Rumah itu selalu tampak rapi dari luar, tapi di dalamnya, ada kepingan hati yang berserakan. Tiara duduk di ruang tamu, menatap kosong ke arah jendela. Dunia di luar terlihat cerah, tapi di dalam dirinya, badai tak pernah reda.
Pernikahannya dengan Bayu telah berlangsung selama delapan tahun. Di awal, Bayu adalah sosok pria yang penuh kasih dan perhatian, tapi perlahan topengnya terlepas. Ketika Bayu mulai sering menyakitinya, Tiara memutuskan untuk tetap bertahan demi putri kecil mereka, Naira, yang baru berusia empat tahun. Namun, Tempramental Bayu bukan yang paling melukainya.
Yang paling menyakitkan adalah fitnah. Bayu, entah karena rasa bersalah atau kebencian, mulai menyebar cerita kepada teman-teman mereka. "Tiara itu istri yang buruk," katanya kepada mereka. "Dia selalu curiga, tidak pernah percaya padaku. Aku pria yang sabar, tapi sampai kapan aku kuat?" Dengan lihai, Bayu memainkan perannya sebagai korban, sementara Tiara dijadikan tokoh antagonis dalam drama rumah tangga yang ia tulis sendiri.
Akibatnya, satu per satu teman Tiara menjauh. Bahkan, ada yang terang-terangan menegur, "Tiara, suamimu itu sudah sangat sabar. Kalau aku jadi dia, mungkin aku sudah pergi."
Tiara hanya bisa terdiam, menahan rasa sakit yang menghantam seperti ombak besar. Ingin rasanya berteriak, "Kalian salah! Aku korban di sini!" Tapi ia tahu, tak ada gunanya. Kata-katanya tidak akan bisa mengalahkan Bayu yang pandai bersandiwara.
Setiap malam, saat Naira tertidur, Tiara menahan tangisnya. Di kamar yang seharusnya menjadi tempat beristirahat, ia merasa seperti terkurung dalam jeruji tak kasat mata. Bayu tetap menjalani kehidupannya seperti biasa, seolah tidak ada yang salah.
"Sampai kapan aku kuat?" Pertanyaan itu selalu terngiang di benaknya.
Namun, suatu hari, saat Tiara tengah membersihkan rumah, Naira tiba-tiba bertanya dengan polos, "Mama sedih terus ya? Papa yang bikin Mama nangis?"
Tiara terkejut. Anak sekecil itu sudah bisa menangkap sesuatu yang salah. Dengan lembut, ia mengusap kepala Naira. "Mama nggak apa-apa, sayang. Yang penting Naira bahagia."
Malam itu, Tiara merenung. Ia tahu, bertahan demi Naira mungkin bukan yang terbaik. Anak kecil tidak hanya butuh keluarga yang lengkap, tapi juga suasana yang sehat. Jika ia terus membiarkan dirinya diinjak-injak, apa yang akan dipelajari Naira tentang cinta dan martabat?
Tiara akhirnya memutuskan untuk mempersiapkan jalan keluar. Ia mulai menabung diam-diam, mencari informasi tentang konseling, dan merancang hidup baru. Ia tahu perjalanan ini tidak akan mudah, tapi untuk kebahagiaannya dan masa depan Naira, ia harus berani mengambil langkah pertama.
Hari itu mungkin belum tiba, tapi Tiara kini memiliki harapan. Ia tidak lagi bertanya, "Sampai kapan aku kuat?" melainkan berkata pada dirinya sendiri, "Aku akan kuat sampai aku bebas."