Jodoh adalah Cerminan Diri
Dan aku... melihat itu di dalam dirimu.
....
Tiga detik.
Lima detik.
Sepuluh detik.
“kau ingin menambah ceramah ini semakin panjang? Saat Ustadz mencidukmu karena ketahuan menatap seorang wanita tanpa kedip? Hah?”
Aku mendorong bahu Fahmi kesamping, mendengus. Nih orang menganggu pemandangan indah ku saja, gerutuku.
Eh, astagfirullah! “kau benar Fahmi! Aku khilaf! Menatap lawan jenis yang bukan mahramnya, itu namanya zina mata. Astaga!"
“hei sobat. Karena itulah sahabatmu ada disini, menegurmu jika salah, dan memalakmu jika kau punya makanan!” kata Fahmi dengan kekehan di akhir kalimatnya.
Aku memutar bola mataku, “iya, iya. Karena kau sudah baik mengingatkanku, nanti aku belikan deh.”
“bukan aku yang minta ya.. Fahmi mah orangnya selalu ikhlas dalam menolong..”
“yee..”
“Fahmi, apa yang sedang kalian obrolkan?”
Aku dan Fahmi refleks memandang ustadz sekaligus guru ngaji di depan kami. Menunduk, “tidak, tidak ada Ustadz.”
“oh, itu kamu ya Akbar..”
Aku berkata gugup, ketahuan. “i, iya ustadz..”
“sudah lama sekali kau tidak hadir ke masjid, kau sudah sukses dan ingin melupakan agamamu hah?”
“ti, tidak Ustdaz.. saya hanya lagi sibuk.”
“sudah, aku akan menasihatimu nanti, sekarang kau dan Fahmi pergi ke belakang dan bantu membersihkan belakang masjid. Kita akan akhirin pengajian ini.”
Aku dan Fahmi segera beranjak, tapi entah hanya perasaanku atu tidak, sekilas aku melihat Sakila tampak menatapku khawatir.
....
“namanya Sakila.”
Aku mengaruk tengkukku yang tidak gatal. “sudah tau.”
“diberitau si curut ini heh? Mulut sama telinganya memang super power, bisa ngalahin cewek. Sakila baru pindah tapi dia sudah tau aja namanya,” dumel Afifah.
“itu namanya Update Fa! Bukan kayak kau! Kudet!” sergah Fahmi.
“eleh, sok.”
“eh, di bilangin..”
“nyenyenye..”
“sudah-sudah. Kalian tiap ketemu selalu aja berantem.” leraiku segera.
“hm, yaudah, ada lagi yang mau ditanyakan?”
Aku mengerucutkan bibirku, “yee.. ‘kan kau bilang mau kenalin aku sama tuh ukhti.”
“huff, kalau bukan karena balas jasa, aku males nolongin.”
“heh, bilang aja pelit.”
Afifah menatap Fahmi nyalang, mengerutu, “bukan gitu. Kalau bantuan yang lain, sebagai teman aku bantuin. Tapi ini masalahnya Sakila itu anaknya Umi Dea. Ustadzah tersohor yang paling di seganin. Beliau tegas banget, overprotektif lagi ngejaga Sakila. Ngak bisa sembarangan.”
Fahmi menepuk bahuku. Berbisik lirih, “berat ini bro, cari yang lain aja deh.”
Segampang itu? Aku, Akbar Anggara menyerah secepat itu? Tidak akan.
Semua ini bermula saat aku melihat Sakila untuk pertama kalinya dan aku langsung jatuh hati padanya. Saat itu dia sedang menatap kolam ikan tak jauh dari masjid, memantulkan bayangan cantiknya memakai hijab.
Manis.
Aku bukanlah orang yang taat beribadah, tapi bukan juga orang yang terlalu menolak ajaran agama. Biasa saja. Sejak karirku menanjak dan diterima di Perusahaan terkenal di usia mudaku, membuat jarakku dengan agama semakin bertambah.
