Pulau Batam, yang terletak di Kepulauan Riau, Indonesia, tidak asing dengan hujan. Namun, hujan deras yang melanda kota tersebut selama lima hari berturut-turut dalam beberapa minggu terakhir ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam keganasan dan dampaknya yang dahsyat. Hujan yang tak henti-hentinya, yang dijuluki "Hujan Melanda Kota Batam" oleh penduduk setempat, membuat kota tersebut tak berdaya, memperlihatkan kerentanan infrastrukturnya dan ketahanan penduduknya.
Hujan mulai turun dengan cukup tidak berbahaya, dengan gerimis ringan pada hari pertama yang berangsur-angsur meningkat menjadi banjir pada malam hari. Pada hari kedua, jalan-jalan sudah tergenang, dengan ketinggian air naik hingga setinggi lutut di beberapa daerah. Sistem drainase kota, yang sudah terbebani oleh bertahun-tahun pengabaian dan urbanisasi yang cepat, kewalahan oleh volume air yang sangat besar. Jalan-jalan Batam yang dulunya ramai berubah menjadi sungai, dengan mobil dan sepeda motor berjuang untuk melewati medan yang berbahaya.
Saat hujan terus turun, penduduk kota terpaksa beradaptasi dengan kenyataan baru. Banyak yang terdampar di rumah, tidak dapat pergi bekerja atau sekolah. Perekonomian lokal, yang sangat bergantung pada usaha skala kecil dan pariwisata, mulai merasakan dampaknya karena toko-toko dan restoran terpaksa tutup. Pasar-pasar kota, yang biasanya ramai dengan aktivitas, tampak sepi, dengan pedagang berjuang untuk menjaga barang dagangan mereka tetap kering.
Hujan juga merusak infrastruktur kota. Jalan rusak, jembatan hanyut, dan bangunan terendam air. Jaringan listrik kota lumpuh, menyebabkan ribuan orang kehilangan listrik. Rumah sakit setempat, yang sudah kewalahan, kewalahan menangani pasien yang terluka akibat banjir atau menderita penyakit yang ditularkan melalui air.
Meskipun terjadi kekacauan dan kerusakan, masyarakat Batam menunjukkan ketahanan yang luar biasa dalam menghadapi kesulitan. Warga sekitar bersatu untuk saling membantu, berbagi makanan dan tempat berteduh dengan mereka yang membutuhkan. Relawan dari LSM lokal dan kelompok masyarakat bekerja tanpa lelah untuk mendistribusikan bantuan dan membantu upaya evakuasi. Pemerintah kota, yang sebelumnya dikritik karena lambannya tanggap terhadap bencana alam, segera memobilisasi sumber daya dan personel untuk mengurangi dampak banjir.
Pasca banjir, kota Batam harus bangkit dan merenungkan pelajaran yang didapat. Bencana ini telah menyoroti perlunya investasi mendesak dalam infrastruktur kota, khususnya sistem drainase dan pertahanan banjir. Bencana ini juga menggarisbawahi pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan ketahanan terhadap bencana. Saat kota ini memulai proses pemulihan dan pembangunan kembali yang panjang, penduduknya bertekad untuk bangkit lebih kuat dan lebih bersatu dari sebelumnya.
Sebagai penutup, hujan selama 5 hari yang melanda Kota Batam merupakan peringatan bagi warga dan pemerintahnya. Meskipun kerusakannya sangat besar, bencana ini telah menunjukkan sisi terbaik dari masyarakat Batam, yang menonjolkan ketahanan dan semangat kekeluargaan mereka. Saat kota ini menatap masa depan, jelas bahwa pelajaran yang dipetik dari bencana ini akan sangat berharga dalam membangun Batam yang lebih kuat, lebih berkelanjutan, dan lebih tangguh