Suatu pagi di desa Laronida, kabut pekat menyelimuti. Orang-orang di desa itu sudah terbiasa dengan kabut yang datang setiap musim gugur, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Kabut itu membawa bisikan. Tidak keras, tetapi cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri.
Ryn, seorang pemuda berusia 19 tahun, adalah satu-satunya yang tidak merasa takut. Dia malah merasa tertarik. Ada sesuatu dalam bisikan itu yang memanggilnya. Setiap pagi, dia duduk di depan rumah kecilnya, mendengarkan dengan saksama. Bisikan itu seperti melodi yang ia kenali, tapi entah dari mana.
Suatu hari, Ryn memutuskan untuk mengikuti suara itu. Dia melangkah keluar dari rumahnya sebelum matahari terbit, melewati jalan-jalan desa yang sepi. Orang-orang yang melihatnya hanya berbisik, "Apa yang dia lakukan? Tidak ada yang masuk ke dalam kabut itu dan kembali dengan selamat."
Namun, Ryn tetap melangkah. Kakinya membawa dia ke hutan tua di pinggir desa, tempat kabut paling pekat. Semakin jauh ia melangkah, semakin jelas bisikan itu terdengar. Itu bukan sekadar suara—itu nyanyian, lembut dan indah, seolah-olah berasal dari dunia lain.
Setelah berjam-jam berjalan, dia tiba di sebuah danau yang tersembunyi di tengah hutan. Airnya hitam pekat, dan di tengahnya ada sebuah pulau kecil. Di atas pulau itu, berdiri seorang gadis berambut perak yang berkilauan seperti bintang. Matanya biru seperti langit, dan suaranya... itulah suara yang Ryn dengar selama ini.
"Kau akhirnya datang," kata gadis itu sambil tersenyum.
"Siapa kau?" tanya Ryn, terpesona tapi juga bingung.
"Aku adalah penjaga kabut," jawabnya. "Dan kau, Ryn, adalah yang terpilih."
"Terpilih untuk apa?"
Gadis itu tidak menjawab. Sebagai gantinya, dia melantunkan sebuah lagu. Lagu itu menyentuh hati Ryn, membangkitkan kenangan masa kecilnya—ibu yang sudah lama pergi, ayah yang selalu sibuk, dan dirinya yang selalu merasa sendirian. Lagu itu seperti pelukan hangat, namun juga membawa rasa pilu.
Ryn merasa tubuhnya ringan. Sebelum dia sadar, dia sudah berdiri di tengah pulau, di samping gadis itu.
"Kabut ini bukan hanya tirai yang memisahkan dunia. Ini adalah jembatan," kata gadis itu. "Jembatan antara hidup dan mati. Setiap seruan yang kau dengar adalah suara jiwa yang terjebak. Tugasmu adalah membebaskan mereka."
Ryn terkejut. "Kenapa aku? Aku hanya pemuda biasa."
"Karena kau memiliki hati yang mendengar," jawabnya. "Tidak semua orang bisa mendengar nyanyian ini. Tapi kau bisa, dan itu membuatmu istimewa."
Malam itu, Ryn belajar banyak dari gadis penjaga kabut. Dia diberi sebuah cincin perak dengan batu safir biru di tengahnya. "Ini akan membimbingmu," kata gadis itu. "Setiap kali kau mendengar nyanyian, ikuti dan bebaskan mereka."
Seiring waktu, Ryn menjadi legenda di desa Laronida. Orang-orang mulai menghormati kabut, bukan lagi takut. Setiap musim gugur, mereka menyaksikan Ryn berjalan masuk ke dalam kabut, membawa kedamaian bagi jiwa-jiwa yang hilang. Namun, mereka tahu satu hal—suatu hari, Ryn mungkin tidak akan kembali, karena penjaga kabut selalu menjadi bagian dari kabut itu sendiri.
Dan hingga hari ini, ketika kabut datang, orang-orang Laronida berdiri diam, berharap mendengar nyanyian yang membawa ketenangan dan harapan. Mungkin, itu adalah Ryn, yang kini menjadi bagian dari legenda.