Matahari pagi menyelinap ke sela-sela tirai jendela rumah kecil itu, tapi bagi Dila, tidak ada yang hangat dari sinarnya. Ia duduk di ruang tamu, memandangi adiknya, Via, yang tengah sibuk menggambar di buku bekas. Krayon warna-warni berantakan di lantai, tapi wajah Via terlihat ceria, jauh dari bayang-bayang kesulitan yang mereka alami.
“Kak Dila, gambarku bagus, kan?” Via bertanya dengan mata berbinar.
Dila tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan kelelahan yang menghantuinya setiap hari. “Bagus. Kamu pintar banget, Via.”
Via tertawa kecil, sementara Dila mengalihkan pandangannya ke dapur. Ibunya belum pulang dari kerja lembur semalam, dan itu berarti Dila harus memastikan Via makan pagi, meskipun hanya dengan sisa nasi dingin dan garam.
Tiba-tiba, suara pintu depan berderit. Ayah mereka masuk dengan wajah yang terlihat puas, membawa kantong plastik besar yang penuh dengan berbagai barang. Dila tahu barang-barang itu bukan untuk mereka.
“Ayah bawain susu sama mainan buat Aris dan Dina,” katanya tanpa menatap Dila maupun Via.
Dila berdiri, jantungnya berdebar keras. “Ayah enggak bawa apa-apa buat kami?” tanyanya dengan suara datar.
Ayah menatapnya sebentar, lalu menghela napas panjang. “Kamu tahu sendiri, Dila. Keluarga Kak Riana lebih butuh. Aris masih kecil, Dina juga.”
“Via juga masih kecil, Ayah,” balas Dila, nadanya mulai bergetar.
“Jangan mulai lagi, Dila. Jangan egois,” potong Ayah, wajahnya berubah masam.
Dila tertawa kecil, tapi bukan tawa bahagia. “Egois? Aku anak Ayah. Via anak Ayah. Kami enggak pernah minta lebih. Kami cuma minta Ayah lihat kami.”
Ayah tidak menjawab. Ia berbalik, masuk ke kamar dengan kantong plastiknya, meninggalkan Dila yang berdiri membeku, menahan air mata di depan adiknya.
---
Hari-hari berlalu seperti itu. Dila semakin muak, semakin kehilangan harapan. Ia berhenti meminta perhatian, berhenti berharap ayahnya akan berubah. Baginya, ayahnya sudah seperti bayangan asing yang hanya ada untuk orang lain, bukan untuk keluarganya.
Namun, segalanya berubah suatu malam. Ibunya membangunkannya dengan wajah panik.
“Ayahmu masuk rumah sakit,” katanya terburu-buru.
Dila duduk, matanya menyipit karena masih setengah mengantuk. “Kenapa Ibu bilang ke aku? Dia bukan peduli sama aku juga.”
“Dila!” suara ibunya tegas, bercampur isak tangis. “Dia tetap ayahmu.”
Dila terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. Ia pergi, bukan karena peduli, tapi karena ada bagian kecil di hatinya yang masih menginginkan penjelasan.
---
Di rumah sakit, ia berdiri di depan kamar tempat ayahnya terbaring. Dari jendela kecil di pintu, ia bisa melihat pria itu tampak lemah, jauh berbeda dari sosok yang dulu selalu penuh dengan kesibukan. Dila masuk perlahan, suara detak monitor menjadi satu-satunya yang terdengar di ruangan itu.
Ayah membuka matanya perlahan, tersenyum kecil saat melihat Dila. “Dila… Kamu datang,” katanya dengan suara parau.
Dila menatapnya tanpa ekspresi. “Kenapa aku enggak datang? Bukannya Ayah suka bilang kita keluarga?”
Wajah ayahnya berubah, rasa bersalah tergambar jelas. “Ayah tahu Ayah salah. Ayah terlalu sibuk mikirin Riana dan anak-anaknya. Ayah pikir Ayah sedang membantu keluarga, tapi Ayah lupa… lupa kalau kalian adalah keluarga Ayah yang sebenarnya.”
Dila mengerutkan kening. Ia ingin percaya, tapi luka yang ditinggalkan ayahnya terlalu dalam. “Lupa? Jadi, selama ini aku cuma apa, Ayah? Bayangan yang bisa Ayah abaikan?”
Ayahnya menghela napas berat, air mata mulai mengalir di pipinya. “Maafkan Ayah, Dila. Ayah enggak tahu harus gimana sekarang. Ayah cuma mau bilang… Ayah sayang sama kalian, walaupun Ayah enggak pernah nunjukin itu.”
Kata-kata itu menghantam Dila, tapi bukan dengan rasa hangat. Ia merasa dingin, kosong. Ia menggeleng pelan.
“Sayang? Kata-kata itu enggak berarti apa-apa, Ayah. Kalau Ayah memang sayang, kenapa aku harus tumbuh dengan rasa lapar? Kenapa Via enggak pernah tahu rasanya punya boneka baru? Kenapa Ibu kerja sampai sakit?”
Ayah terisak, tapi Dila hanya berdiri di sana, tidak ada lagi air mata yang bisa keluar.
“Maafkan Ayah,” bisiknya lemah, sebelum matanya perlahan tertutup. Monitor di samping tempat tidur mulai berbunyi nyaring.
Dila mundur selangkah, hatinya berdebar. Tapi ia tidak mendekat, tidak meraih tangan ayahnya yang terkulai. Ia hanya berdiri, membiarkan perawat masuk dan mengambil alih segalanya.
---
Hari pemakaman ayahnya diiringi hujan lebat. Dila berdiri di depan makam, memandangi tanah basah yang baru ditutup. Ia tidak menangis, tidak merasa sedih. Ia hanya merasa kosong.
“Ayah bilang sayang sama aku, tapi itu baru Ayah ucapkan saat semua sudah terlambat,” katanya pelan, suaranya tenggelam oleh rintik hujan. “Aku harap Ayah tahu, penyesalan Ayah enggak pernah cukup untuk menyembuhkan apa yang sudah Ayah hancurkan.”
Ia berbalik, meninggalkan makam itu tanpa menoleh lagi. Di hatinya, ia tahu ia tidak akan pernah benar-benar memaafkan. Penyesalan ayahnya mungkin tulus, tapi bagi Dila, semuanya sudah terlambat. Apa yang hilang, takkan pernah kembali.