Namun sejak ada dia, hati dan pikiranku selalu menuju ke masjid. Mendengarkan suaranya melantunkan ayat suci Al-Quran, mencuri-curi pandang dengannya saat membenarkan hijab. Bahkan tak jarang Fahmi menangkap basah diriku menatapnya lama. Dia... benar-benar malaikat untuknya.
Intinya, sejak aku menemukannya, cintaku dan cinta pada agama semakin bertambah.
“dia Akbar.”
Sakila menatap Afifah, lalu bergantian menatapku, aku tergagap. Sakila langsung menunduk.
“see? Sakila emang anaknya pemalu. Sholehah lagi..”
“iya, beda kek kau, nak dajjal..” ledek Fahmi cepat.
Afifah meradang, dia menonjok punggung Fahmi sekali. “kebiasaan!”
Ukh!
Aku berusaha tersenyum, mengontrol emosiku yang bergejolak. “emh, salam kenal, aku Akbar..”
Afifah menempelkan kedua telapak tangannya lalu diletakkannya di depan dada. “Sakila..” katanya lembut.
“eh, ah.. aku sering melihatmu di masjid... jadi..”
“saya tau.”
Aku terdiam. Jadi... utu berarti dia memperhatiankanku?
Dia.. Memperhatikankuuuu??? Sumpah!! Jantungku lagi berdisko hebat inii!!
“be, benar kah.. kau tau aku..”
“iya. Kamu.. orang sini ‘kan tentu saja kamu aktif di mesjid ini. Karena saya baru pindah jadi saya harus lebih memperhatikan sekitar saya..”
Eh..
“apaan? Akbar mah, baru minggu-minggu terakhir ini aktif, sebelum-sebelumnya mah sering absen! Yah.. semenjak ada Sakila sih...”
Sakila tambah menunduk. Malu sepertinya. Fahmi sialan, batinku kesal.
“emh, Sakila, kenalannya sudah ‘kan? Lebih baik cepat masuk. Ustadznya sudah datang, nanti Ustadzah Dea nyariin kamu lagi..”
Sakila mengangguk.
“eh, tunggu,” cegatku. “kalian berdua duluan saja,” pintahku. Dan kini, hanya tinggal aku dan Sakila. Kurogoh sakuku, kuberikan isinya pada Sakila.
“apa ini?”
“anggap saja sebagai hadiah perkenalan. Semoga kamu suka, Sakila.”
Pipi Sakila memerah, matanya tampak berbinar saat menatap cermin kecil pemberianku ditangannya. “saya menyukainya..”
“alhamdulillah, jika kau suka.”
“ka, kalau gitu, saya permisi dulu, asalammualaikum..”
Sebelum aku membalas salam, Sakila lebih dulu pergi. Aku berkata pelan, “hm, waalaikumsalam..”
....
Sakila membantingkan tubuhnya di kasur. Dia memejamkan mata, bibirnya tersenyum senang. Baru kali ini hatinya sedebar-debar ini saat bersama pria.
Ada apa ini..? Oh Sakila... kontrol dirimuu.. Sakila membuka genggamannya, cermin kecil.
Dia membenarkan jilbabnya, lalu duduk diatas kasurnya. "cermin yang indah.. ‘saya menyukainya’ apaan itu? Apa saya benar-benar mengatakan itu padanya? Astaga.. saya malu sekali tadi..”
Kreek..
Sakila membuka penutup cerminnya. Secarik kertas membuatnya tertegun.
‘Assalamualaikum Sakila... aku memberi cermin ini agar kau bisa menatap wajah indahmu dimanapun. Tanpa harus mencari kolam ikan lagi. -Akbar-.
Sakila speceheless. Dia langsung menutup wajahnya dengan bantal, bersiap tidur dengan wajah yang masih merona.
Malam ini, akan terasa indah untuknya. Dan...
Yah, tentunya Akbar.
...
Sejak saat itu kami berdua saling bertemu. Dengan tentunya bantuan dari Afifah dan Fahmi. Aku mengira mereka cukup serasi. Cocok. Yah.. andai saja mereka bisa menyadarinya.
