Di Kota Helyn, segala sesuatu berjalan seperti biasa—atau setidaknya begitulah yang terlihat dari luar. Namun, bagi Raeva, seorang jurnalis muda yang tinggal di apartemen kecil di lantai tujuh, dunia mulai retak. Bukan dalam arti kiasan, tetapi secara harfiah.
Retakan pertama muncul di cermin kamar mandi. Sebuah garis halus yang, ketika dilihat lebih dekat, tampak seperti sebuah jalan bercabang. Itu aneh, karena cermin itu baru saja ia beli seminggu lalu. Raeva memutuskan untuk mengabaikannya, menganggap itu hanya kerusakan kecil.
Namun, malam itu, ia bermimpi. Dalam mimpinya, ia berdiri di depan cermin yang sama, tetapi pantulannya berbeda. Raeva dalam cermin tampak lebih tua, matanya dipenuhi kesedihan, dan bibirnya bergerak-gerak seolah berbicara, tetapi tidak ada suara yang keluar. Ketika Raeva mencoba menyentuh cermin, pantulan itu tersenyum tipis lalu berkata, "Kau akan tahu."
Paginya, Raeva terbangun dengan keringat dingin. Mimpinya terlalu nyata untuk diabaikan. Ia berdiri di depan cermin itu, memeriksa retakan yang kini tampak lebih besar. Apa yang lebih aneh, retakan itu memantulkan cahaya yang tidak berasal dari kamarnya. Seolah-olah ada sesuatu di baliknya.
Ketika malam datang, ia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. Dengan senter kecil di tangan, ia memeriksa retakan itu lebih dekat. Tiba-tiba, cermin bergetar. Sebuah suara lirih terdengar dari dalam, seperti bisikan ribuan orang berbicara serempak.
Dan lalu, ia melihatnya. Melalui retakan itu, ada dunia lain. Tidak sepenuhnya nyata, tetapi cukup jelas untuk membuat Raeva mematung. Sebuah kota yang hancur, dengan langit berwarna merah darah dan gedung-gedung yang melayang. Orang-orang di dunia itu berjalan tanpa arah, wajah mereka kosong, seperti boneka tanpa jiwa.
Saat ia menyentuh retakan, dunia di dalam cermin berguncang. Sebuah tangan muncul dari sisi lain, menggenggam tangannya dengan erat. Raeva menjerit, tetapi ia tidak bisa menarik tangannya. Dalam hitungan detik, ia terseret masuk.
---
Raeva terbangun di jalanan yang terasa asing. Udara di dunia itu berat, seperti dihantui oleh sesuatu yang tak terlihat. Ia mencoba mencari jalan keluar, tetapi kota ini seperti labirin. Tidak peduli ke mana ia berjalan, ia selalu kembali ke titik awal—sebuah bangunan besar dengan pintu hitam yang menjulang.
Di depan pintu itu, seseorang menunggu. Itu adalah Raeva—versi dirinya yang lebih tua seperti yang ia lihat di mimpinya.
"Selamat datang," kata Raeva tua dengan suara yang datar. "Ini adalah pecahan cermin semesta, tempat segala kemungkinan terbuang."
"Apa maksudmu?" Raeva muda merasa tubuhnya gemetar.
"Dunia kita adalah kumpulan dari pilihan-pilihan yang tidak pernah diambil. Dan di sini, semuanya berakhir. Aku adalah dirimu yang tidak pernah memilih untuk menyerah saat semuanya terasa berat. Dan kini, kau di sini karena sesuatu dalam hidupmu telah membawamu lebih dekat pada kehancuran."
Raeva muda menggelengkan kepala. "Aku tidak mengerti. Aku hanya seorang jurnalis biasa. Apa yang kau bicarakan?"
"Semesta tidak peduli siapa kau," jawab Raeva tua. "Yang penting adalah keputusanmu. Dan sekarang, kau harus memilih: kembali ke duniamu dengan risiko membawa retakan ini bersamamu, atau tetap di sini dan menjadi bagian dari dunia yang terlupakan."
Sebuah angin kencang bertiup, membawa suara-suara yang terdengar seperti tangisan. Raeva muda melihat bayangan dirinya yang lain—ada yang tersenyum, ada yang menangis, dan ada yang berdiri diam dengan tatapan kosong.
"Pilihan ada di tanganmu," kata Raeva tua. "Tetapi ingat, setiap keputusan membawa harga."
---
Raeva tidak pernah kembali ke apartemennya. Tetangga-tetangga mulai memperhatikan bahwa ia menghilang tanpa jejak, tetapi tidak ada yang peduli terlalu lama. Di dunia lain, Raeva berdiri di depan pintu hitam, melihat dirinya sendiri di cermin yang retak.
Dan kali ini, ia tersenyum. Ia tahu, dalam setiap pecahan cermin, ada dirinya yang lain—menunggu untuk membuat pilihan yang tidak pernah ia buat.