“Aku nggak ngerti. Emang harus gini ya?”
Nadia menatap handphonenya yang menyala, memperlihatkan nama contact yang sudah berulang kali ia coba hapus tapi nggak pernah benar-benar sanggup. Ada jeda di antara suara berat di seberang yang membuat perasaannya semakin remuk.
“Bukan harus, Nad,” suara di telepon itu terdengar pelan. “Tapi kayaknya ini yang terbaik buat kita.”
Ia menarik napas panjang, menahan air mata yang sudah menggantung di pelupuk. Ia duduk di tepi kasur. Ini bukan pertama kalinya mereka bicara soal ini. Tapi kenapa rasanya sekarang lebih nyata?
“Jadi semua ini selesai? Gitu aja?”
“Bukan gitu. Kamu tahu, kan? Kita udah nyoba… udah berusaha.”
“Coba apa?! Usaha gimana?!” suara Nadia meninggi. “Kita nggak pernah benar-benar nyoba! Yang ada, kamu nyerah duluan, Raf!”
“Bukan nyerah, Nad. Tapi… aku capek. Capek banget.”
Nadia diam. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras dari yang dia kira. Dia tahu ada masalah. Mereka sering berantem. Hal-hal kecil sering jadi besar. Tapi dia nggak pernah nyangka kalau Raffa akan sampai di titik ini.
“Aku sayang kamu, Nad,” kata Raffa, nyaris seperti bisikan. “Tapi aku rasa, rasa sayang ini malah bikin kita saling nyakitin.”
“Kita cuma butuh waktu. Itu aja, Raf. Kita butuh waktu buat benerin ini semua.”
“Nadia…”
Suara itu terdengar putus asa. Dan hanya itu yang dia dengar sebelum sambungan terputus.
*****
“Dia bilang apa?”
Nadia mendongak dari posisi mematungnya. Rani, sahabatnya, duduk di depannya dengan dua gelas teh tarik yang sudah dingin di meja.
“Ya gitu, Ran,” jawab Nadia, suaranya parau. “Dia mau udahan.”
Rani menghela napas, mencoba bersikap netral, meskipun sebenarnya ia sudah menduga hal ini bakal terjadi.
“lu udah coba ngomong sama dia baik-baik?”
“Udah. Tapi dia tetep bilang ini yang terbaik. Apa itu artinya gue nggak cukup buat dia?”
“Bukan gitu, Nad,” potong Rani. “Kadang ada orang yang emang udah nggak bisa bareng lagi, bukan karena nggak cukup. Tapi karena ada hal-hal yang lebih besar dari cinta.”
Nadia terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan emosi yang membuncah.
“Terus gue harus gimana sekarang?”
“Move on,” jawab Rani tegas. “Gue tahu itu nggak gampang. Tapi lu harus coba. Dari pada lu terus-terusan nyalahin diri sendiri atau mikir yang nggak-nggak.”
“Move on?” Nadia tertawa kecil, getir. “gue nggak tahu gimana caranya. Kalau semua tempat, semua hal, semuanya ngingetin aku sama dia.”
*****
Seminggu setelah telepon itu, Nadia masih sering membuka galeri ponselnya. Foto-foto Raffa masih ada di sana, tersusun rapi dalam folder khusus. Ia belum punya keberanian untuk menghapusnya.
“masih belum hapus, Nad?” tanya Rani saat mereka sedang nongkrong di kafe biasa.
Nadia hanya menggeleng. “Gue nggak sanggup, Ran.”
“Lo kayak nyiksa diri sendiri.”
“Gue tahu,” jawab Nadia. “Tapi Gue juga nggak tahu harus mulai dari mana.”
Rani mendesah. “Mungkin lo butuh distraksi.”
“Distraksi gimana?”
“Kayak… cari kesibukan baru, ketemu orang-orang baru. Jangan cuma ngurung diri di rumah atau stalking akun Instagram dia.”
“Gue nggak stalking!” sergah Nadia, meskipun itu bohong.
“lo nggak usah bohong sama gue. Gue tahu lo masih sering ngecek story dia.”
Nadia hanya menunduk, merasa tertangkap basah.
“Udah, deh. Kita cari kegiatan yang seru,” kata Rani sambil tersenyum. “Gye tahu tempat kursus masak. Kita ikut aja. Seru, lho!”