Kami berempat seperti maling, bertemu secara diam-diam. Tujuan kami adalah tidak ketahuan Ustadzah Dea, mama Sakila.
Karena kalau beliau tau putrinya berteman dengan lelaki yang tidak ia kenal.... emh.. Bisa hilang semua usaha mereka berempat.
“menjauhlah dari putriku.” Dan akhirnya, kami ketahuan juga.
Aku terdiam. “kami hanya berteman.”
Ustadzah Dea menatap putrinya datar, “benarkah itu?”
“iya Umi. Saya dan dia tidak..”
“Umi melarangnya.”
Bahu Sakila seketika menegang lalu melemas bersamaan... pasrah.
“bisa aku tahu alasannya? Apa berteman itu salah dalam agama?”
“Sakila bisa berteman dengan siapapun, asalkan dia orang yang berlatar dan berwatak baik.”
“dan aku tidak termasuk?”
Alis Ustadzah Dea saling naik turun, “tidak. Ayahmu adalah mantan narapidana.”
Mata Sakila melebar, benarkah itu?
“tapi Akbar tidak ada sangkut pautnya dengan ayahnya! Dia hidup mandiri dan sudah lama bebas dari ayahnya.” Bela Fahmi, Afifah mengangguk membenarkan.
“masalahnya lebih rumit dari yang bisa kalian bayangkan. Afifah, aku ingin kau menjaga Sakila agar tidak berdekatan dengan dia lagi. Ini amanah untukmu.”
Ustadzah Dea adalah budenya, karena itu Afifah harus menurut. “iya Umi. Ayo Sakila,”
“anda tidak bisa berbuat begitu..”
“dia putriku..”
Aku berdecak, “meski begitu.. berikan alasan yang pasti mengapa aku tidak boleh mendekati putri anda!”
Ustadzah Dea lantas memberiku tatapan tajam, “kau tidak mengerti. Jauhi saja Sakila maka semuanya akan aman.”
Bahuku melemas. Fahmi hanya bisa menatapku cemas. Kutatap Sakila yang sudah menjauh dariku. Hijab merah muda yang biasanya membuat hatiku teduh...
Mendadak serasa hampa bagiku.
...
“katakan saja semua isi hatimu padanya. Jujur saja! Jadi meski kalian berpisah setidaknya hati mu tidak akan memiliki penyesalan apapun nantinya.”
Sakila mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Perkataan Afifah terngiang di kepalanya. Apa yang harus ia lakukan?
Ini sulit sekali.
“Sakila, ayo turun. Mereka sudah menunggu.”
Sakila bangkit berdiri, dia mengekori ibunya dari belakang. “jaga sopan santun dan bersikap anggunlah Sakila. Ini moment penting untukmu.”
Langkah Sakila terhenti. “jika saya tidak menyukainya, saya punya hak untuk menolak ‘kan Umi...”
Ustadzah Dea terdiam. “tentu saja. Itu hakmu.”
“kalau begitu, saya akan meminta waktu. Bukan menolaknya, tapi meminta waktu untuk memikirkannya.”
“tapi kau bahkan belum melihatnya,”
“ini penting Umi. Saya harus pergi, saya berjanji akan kembali.” Suara Sakila mulai serak.
“menemui pria kasar itu? Tidak. Kau tetap disini.”
Sakila terduduk. Menyentuh kaki ibunya. Memohon, “Umi bilang saya harus menikah dengan orang yang saya cintai. Karena itu Umi izinkanlah saya pergi, setelah mendapat jawabannya saya akan kembali dan menurutin semua perintah Umi. Saya janji.”
Rahang Ustadza Dea berkedut. Degup jantungnya bergelorak.
Ia tidak punya pilihan lain.
...
“assalamualaikum.. Akbar.”
Aku tertegun. Fahmi di depanku berdiri dengan wajah terkejut saat menatap seseorang di belakangku.
Siapa?
