Hanabi berdiri di puncak bukit, memandang ke arah matahari terbenam yang perlahan-lahan melukis langit dengan warna emas dan jingga. Angin senja bertiup lembut, mengibaskan rambut hitamnya yang panjang dan sutera, sementara dia memegang erat senjatanya—kunai yang diasah dengan penuh hati-hati. Di dalam dirinya, ada pergolakan perasaan yang tidak dapat disingkirkan.
Di dunia ninja, kekuatan dan kehormatan adalah segalanya. Hanabi, yang dikenali sebagai "Kibou no Senshi" atau "Pahlawan Harapan," telah membina namanya sebagai salah satu ninja terhebat dari klannya. Namun, di sebalik keberaniannya di medan pertempuran, ada satu bayangan yang selalu menyelubungi hatinya—bayangan seorang lelaki yang pernah menjadi sahabatnya, dan kini musuhnya: Hayabusa.
Mereka pernah berlatih bersama, saling bersaing untuk menjadi ninja terhebat. Hayabusa dengan keanggunan dan kecepatannya, dan Hanabi dengan ketangkasannya yang tajam dan kemahiran luar biasa. Persahabatan mereka berkembang di atas arena latihan, namun seiring berjalannya waktu, jalan mereka semakin berbeza.
Hayabusa dipilih oleh klan untuk menjadi Shadow of Iga, gelar yang membawa tanggung jawab besar sebagai pembunuh bayangan yang ditugaskan untuk melindungi kehormatan klan. Hanabi merasakan jarak antara mereka semakin melebar ketika Hayabusa mulai memikul beban tugas itu. Walaupun dia seharusnya bangga dengan pencapaian Hayabusa, Hanabi tidak dapat menghindari rasa cemburu dan kesepian yang semakin dalam.
Pada suatu malam, segalanya berubah.
***
Di tengah kegelapan malam, Hanabi sedang berpatroli di pinggir hutan klannya ketika dia mendengar suara langkah kaki yang ringan dan cepat. Tanpa ragu-ragu, dia menyelinap ke dalam bayang-bayang pohon besar dan menunggu. Ketika sosok itu muncul, jantungnya berdegup kencang. Dia mengenali langkah itu. Itu Hayabusa.
Namun, ada sesuatu yang aneh. Wajah Hayabusa nampak tegang, penuh dengan beban. Dia bergerak dengan keheningan yang mengkhianati emosinya. Hanabi menahan nafasnya, tidak ingin dia menyedari kehadirannya. Tapi Hayabusa berhenti sejenak, dan dalam detik itu, dia berbisik dengan nada yang dia kira takkan didengar sesiapa, "Maafkan aku, Hanabi."
Hanabi terkedu. Mengapa Hayabusa meminta maaf? Dia tidak sempat bertanya kerana dengan kecepatan luar biasa, Hayabusa menghilang ke dalam kegelapan. Di dalam hatinya, Hanabi tahu sesuatu yang besar sedang berlaku—sesuatu yang mungkin melibatkan pengkhianatan atau misi rahsia yang mengancam keselamatan klan.
Sejak malam itu, Hanabi tidak dapat melepaskan perasaan bahawa Hayabusa menyembunyikan sesuatu darinya, sesuatu yang mungkin merubah takdir mereka berdua. Rasa cemas dan ingin tahu memakan dirinya. Dia mulai mencari jawapan, menyelidiki langkah-langkah Hayabusa dari kejauhan.
***
Hari demi hari berlalu, dan takdir mempertemukan mereka kembali di suatu pertempuran yang tidak diingini. Di lembah tersembunyi di mana bayang-bayang dan cahaya bertemu, Hanabi dan Hayabusa akhirnya berhadapan. Senjata mereka sudah terhunus, tetapi mata mereka saling bertaut, membawa beban masa lalu yang masih belum terungkap sepenuhnya.
"Hanabi," ujar Hayabusa dengan nada penuh kekesalan. "Aku tak ingin kita sampai ke titik ini."
"Begitukah?" Hanabi menjawab dingin, meskipun di dalam dirinya, hatinya bergetar. "Kau pergi tanpa penjelasan. Kau tinggalkan semua dan kini kembali dengan beban yang kau sendiri tidak mampu jelaskan."
Hayabusa diam. Wajahnya penuh dengan rasa bersalah, namun juga tekad. "Aku membawa beban yang bukan milikku sendiri. Aku terpaksa melakukan ini demi melindungi klan kita, meskipun itu bererti aku harus melawanmu."
Hanabi mengerutkan kening, merasakan sesuatu yang lebih besar di balik kata-kata itu. "Apa maksudmu?"
"Ada ancaman yang datang dari dalam klan sendiri, dan aku diperintahkan untuk memburunya. Tapi aku juga terlibat terlalu dalam sehingga tidak boleh kembali seperti dulu." Hayabusa menarik nafas dalam-dalam. "Jika aku gagal, semuanya akan musnah, termasuk kau."
Hanabi terdiam. Dia memahami sekarang, di balik semua rahsia dan bayang-bayang, Hayabusa telah berusaha melindungi bukan hanya klan, tetapi dirinya juga. Namun, rasa sakit hati dan pengkhianatan masih menyelubungi dirinya.
"Aku tidak memerlukan perlindunganmu, Hayabusa. Aku boleh menjaga diriku sendiri," kata Hanabi, walaupun di dalam hatinya, dia tahu bahawa perkataannya hanya untuk menyembunyikan luka yang lebih dalam.
"Tapi aku memerlukanmu," jawab Hayabusa dengan tenang, tetapi penuh emosi. "Kita pernah menjadi satu pasukan. Aku mungkin telah mengambil jalan yang salah, tetapi aku tidak pernah melupakanmu. Kau selalu ada dalam fikiranku, bahkan ketika aku di ambang kegelapan."
Hanabi merasakan air mata mengalir di sudut matanya. Betapa dia ingin percaya pada kata-kata itu, namun luka-luka masa lalu masih membebani hatinya.
"Ini bukan tentang masa lalu lagi, Hayabusa. Ini tentang sekarang dan masa depan kita," katanya perlahan. "Jika kita mahu bertahan, kita harus saling mempercayai lagi. Tapi bagaimana kita bisa melakukannya jika kau selalu bersembunyi di balik bayang-bayang?"
Hayabusa mendekat, wajahnya penuh dengan penyesalan. "Aku tahu aku telah banyak membuat kesilapan, tetapi percayalah, Hanabi. Di balik semua bayang-bayang ini, hanya ada satu cahaya yang aku kejar—dan itu adalah dirimu."
Kata-kata itu menghentikan pergerakan Hanabi. Dia menatap Hayabusa, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia melihat lelaki yang pernah dia kenal—bukan sebagai musuh, bukan sebagai pembunuh bayangan, tetapi sebagai seseorang yang pernah menjadi sahabat dan kini lebih dari itu.
Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya, meninggalkan malam yang gelap. Tapi di antara Hanabi dan Hayabusa, cahaya harapan mulai menyala kembali. Mungkin, di antara bayang-bayang dan kegelapan, mereka masih bisa menemukan jalan pulang—bersama-sama.