Malam itu, di bawah langit Kedungwungu kami berkumpul. Di halaman rumah sederhana milik mbak Risa, kami berdiri berjajar menunggu instruksinya. " Ayo, pemanasan dulu di lanjut sprint 10 kali ya" ucapnya. Tanpa banyak bicara kami langsung memulai pemanasan dan sprint. Nafasku mulai ngos-ngosan di sprint yang ke-7, meski begitu aku tetap berusaha keras untuk menyelesaikannya.
Setelah selesai pemanasan, mbak Risa berdiri di depan kami. Matanya menyapu kami satu persatu. Sosok yang sederhana, namun tegas. Bagi kami, dia bukan hanya sekedar pelatih. Lebih dari itu, mbak Risa adalah mentor yang selalu memberi semangat di setiap latihan, bahkan di situasi tersulit sekalipun. Dia tidak hanya mengajarkan teknik pencak silat saja, tetapi juga membangun mental baja di dalam diri kami.
Seperti biasa, suasana latihan malam ini sangat serius, penuh peluh namun tetap semangat. "Malam ini kita latihan fisik dulu ya, setelah itu dilanjut gerak seni" katanya. "Siap mbak" jawab kami serentak. Kami segera mengambil posisi untuk latihan fisik. Setiap gerakan diulang berkali-kali. Mbak Risa mengawasi dengan jeli, sambil memberi koreksi disana-sini.
Latihan malam ini terasa lebih berat dari biasanya. Akan tetapi tak satupun dari kami yang berani mengeluh. "Ulangi, ayo lebih fokus lagi" teriaknya. Aku mengigit bibir, menahan lelah yang mulai menjalar ke seluruh tubuh. Sejak 2 minggu terakhir, latihan semakin intensif karena Home Tournament sudah di depan mata. Dengan langkah berat aku mengulangi lagi gerakan tersebut.
"Cukup" teriaknya lagi. "Kalian tahu, kalian adalah masa depan. Kalian mungkin belum menyadarinya, tetapi setiap langkah yang kalian ambil disini adalah bekal untuk masa depan kalian nanti" ucapnya sambil menatap kami yang berdiri dengan keringat bercucuran. Kami hanya diam membisu, mendengarkan setiap kalimat yang ia ucapkan. Mencoba mencerna dan memahaminya.
Meski wajahnya terlihat lelah, karena siangnya bekerja dan malamnya melatih kami pencak silat, namun tetap terlihat tenang. Saat istirahat tiba, aku mendekatinya. "Mbak Risa baik-baik saja?" tanyaku hati-hati. Dia menatapku dan tersenyum tipis. "Hanya sedikit lelah. Tapi semangat kalian obatnya" jawabnya.
Aku tahu dia tidak sepenuhnya jujur. Mbak Risa adalah tipe orang yang tidak pernah berhenti, bahkan ketika tubuhnya memintanya untuk istirahat. Pengorbanannya mengajarkan bahwa langkah seorang pelatih bukan hanya membawa kami menuju kemenangan. Lebih dari itu, langkahnya adalah bukti cinta dan pengabdian sebuah janji, bahwa tidak akan meninggalkan kami di tengah perjalanan.
Langkah sang pelatih, langkah yang penuh keteguhan, cinta dan pengorbanan.
Thanks readers.