Arumi memandang sekeliling dengan mata terbelalak. Negeri yang kini ia pijaki bagaikan lukisan hidup. Langit berwarna ungu lembut, dihiasi cahaya berkilauan seperti berlian. Bunga-bunga yang bercahaya mekar di setiap sudut, dan suara sungai yang mengalir terdengar seperti musik merdu. Di sekelilingnya, ada hewan-hewan kecil yang belum pernah ia lihat di dunia manusia: kelinci bersayap, burung-burung dengan bulu pelangi, dan kupu-kupu sebesar telapak tangan yang memancarkan cahaya keemasan.
Seorang kurcaci dengan janggut putih dan topi merah menyambutnya dengan ramah. "Selamat datang di Altheria, Negeri Peri," katanya sambil membungkuk sopan. "Namaku Frolly. Aku sudah lama menunggu kedatanganmu, Arumi."
"Menunggu kedatanganku?" tanya Arumi bingung. "Bagaimana kau tahu namaku?"
Frolly tersenyum kecil. "Semua makhluk di Altheria tahu bahwa manusia yang tulus mencintai dunia peri suatu hari akan menemukan jalan ke sini. Dan kaulah orang itu."
Frolly memimpin Arumi ke istana peri. Sepanjang jalan, Arumi tidak bisa berhenti terkagum-kagum dengan keindahan yang ia lihat. Istana itu sendiri terbuat dari kristal yang memancarkan cahaya warna-warni, menjulang tinggi di tengah hutan yang penuh dengan pohon emas.
Saat Arumi melangkah masuk, puluhan peri cantik menyambutnya. Mereka terbang mengitari Arumi dengan senyum ramah, memperkenalkan diri satu per satu. Ada Lyra, peri penjaga cahaya; Mira, peri penjaga hutan; dan Cailyn, peri penjaga air. Masing-masing dari mereka memiliki sayap yang berkilauan seperti berlian, dan kepribadian yang membuat mereka begitu menawan.
Akhirnya, Ratu Peri muncul. Ia adalah peri yang paling cantik dari semuanya, dengan gaun biru muda yang memantulkan cahaya bintang. Sayapnya besar dan bercahaya seperti aurora. "Arumi," katanya dengan suara lembut, "kau memiliki jiwa yang murni, dan itulah mengapa kau bisa datang ke negeri kami. Tapi aku harus memberitahumu bahwa kedatanganmu bukan kebetulan. Ada bahaya besar yang mengancam dunia ini."
Arumi mendengarkan dengan cermat saat Ratu Peri menjelaskan bahwa seorang peri jahat bernama Morvena, yang pernah diasingkan karena mencoba mencuri kekuatan magis Altheria, kini kembali dengan niat balas dendam. Morvena telah menciptakan pasukan bayangan yang perlahan merusak keseimbangan di negeri peri.
"Dan kau, Arumi," lanjut sang ratu, "mungkin satu-satunya yang bisa menghentikannya. Sebagai manusia, kau memiliki kekuatan unik yang tidak dimiliki peri: kemampuan untuk melihat dunia ini dari sudut pandang yang berbeda."
Arumi terkejut. "Aku? Tapi aku hanya gadis biasa! Apa yang bisa aku lakukan?"
"Kami akan membantumu," kata Lyra, peri penjaga cahaya. "Tapi perjalanan ini membutuhkan keberanian dan hati yang kuat."
Dengan bantuan para peri, Arumi mulai mempelajari cara menggunakan kekuatan magis yang telah dibangkitkan oleh mantra yang membawanya ke Altheria. Ia belajar mengendalikan cahaya, berbicara dengan hewan, dan membaca mantra pelindung.
Namun, ketika Arumi dan para peri sedang merencanakan langkah untuk melawan Morvena, bayangan gelap menyelimuti istana. Morvena muncul, dengan gaun hitam dan sayap besar yang berwarna merah pekat. Ia tertawa dingin. "Jadi, inilah manusia yang kalian harapkan untuk menghentikanku? Sungguh lucu," katanya sinis.
Morvena mengayunkan tongkatnya, menciptakan pusaran angin gelap yang hampir menghancurkan istana. Arumi, meskipun gemetar ketakutan, memutuskan untuk melindungi para peri. Dengan keberanian yang muncul dari lubuk hatinya, ia memusatkan energi cahaya yang telah diajarkan oleh Lyra.
Cahaya itu begitu terang hingga Morvena harus menutup matanya. Dengan bantuan Lyra dan peri lainnya, Arumi menciptakan perisai cahaya yang melindungi negeri peri dari serangan bayangan Morvena.
Namun, Morvena tidak menyerah begitu saja. Ia menciptakan pasukan bayangan yang menyerbu istana. Arumi sadar bahwa kekuatan Morvena berasal dari kalung hitam di lehernya. Jika ia bisa menghancurkan kalung itu, Morvena akan kehilangan kekuatannya.
Dengan keberanian dan kecerdikan, Arumi mendekati Morvena. Ia berpura-pura menyerah, tetapi saat Morvena lengah, Arumi melompat dan menarik kalung hitam itu. Cahaya terang memenuhi langit saat kalung itu pecah, dan Morvena berteriak sebelum akhirnya menghilang.
Para peri bersorak kegirangan. Negeri mereka kini aman. Ratu Peri memberikan Arumi hadiah: sepasang sayap kecil yang bersinar, sebagai tanda bahwa ia telah menjadi bagian dari dunia peri.
Ketika waktunya tiba bagi Arumi untuk kembali ke dunia manusia, ia merasa sedih harus meninggalkan Altheria. Namun, Ratu Peri berjanji bahwa negeri itu akan selalu ada dalam hatinya, dan ia bisa kembali kapan saja ia membutuhkan kedamaian.
Arumi kembali ke kamarnya, membawa kenangan yang tak akan pernah ia lupakan, serta sayap kecil yang berkilauan di punggungnya, tersembunyi dari pandangan manusia.
~TAMAT~