Tuhan.
Empat bulan aku rasa hanya berjalan memutar, namun sebenarnya tidak. Akhirnya aku sadar alasan aku merasa jalan memutar saja karena aku yang belum lulus ujian. Layaknya aku menilai siswa ada tiga kriteria sikap, pengetahuan dan praktik.
Pengetahuanku bagus aku mengatur segalanya sesuai pemahamanku, praktiknya aku sudah banyak berani berkorban, namun sikapku Masih banyak remedial, aku belum dewasa, masih banyak mengeluh, khawatir dan cepat putus asa.
Indikator untung dan malang, bila ku hitung-hitung banyak untungnya, pekerjaanku semakin baik, banyak kota kukunjungi, pertemanan yang banyak, dan banyak yang membantu.
Aku tak berani bicara banyak, aku takut tiba-tiba aku meledak, aku hanya bisa berterima kasih untuk masa ini. Aku masih di dalam lingkaran ini namun imanku berkata aku telah sampai di Kanaan.
Kemalangan orang benar banyak namun Tuhan meluputkannya, aku percaya perkataan ini, malam ini tidak ada yang kusesali. Tidak semua orang bisa melalui perjalanan yang aku jalani ini.
Terima kasih Tuhan untuk waktu ini, aku akhirnya memiliki alasan untuk tetap setia bertahan berjalan hingga akhir, alasanku adalah aku percaya Tuhan yang aku sembah akan mendewasakan aku, akan membawa aku kepada kemenangan dan tidak akan pernah membiarkan aku mendapatkan malu.
Aku tahu bukan berarti saat aku keluar dari lingkaran ini aku akan berjalan di jalan tol bebas hambatan, masih ada jalan yang berliku-liku namun aku yakin aku bisa jalan hingga akhir dengan iman di hati yang menguatkanku.
Alasanku berterima kasih kepada masa ini adalah jika aku tak pernah berada di masa ini, aku tak akan kuat, aku tak memahami makna kata sabar.