“Sa, Sakila.. waalaikumsalam..” kataku terbata.
Sakila tampak ngosh-ngoshan. Apa dia datang kemari dengan berlari? Sakila menatap Fahmi, langsung saja Fahmi pergi undur diri. Menemui Afifah yang lebih enak untuk di ajak gelud.
“Sakila.. kenapa..”
“lamar saya Akbar!”
“eh..”
“nikahin saya Akbar! Nikahin saya agar saya tidak perlu menatap cermin ini lagi, melainkan menatapmu, karena cerminan diriku adalah jodohku.”
“a, apa.. kenapa tiba-tiba?”
“kau tidak ingin menikahin saya?”
“bu, bukan begitu.. Cuma..”
“tidak ingin?”
Aku terdiam. Tanganku mengepal erat. “tentu saja aku bersedia Sakila. Sudah lama aku ingin menyampaikan ini, tapi aku tidak punya keberanian. Tapi sekarang.. sungguh, aku jatuh hati padamu sejak pertama kali melihatmu dikolam ikan.”
“tingkahmu, senyummu, kepandaianmu, kelembutanmu, pipimu yang merona saat malu, aku menyukai semuanya.” lanjutku tegas.
Sakila tertohok. Air matanya menetas tanpa sadar, terharu. “terima kasih telah jujur Akbar. Sebenarnya, saya juga begitu padamu.”
“benarkah? Jadi.. apa kau juga bersedia menikah denganku?”
Sakila tersenyum lembut. “ten,”
“TIDAK.”
Sakila dan aku tertegun. Ustadzah Dea datang dari sebrang jalan lalu memegang tangan Sakila erat. Matanya menyalang marah padaku.
“sudah kubilang jauhin putriku!! Aku sudah menjodohkan dia dengan pemuda lain!”
“apa aku tidak cukup untuk Sakila?! Katakan kekuranganku Ustadzah! Untuk materi, aku sanggup memenuhi kebutuhan Sakila. Insya Allah aku bertanggung jawab dan yang terpenting aku mencintai Sakila sepenuh hati.” Kataku penuh penekananan.
“kau hanya tidak mengerti! Sakila.. tidak akan pernah bisa kau milikin meski seluruh harta dibumi ini telah kau miliki.”
“anda yang tidak mengerti! Sakila dan aku..”
Sakila meronta. Air matanya semakin deras saat Ibunya menariknya paksa dan pergi ke sebrang jalan. Tanpa bicara ia langsung menarik Sakila masuk kedalam mobil. Wajah Sakila tergambar raut wajah sedih.
“Sakila!”
Greb!!
Ustadzah Dea tertegun, genggamannya terlepas. Tanpa memperdulikan peringatan ibunya, Sakila langsung berlari menujuku.
Dan...
Ciiiittt
“Sa, SAKILA!!”
Detik itu juga aku menyadari, napasku mendadak berat, pandangan dan fokusku hanya terpusat pada tubuh seorang ukhti yang terjatuh usai ditabrak kereta.
BRUKK!!
Darah.
Darah.
Darah.
Kita sepertu bumi dan langit ya, dekat tapi sulit sekali untuk digapai.
Aku menatap cermin pemberianku yang terlihat rusak. Kuletakkan di samping Sakila yang masih menutup mata. Tetesan-tetesan impus serasa semakin mengasingkan diriku dengan Sakila.
Kutatap Sakila dalam-dalam. Masih cantik. Pertahankan senyum dan mata ayu mu Sakila.. “aku pamit.” Kataku.
Dan aku... yah, aku benar-benar pamit. Pamit dalam arti sebenarnya.
Menjauh dari kehidupan Sakila.
...
“kau sudah bangun.”
Mata Sakila mengerjap. Bibirnya melenguh, pandangannya mengarah ke Uminya yang duduk disebelahnya. “Umi..” ucapnya pelan.
Ustadzah Dea tersenyum tipis, menyentuh telapak tangan Sakila yang masih terlilit impus. “alhamdulillah kau sudah sadar sayang, Umi sangat mengkhawatirkanmu.”
