Hati ku berdetak kencang seperti bunyi ambulans yang nganceng di jalan raya. Ku tatap mata mu tuan muda, bagaikan biru di laut samudera Hindia membuat cinta ku merona.
Saat aku mengerti akan arti cinta darimu kau tak sadar akan hal itu, rasa itu menyiksa ku, menghancurkan semua benakku, apakah kau akan menerima ku ?, atau sebaliknya kau akan infil melihat gelap nya kulitku tuan muda.
Nirwana dalam hatiku bersekam Tanpa akar untuk mengingat namamu yang tak asing bagiku adalah luka bakar yang tak mampu di padamakan.
"Tuan muda kau tidak mencintaiku?
Ucap seseorang berkulit hitam berbibir manis seperti gulali.
Tenang lah kalimat mu yang dingin itu merampas jiwaku yang seakan tumbuh ke atas tapi kau tidak tahu bagaimana merawat nya.
"Aku tidak akan pernah menyukai mu dan bahkan tidak mengenal mu!
Ucap seseorang lelaki mirip Jerman yang sekilas seperti albino yang putih bersih dari kujur atas Samapi bawah yang tidak lain adalah tempat dimana jantungku bersemayang.
Kau tak sadar akan kata mu yang kasar itu membakar hatiku yang penuh dengan lemak ini, ucap yang berkulit hitam seperti kecap yang tak punya rasa manis di wajah tetapi bibir nya melebihi kapasitas produksi perempuan di dunia.
Kau menaroh luka yang begitu dalam di hatiku, tak mampu aku berkutik langsung di hadapanmu karna aku bukan orang seperti itu. "Ucap nya dalam hati seseorang yang berkulit hitam.
Matanya menatap kebawah melihat air dan berkaca kaca dengan tangis Isak yang begitu dalam, dia sadar bahwa lelaki mirip Jerman itu tak akan pernah mencintainya.