*****
Hari pertama kursus masak ternyata bukan distraksi yang buruk. Nadia merasa pikirannya sedikit teralihkan ketika harus fokus memotong sayur atau mencoba mengikuti instruksi chef yang energik.
“Tuh, kan, Gue bilang juga apa!” seru Rani sambil tertawa ketika melihat Nadia sibuk mengaduk saus pasta.
“Gue nggak nyangka ini bisa bikin Gue lupa sama dia… walaupun cuma sebentar,” jawab Nadia jujur.
“Itu baru langkah kecil. Lama-lama lo bakal lupa beneran.”
Nadia tersenyum samar, walaupun hatinya masih ragu. Apa bener waktu akan menyembuhkan segalanya?
*****
Namun, waktu ternyata nggak semudah itu. Seminggu setelahnya, Nadia tanpa sadar kembali membuka folder foto Raffa di ponselnya. Ada satu video yang belum pernah dia tonton lagi sejak mereka putus.
Dalam video itu, Raffa terlihat sedang tertawa lepas. Mereka sedang di pantai waktu itu. Suara Nadia terdengar di latar, menggodanya karena pasir di wajahnya.
“Kamu kenapa ngerekam aku?” Raffa tertawa. “Liat aja nanti. Video ini bakal bikin kamu kangen sama aku kalau kita jauh.”
Nadia menutup mulutnya, mencoba menahan tangis. Tapi akhirnya dia menyerah.
“Kenapa semuanya harus berubah, sih?” bisiknya, entah untuk siapa.
*****
Dua bulan berlalu. Nadia masih dalam proses. Beberapa hari terasa lebih mudah, tapi ada juga hari-hari di mana dia merasa kembali ke titik nol.
“Hari ini lo nggak nangis, kan?” tanya Rani saat mereka sedang makan siang.
“Enggak,” jawab Nadia sambil tersenyum tipis.
“Bagus. Itu artinya lo perlahan mulai move on.”
“Gue cuma capek nangi Terus, ran.”
“Itu tetep progress, kok.”
Nadia mengangguk. Ia tahu sahabatnya benar. Tapi ada bagian kecil dari dirinya yang masih merasa berat melepaskan Raffa sepenuhnya.
*****
Suatu sore, Nadia berjalan-jalan sendirian di taman kota. Ia membawa buku catatan kecil yang selalu ia isi dengan pikiran-pikirannya.
Ketika duduk di bangku taman, ia membuka halaman terakhir. Ada satu kalimat yang ia tulis beberapa minggu lalu.
"Kalau ini takdir, aku harus ikhlas. Tapi kalau ada kesempatan, aku ingin memperbaiki semuanya."
Nadia membaca ulang kalimat itu berkali-kali. Tapi kali ini, ia merasakan sesuatu yang berbeda.
“Mungkin Gue nggak perlu memperbaiki apa-apa,” gumamnya. “Mungkin yang perlu diperbaiki cuma diri gue sendiri.”
Ia tersenyum samar, menutup bukunya, dan memandang langit senja yang mulai berubah warna.
*****
Beberapa bulan kemudian, Nadia sudah mulai merasa lebih baik. Meski kenangan tentang Raffa tetap ada, ia sudah bisa mengenang tanpa merasa sesak.
Suatu hari, ketika sedang berjalan di sebuah pusat perbelanjaan, ia tak sengaja melihat sosok yang familiar.
“Raffa?”
Pria itu menoleh, terlihat terkejut. “Nadia? Kamu… apa kabar?”
Mereka saling bertukar senyum kecil. Tak ada rasa canggung, hanya ada kehangatan yang anehnya menenangkan.
“Aku baik,” jawab Nadia. “Kamu?”
“Aku juga.”
Mereka berbincang sebentar, hanya soal kabar dan kegiatan masing-masing. Lalu, sebelum berpisah, Raffa berkata, “Nad, aku seneng banget liat kamu sekarang. Kamu kelihatan lebih bahagia.”
Nadia tersenyum. “Terima kasih, Raf. Kamu juga.”
Saat mereka berjalan menjauh, Nadia menyadari sesuatu kenangan tentang Raffa memang akan selalu menjadi bagian dari dirinya. Tapi itu tidak berarti ia tidak bisa melanjutkan hidup.