Ah..
Sakila baru ingat sadar sekarang. Perban dikepalanya ini mengingatkannya kejadian yang barusan menimpanya. Saat berlari ke arah Akbar, dia Disambar kereta dan kepalanya terbentur cukup keras kejalanan. Ini menyakitkan, tapi..
“dimana.. Ak,”
“kau ingin minum? Umi akan mengambilnya,”
“Umi..”
Ustadzah Dea membalas tatapan dalam Sakila. Dia menghembuskan napas panjang. Menyerah. Sakila segalanya untuknya, Sakila sakit, jiwa raganya serasa lebih sakit.
“dia sudah pergi.”
“apa? Itu.. dia tidak mungkin..”
“Sakila.. semuanya sudah berakhir. Fokuslah pada kesembuhanmu, Umi menyuruh calon suamimu untuk tidak khawatir. Mungkin jika kau setuju minggu depan kalian akan bertunangan.”
Sakila terperanjat. Dia hendak turun dari kasur, namun langsung dicegat Uminya. Sakila berdecak, “kenapa Umi tidak mengerti juga? Saya hanya menyukai Akbar, tidak ada yang lain.”
“tapi kau sudah berjanji Sakila, kau akan pergi mencari jawaban lalu kau akan kembali dan menurutin semua perintahku. Kau ingin mengingkarinnya?”
“tapi Umi, Akbar..”
“Akbar adalah saudaramu!”
Deg.
Genggaman Sakila di tangan Uminya melemah. Matanya meredup, bibirnya kelu. Tertegun. “apa?”
“Akbar. Adalah. Saudara. Kandung. Mu!!” ulang Uminya lagi.
“itu.. itu tidak mungkin. Umi.. Umi pasti mengarangnya karena Umi memang tidak menyukain Akbar.”
“mengapa aku harus tidak menyukainya? Jika kau melihat dia sempurna dimatamu, begitu juga Umi mu ini. Tapi kesalahannya adalah ayah dari Akbar adalah mantan suamiku! Ayahmu nak!!”
Mata Sakila meredup. Dia menyentuh kepalanya perlahan. Apa ini? Apa takdir mulai mempermainkannya?
“saat aku menikah dengan ayahmu, ayahmu berselingkuh hingga memiliki seorang anak. Yaitu Akbar! Ibu yang mengetahuinnya langsung menceraikan ayahmu dan pergi ke perantauan! Meskipun saat itu Umi lagi hamil besar! Kau tau Sakila..? Umilah yang membesarkan dirimu seorang diri! Dan sekarang... kau membawa Umi kembali kedalam masa lalu Umi... masya Allah Sakila! Masya Allah!”
“U, Umi..”
“Umi tidak memberitahukannya karena tidak ingin membuatmu terluka. Ini cinta pertamamu, tapi kau malah jatuh hati ke orang yang salah. Umi.. hanya ingin menjagamu.”
Tangan Sakila gemetaran saat sebuah foto diberikan Uminya kepadanya. Hati kokoh miliknya yang masih punya harapan mempertahankan hubungannya lantas semuanya kandas saat melihat foto kecil Akbar bersama ayahnya.
“Akbar ternyata.. kakakku... kenapa... kenapa Umi.. kenapa..”
“jadilah seperti Akbar Sakila, saat dia tahu fakta ini, dia langsung pamit dari kehidupanmu. Kau juga harus begitu..”
Kreeeek...
Pintu kamar rawat inap Sakila tertutup. Uminya pergi, meninggalkan Sakila untuk merenung.
Apa yang harus ia renungin?
Ia hanya bisa menangis. Menahan. Dan terluka.
Cermin kecil yang dulunya membuat tersenyum, kini kacanya telah pecah, seakan menggambarkan keadaan Sakila saat ini.
Sakila dan Akbar...
Memang tidak akan pernah bisa bersatu.
....
TAMAT
by: Zaitun